Ciptakan Ciri Khas Batik Malangan

Jumat, 18 Oktober 2019

Senin, 26 Agu 2019, dibaca : 602 , aim, amanda

MALANG – Batik sebagai warisan budaya akan terus dikembangkan di Kota Malang. Bahkan, Wali Kota Malang Sutiaji berharap pada 2021 nantinya, di Kota Malang akan ada sentra pengrajin batik Malangan. Meski saat ini sudah banyak pengrajin batik di Malang dengan berbagai aneka ragam corak khasnya masing-masing.
“Ini tidak hanya bicara Kota Malang, masing-masing pengrajin batik di Malang memiliki ciri khasnya masing-masing. Harapan saya, nantinya akan ada sentra pengrajin batik di Malang,” kata Sutiaji kepada Malang Post, usai membuka Festival Batik Ngalam 2019 di Taman Krida Budaya Jatim (TKBJ), Senin (26/8).
 Sutiaji menjelaskan, selama ini, ia memang memiliki impian untuk menciptakan ciri khas batik Malangan. Nantinya, para Aparatur Sipil Negara (ASN), siswa sekolah, mulai dari SD sampai SMA bisa menggunakan batik tersebut. "Memang, inginnya produksi sendiri, tidak ingin beli dari luar. Saya ingin kita hadir tuan rumah untuk daerah kita sendiri dalam memproduksi batik," ungkapnya.
Dengan tagline 'Dari Malang untuk Indonesia dan dunia', Kota Malang memiliki potensi dalam bidang kreatif, utamanya batik. "Apapun yang dimiliki harus dikuatkan dan dioptimalkan. Salah satunya dengan menggelar event seperti ini, yang menampilkan display karya anak bangsa," terangnya.
Pembukaan Festival Batik Ngalam itu disi juga dengan fashion show batik. Puluhan model berlenggak-lenggok di panggung Festival Batik Ngalam 2019, Senin (26/8). Mereka memeragakan hasil karya batik dari desainer ternama. Selain fashion show, event yang diadakan di Taman Krida Budaya Jawa Timur (TKBJ) itu juga menampilkan bazaar produk batik di Jawa Timur dan workshop.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Malang, Ida Ayu Made Wahyuni mengungkapkan, festival batik tersebut digelar senin dan selasa ini, mulai dari pukul 09.00 hingga 21.00. "Melalui kegiatan ini, kami ingin menggali potensi kain batik Malangan dan daerah lain, sebagai salah satu peninggalan budaya Indonesia," terang dia di sela-sela acara.
Perempuan yang akrab disapa Dayu tersebut menjelaskan, pihaknya akan mempromosikan potensi batik baik dari Kota Malang maupun daerah lain melalui fashion show dan juga bazaar. "Agar lebih dekat dengan masyarakat, kami mengadakan kegiatan ini. Bagaimana potensi kreatif bisa diangkat dan menarik partisipasi dari masyarakat juga," terangnya.
Dalam bazaar tersebut, ada 52 stand yang terdiri dari 21 kelurahan di Kota Malang, diantaranya Kelurahan Lowokwaru, Polowijen, Purwodadi dan lainnya. Sementara, sisanya berasal dari seluruh daerah di Jawa Timur, diantaranya Tuban, Probolinggo, Ngawi dan lainnya. "Nantinya, bazaar tersebut akan kami nilai. Pemenangnya nanti akan mendapatkan uang pembinaan dan trophy," jelas dia.
Melalui kegiatan tersebut, lanjut Dayu, juga digunakan sebagai ajang untuk menggali potensi batik khas Malangan. Sebab, sampai saat ini, masih belum ada motif yang dipatenkan. "Kami terus melakukan pembinaan dan workshop. Bagaimana angkat kearifan lokal dan apa saja corak khas Malangan, mana yang harus diangkat," tambahnya. (tea/aim)



Loading...