Dongkrak Penjualan SKT Beri Pelatihan GMP//

Jumat, 18 Oktober 2019

Senin, 26 Agu 2019, dibaca : 332 , Muhaimin, Amanda

MALANG - Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Timur mengajak sekitar 50 pengusaha pabrik rokok mengikuti pelatihan penerapan Good Manufacturing Practices (GMP), Senin (27/8) kemarin. Bertempat di Gedung Bakorwil Kota Malang, para pengusaha diberi pelatihan tambahan untuk meningkatkan skill dalam Industri Hasil Tembakau (IHT).
Ada beberapa materi yang diberikan, seperti potensi, perkembangan dan permasalahan pada IHT di wilayah Kota dan Kabupaten Malang. Pedoman GMP yang meliputi aspek, lkasi, sarana dan rancang bangun, fasilitasi dan program sanitasi, mesin dan peralatan, standar panen dan pasca tembakau dan lainnya.
Kepala Bidang Agro, Kimia, Makanan dan Minuman Dinas Perindustrian Kota Malang, Prayitno mengungkapkan, jumlah industri rokok di Kota Malang selama 10 tahun terakhir terus berkurang. Awalnya berjumlah sekitar 350 pabrik, saat ini hanya tinggal 26 pabrik yang masih eksis.
 “Sekarang, banyak pabrik rokok menggunakan Sigaret Kretek Mesin (SKM). Sebab, dinilai lebih ekonomis dan mampu menghasilkan ribuan batang rokok per hari,” terang dia ketika ditemui Malang Post.
Dalam kesempatan tersebut, pihaknya juga mendengarkan keluh kesah para pengusaha rokok yang saat ini sedang melakukan upaya peningkatan penjualan. “Untuk itu, kami memberikan pelatihan khusus, utamanya pada bagian teknis bagaimana cara produksi yang bagus,” terangnya.
Staff Bidang Industri Agro dan Kimia Disperindag Jawa Timur, Taufik Hidayat menerangkan, pelatihan tersebut dilakukan untuk mendongkrak penjualan SKT agar kembali seperti semula. “Sebab, kalau dibiarkan, banyak pabrik yang tutup dan pengangguran ada dimana-mana,” jelas dia.
Selain memberikan pelatihan untuk meningkatkan produksi, pihaknya juga memberikan edukasi bahwa Industri Hasil Tembakau (IHT) tidak hanya berkutat pada rokok saja. Namun, bisa juga menghasilkan olahan lain, seperi parfum, pengobatan dan lainnya.
“Secara keseluruhan, di wilayah Jawa Timur, industri rokok terus menurun. Untuk itu, pembinaan menjadi salah satu solusi agar pengusaha bisa berkreasi,” terang dia.
Selain memberikan pelatihan dan pembinaan, pihak Disperindag Provinsi Jawa Timur juga melakukan verifikasi registrasi terhadap mesin lintingan rokok. “Setiap lima tahun sekali, kami lakukan verifikasi. Apakah masih berfungsi atau tidak. Hal ini juga kami lakukan untuk mengetahui produksi rokok di Jawa Timur dan mencegah peredaran rokok ilegal,” tandas dia.(tea/red/aim)



Loading...