Buka Kotak Pandora Mafia Migas

Selasa, 22 Oktober 2019

  Follow Us

Selasa, 10 Sep 2019, dibaca : 459 , vandri, net

JAKARTA - KPK menetapkan Managing Director Pertamina Energy Service Pte Ltd (PES) Bambang Irianto sebagai tersangka kasus dugaan suap USD 2,9 juta. Lembaga antirasuah itu
berharap kasus ini menjadi awal membuka kotak pandora praktik mafia migas di Indonesia.
"Semoga perkara ini dapat menjadi kotak Pandora untuk mengungkap skandal mafia migas yang merugikan rakyat Indonesia," kata Wakil Ketua KPK Laode M Syarif di gedung KPK, kemarin.
Syarif mengatakan KPK melakukan penyelidikan kasus ini sejak Juni 2014. Penyelidikan hingga masuk ke tahap penyidikan dilakukan dengan sangat berhati-hati. "Dalam proses penyelidikan, banyak dorongan dan suara yang kami dengar agar KPK terus mengungkap kasus ini. KPK tentu tetap harus melaksanakan tugas secara hati-hati dan cermat dan baru dapat menyampaikan informasi pokok perkara setelah naik ke tahap penyidikan," jelas Syarif.
Wakil Ketua KPK Saut Situmorang mengatakan lamanya penyelidikan kasus ini disebabkan banyaknya dokumen dan pihak terkait. Dia mengatakan KPK menargetkan kasus ini bisa dikembangkan ke pihak lainnya.
"Ngitung kerugian negaranya serta pihak-pihak yang terkait dengan kasus tersebut serta banyaknya kaitan dan dokumen serta locus perkaranya dan lain-lain. Semoga ini bisa dikembangkan ke pihak lain yang harus bertanggung jawab nantinya," papar Saut.
Uang sebesar USD 2,9 juta yang diterima Bambang berasal dari pihak Kernel Oil Pte Ltd. Syarif menyebut uang itu diterima Bambang karena telah membantu Kernel Oil dalam perdagangan minyak mentah dan produk kilang untuk PES.
Namun dalam proses tendernya, ada salah satu rekanan yang diundang yaitu perusahaan Dubai bernama Emirates National Oil Company (ENOC). PES disebutkan KPK seolah-olah bertransaksi dengan ENOC, padahal bukan karena telah diatur Bambang agar PES bertransaksi dengan Kernel Oil.
Bambang pun menerima uang suap dari Kernel Oil atas bantuannya. Suap itu diterima Bambang melalui rekening perusahaan yang sengaja dibuatnya untuk menampung uang haram yaitu Siam Group Holding Ltd. Perusahaan itu berkedudukan hukum di British Virgin Island yang sudah terkenal sebagai salah satu tax haven country.
Untuk diketahui, Bambang diketahui juga menjabat sebagai Direktur Utama Pertamina Energy Trading Ltd (Petral) sebelum diganti pada tahun 2015. Adapun PES yang berkedudukan hukum di Singapura dan Petral di Hong Kong merupakan perusahaan subsidiari PT Pertamina. (dtc/cni/van)  



Loading...