Dongkrak Produksi, PT Kebon Agung Siapkan Varietas Baru

Selasa, 22 Oktober 2019

  Follow Us

Kamis, 26 Sep 2019, dibaca : 264 , udi, ira

MALANG - Pabrik Gula Kebon Agung memastikan adanya penurunan produksi gula di tahun 2019. Penurunan itu mencapai 20 persen. Hal ini disampaikan Kabag Tanaman, Pabrik Gula PT Kebon Agung, Sukirno.
Ditemui di ruang kerjanya Selasa (24/9) lalu, Sukirno didampingi Kabag Keuangan, Hari Santoso, Kepala Seksi Personalia Umum, Nova P Gunawan, dan Kepala Sub Seksi Personalia, Trisnawati Wulandari, mengatakan penurunan produksi gula yang terjadi saat ini faktor utamanya diakibatkan cuaca atau iklim. "Kemarau yang panjang dan sama sekali tidak ada hujan yang membuat produksi tebu petani menurun. Menurunnya produksi tebu itu berdampak pada produksi gula kami,’’ katanya.
Sukirno menyebutkan, pada 2018 lalu, produksi tebu petani rata-rata 800 kuintal per hektare. Sedangkan 2019 ini, produksi tebu petani,  640 kuintal per hektare. "Karena tidak ada hujan sama sekali, tanaman tebu mengering. Sehingga hasilnya tidak maksimal. Berbeda saat musim kemarau, tapi ada hujan," ungkapnya.
Dia menyebutkan, tahun ini kemarau sangat panjang, dan tidak ada hujan yang mengguyur. "Berbeda dengan tahun 2016 lalu. Meskipun musim kemaraunya panjang, tapi masih ada hujan.  Sehingga produksi tanaman tebu mengalami peningkatan yang sangat signifikan,’’ ungkapnya.
Dia sendiri tidak mau menyalahkan petani, karena faktor penurunan utamanya adalah cuaca. "Kan itu tidak bisa dilawan. Siapa yang bisa melawan. Satu-satunya yang kami lakukan adalah mendekati para petani, agar mereka tidak putus asa menanam tebu. Karena takutnya petani marah dan putus ada, sehingga menjual lahan tebunya kepada orang lain, dan lahan tebu itu kemudian dialih fungsikan," ujarnya.
Sukirno tidak menjelaskan berapa target pabrik gula PT  Kebon Agung. Yang jelas, adanya penurunan ini, pihaknya akan terus berusaha memperbaiki kualitas gula, dan tidak mau diam dengan kondisi ini. Pihaknya juga banyak melakukan inovasi. Salah satunya dengan menyiapkan varietas baru tanaman tebu. Varitas baru tebu tersebut masih berada di Balai Penelitian (Batan) di daerah Sempal Wadak. Varietas baru itu merupakan hasil rekayasa genetika. "Kami sudah sekian tahun melakukan penelitian untuk varietas baru ini. Penelitiannya bekerjasama dengan intansi lain," tambahnya.
Sukirno tidak banyak menceritakan tentang varietas baru tanaman tebu tersebut. "Nanti kalau sudah ditetapkan baru dilaunching. Tapi untuk sekarang, kami masih menunggu lah," ungkapnya.
Terkait dengan pabrik gula PT Kebon Agung, Sukirno mengatakan jika pabrik ini berdiri sejak tahun 1905. Selama ini terus melakukan inovasi, dengan tujuan produksi tebu meningkat, dan berdampak pada produksi gula juga meningkat. "Ini salah satu pabrik peninggalan masa Belanda. Kami terus berbenah untuk mendapatkan hasil yang maksimal, targetnya sesuai yang kami inginkan," pungkasnya. (ira/udi)



Loading...