MalangPost - Data Belum Sinkron, Bapenda Cermati Pajak Transaksi Online

Minggu, 09 Agustus 2020

  Mengikuti :

Data Belum Sinkron, Bapenda Cermati Pajak Transaksi Online

Selasa, 30 Jun 2020, Dibaca : 3573 Kali

MALANG - Transisi menuju Normal Baru, menghadirkan tantangan tersendiri bagi Badan Pendapatan Daerah (Bapenda). Berangsur pulihnya roda perekonomian, membuat denyut bisnis di sejumlah sektor kembali hidup. Pun demikian dengan optimalisasi pendapatan dari sektor pajak daerah, harus tetap berjalan guna menunjang pembangunan daerah yang lesu dihajar gelombang pandemi.

 

Salah satu lini yang menjadi perhatian Bapenda saat ini adalah transaksi online, seperti terjadi di sektor kuliner, perhotelan dan periklanan. Di masa pandemi, umumnya masyarakat begitu memanfaatkan kemudahan transaksi via aplikasi online yang pilihannya juga semakin banyak.

Walikota Malang, Drs H Sutiaji bahkan sempat mengeluarkan surat edaran (SE) saat pandemi Covid-19 yang mengutamakan pelayanan resto, cafe dan rumah makan melalui sistem take away. Sehingga dari hasil sidak serta pemantauan di lapangan diperoleh bukti-bukti tentang makin meningkatnya omzet transaksi online pada sektor usaha terkait.

‘’Kondisi ini semakin membiasakan masyarakat kita dengan jasa aplikasi online atau digital. Mau pesan makanan tinggal order, mau booking hotel tinggal reservasi dari aplikasi, begitu juga mau pasang reklame bisa via online. Pengelola usaha kuliner seperti resto, cafe serta manajemen hotel dan pengusaha reklame harus menyadari bahwa mereka tetap menghimpun pajak dari customer,’’ ungkap Kepala Bapenda Kota Malang, Ir Ade Herawanto MT.

 

Kesadaran inilah yang coba ditekankan kembali oleh Bapenda, mengingat masa keringanan atas berbagai insentif pajak di masa pandemi Covid-19 segera berakhir.

‘’Hal ini sesuai instruksi Bapak Walikota dan arahan Komisi B DPRD tentang transaksi online. Sinkronisasi data diperlukan karena pajak yang mereka himpun adalah dari customer,’’ lanjut Sam Ade d’Kross, sapaan akrabnya.

“Menjadi tantangan baru, karena selain menguji self assesment Wajib Pajak juga diperlukan klarifikasi data dengan penyedia jasa aplikasi bersangkutan. Agar semuanya sinkron,” sambung Kepala Bapenda.

 

Karena itulah, selain sosialisasi kebijakan kepada masyarakat, khususnya Wajib Pajak dan pengelola usaha, pihak Bapenda juga berupaya mengoptimalkan sinkronisasi data dengan pihak penyedia jasa aplikasi online seperti Go Food. Undangan untuk audiensi sinkronisasi data transaksi online pun sudah dilayangkan sampai tiga kali ke kantor industri start up digital yang berkantor di kawasan Martadinata tersebut.

Sayangnya, pihak operator bersangkutan tidak juga hadir. Mereka berkelit keberatan memenuhi permintaan Bapenda. Dalam surat jawaban yang dikirimkan kepada Bapenda, Gojek (pemilik lini layanan Go Food) berkilah tidak memiliki otoritas dan hak untuk memberikan data yang diharapkan Bapenda untuk sikronisasi.

"Undangan sudah tiga kali, tapi sampai sekarang tidak ada yang hadir memenuhi udangan kami. Karena pertimbangan faktor psikologis masyarakat di masa pandemi Covid-19, maka kami hanya bisa menghimbau supaya mereka bisa bekerjasama dengan petugas pajak secara baik," beber Sam Ade.

Pria yang juga dikenal sebagai tokoh Aremania ini menambahkan, jika perlu  kerjasama atau sinkronisasi dilegalkan melalui perjanjian kerjasama dan MoU.

"Karena ini semua juga demi kepentingan masyarakat Bhumi Arema, bukan untuk kepentingan Pemkot Malang saja," tandas Sam Ade yang juga dikenal sebagai tokoh pemuda & olahraga tingkat nasional.

 

Sementara itu, hal ini mendapat perhatian langsung dari anggota Komisi B DPRD Kota Malang, yang juga ekonom dari Universitas Gajayana Malang, Dr. Jose Rizal Joesoef, SE, MSi.

Jose turut menyayangkan, mengapa pihak Gojek takut memberikan data bersangkutan kepada Bapenda.

"Padahal data tersebut bukan data para customer, melainkan data mitra mereka yang bergerak di Go Food. Fungsinya penting bagi Pemkot Malang," ujarnya ketika dikonfirmasi Malang Post.

 

Menurutnya, pertama data-data tersebut penting guna disinkronkan dengan data resto di Bapenda. Lalu kedua, data transaksi Go Food bisa menjadi parameter kesejahteraan warga Kota Malang.

"Bisa dilihat apa daya beli masyarakat masih tinggi di masa pandemi ini, atau justru berkurang drastis. Paling tidak, kajian itu penting bagi pemangku kebijakan," urai pria yang juga dosen ekonomi ini. (adv/boy)

Editor : Boy
Penulis : Redaksi