CRITICAL THINKING SALAH SATU TUJUAN PENDIDIKAN

Minggu, 31 Mei 2020

  Mengikuti :


CRITICAL THINKING SALAH SATU TUJUAN PENDIDIKAN

Selasa, 17 Des 2019, Dibaca : 1968 Kali

Di Indonesia sudah banyak sekolah yang mengimplementasikan “ Critical Thinking “ pada anak didiknya. Dengan berpikir kritis siswa akan lebih bisa mendapatkan tujuan dari pembelajaran yang telah diberikan di sekolahnya.
Selain di sekolah, di dunia kerjapun sudah marak bahwa seorang pemimpin harus mempunyai sebuah critical thinking dalam berbagai situasi. Di era informasi seperti sekarang dimana perubahan terjadi dengan cepat, kemampuan berpikir kritis menjadi senjata utama untuk meraih kesuksesan di berbagai bidang.
Berpikir kritis adalah tujuan pendidikan yang diterima secara luas. Definisinya diperdebatkan, tetapi definisi yang bersaing dapat dipahami sebagai konsepsi yang berbeda dari konsep dasar yang sama, pemikiran yang cermat di arahkan ke satu tujuan.
Konsepsi berbeda sehubungan dengan ruang lingkup pemikiran seperti itu, jenis tujuan, kriteria dan norma untuk berpikir dengan hati- hati, dan komponen pemikiran menjadi fokus mereka. Dengan berpikir kritis sebagai tujuan pendidikan telah direkomendasikan atas dasar penghargaan terhadap otonomi siswa untuk sukses dalam masa depan yang bersifat demokratis.
Pemikir kritis memiliki kecenderungan dan kemampuan yang membuat mereka berpikir kritis saat yang tepat. Intervensi pendidikan telah ditunjukkan secara eksperimental untuk memperbaikinya, terutama ketika itu mencakup dialog, pengajaran dan bimbigan. Kontraversi telah muncul tentang generalisasi pemikiran kritis lintas domain, dan tentang hubungan pemikiran kritis dengan jenis pemikiran lain.
Pemikiran kritis tidak hanya menggunakan logika tetapi kriteria intelektual yang luas seperti kejelasan, kredibilitas, akurasi, ketepatan, relevansi, kedalaman, luasnya, signifikansi dan keadilan. Pemikiran kritis menuntut kemampuan untuk mengenali masalah dan pertanyaan yang ada.
John Dewey adalah salah satu dari banyak pemimpin pendidikan yang mengakui bahwa kurikulum yang ditujukan untuk membangun ketrampilan berpikir kritis akan bermanfaat bagi pelajar individu, masyarakat dan seluruh demokrasi.
Berpikir kritis penting dalam bidang akademik karena menjadi signifikan dalam pembelajaran. Berpikir kritis sangat penting dalam proses pembelajaran internalisasi, dalam kontruksi ide- ide dasar, prinsip- prinsip dan teori- teori yang melekat dalam konten.
Selain itu, berpikir kritis sangat penting dalam pembelajaran aplikasi, dimana ide- ide, prinsip- prinsip, dan teori- teori tersebut diterapkan secara efektif karena mereka menjadi relevan dalam kehidupan pelajar. Setiap disiplin menyesuaikan  penggunaan konsep dan prinsip pemikiran kritis. Konsep inti selalu ada, tetapi mereka tertanam dalam konten subjek tertentu.
Bagi siswa, untuk mempelajari konten, keterlibatan intelektual sangat penting. Semua siswa harus melakukan pemikiran mereka sendiri, kontruksi pengetahuan mereka sendiri. Guru yang baik menyadari hal ini dan karena itu focus pada pertanyaan, bacaan, kegiatan yang merangsang pikiran unntuk memiliki konsep dan prinsip utama yang mendasari subjek.
Pemikiran kritis meningkatkan ketrampilan bahasa dan presentasi dimana berpikir dengan jelas dan sistematis  dapat meningkatkan  cara kita mengekspresikan ide- ide kita. Dalam mempelajari bagaimana menganalisis struktur logis dari teks, pemikiran kritis juga dapat meningkatkan kemampuan pemahaman. Selain itu juga meningkatkan kreativitas dimana menghasilkan solusi kreatif untuk suatu masalah.
Berpikir kritis memainkan peran penting dalam mengevaluasi ide- ide baru, memilih yang terbaik dan mengubahnya jika perlu.
Berpikir kritis sangat penting untuk refleksi diri dimana untuk menjalani kehidupan yang bermakna dan menyusun kehidupan kita yang sesuai, kita perlu membenarkan dan merefleksikan nilai- nilai dan keputusan kita. Berpikir kritis menyediakan alat untuk proses evaluasi diri ini. Pemikiran kritis yang baik adalah dasar dari sains dan demokrasi dimana ilmu pengetahuan menuntut penggunaan alasan secara kritis dalam eksperimen konfirmasi teori.
Bagaimana cara kita mengembangkan ketrampilan berpikir kritis? Langkah pertama yang paling penting untuk mengembangkan ketrampilan berpikir kritis  adalah menjadi kritik atas pemikiran dan tindakan diri kita sendiri. Tanpa refleksi diri, tidak akan ada pertumbuhan.
Langkah kedua adalah kita harus dapat mendengarkan ide, argumen dan kritik orang lain tanpa memikirkan tanggapan atau reaksi kita saat mereka berbicara. Langkah ketiga menganalisis informasi sangat penting untuk pemikiran kritis.
Untuk mencapai kesuksesan, kita perlu menganalisis informasi sebelum kita, apakah itu informasi dalam pikiran kita atau dibagikan oleh orang lain. Kita dapat memecahnya dengan menilai apa yang dikatakan, dan memastikan kita memahami dengan jelas apa yang terjadi. Kemudian kita dapat membedah dan menilai semua argumen, termasuk argumen kita sendiri, dan berpikir tentang bagaimana keputusan akan berdampak pada orang lain.
Langkah keempat adalah berpikir kritis tidak akan banyak membantu jika kita tidak dapat berkomunikasi dengan cara yang non kekerasan dan produktif. Saat mendengarkan dan menganalisis berbagai argumen, kita perlu mengenali dengan logika yang valid.
Maka kita harus dapat berkomunikasi dengan orang lain dengan cara yang produktif dasar dari komunikasi non kekerasan adalah belas kasih, observasi dan kolaborasi. Ketika kita menggunakan komunikasi dengan belas kasih, kita sudah berada dalam pola piker yang damai.
Langkah terakhir adalah mengembangkan pandangan jauh ke depan yang artinya kita mampu memprediksi dampak keputusan di masa depan. Foresight adalah komponen terpenting dalam kesuksesan dalam semua aspek kehidupan kita. Berpikir kritis membutuhkan kemampuan untuk merefleksikan keyakinannya sendiri, serta gagasan orang lain, dan kemudian melihat hubungan antara hal- hal itu.
Dibutuhkan kemampuan secara aktif untuk mendengarkan orang lain, untuk menilai, membedah menilai argument dan untuk memisahkan emosi yang kuat dari topic yang dihadapi. Jadi, pemikir kritis dapat digunakan ketika membaca karya orang lain atau mendengarkan ide orang lain, atau sama pentingnya untuk menerapkan ketrampilan tugas akademik sendiri. (*)

Oleh: Nufrida Desi, S.Pd
Guru TK Islam Sabilillah Malang

Editor : Redaksi
Penulis : mp