Mahasiswa Turun ke Jalan, Dosen Beri Dukungan Longgarkan Jam Kuliah

Selasa, 22 Oktober 2019

  Follow Us

Selasa, 24 Sep 2019, dibaca : 993 , bagus, asa

MALANG - Seruan aksi menolak sejumlah RUU sudah mereka umumkan melalui akun media sosial sejak Minggu (22/9). Asyiknya, aksi para mahasiswa ini juga mendapat dukungan dari dosen dengan memberi kelonggaran jam kuliah.
Memang aksi para mahasiswa sempat menuai pro kontra, bahkan sejumlah kampus mewanti-wanti mahasiswanya agar tak terlibat dengan wacana aksi tersebut. Namun menariknya, ada juga dosen yang justru memberikan dukungan kepada para mahasiswanya untuk terlibat pada aksi protes tersebut.
Salah satunya ialah Dekan Fakultas Hukum Universitas Widyagama (UWG), Purnawan D. Negara. Menurutnya, seluruh civitas akademika UWG mulanya menunggu keputusan dari Rektor. Namun kemudian Rektor memberikan keputusan, bahwa kuliah tidak diliburkan.
"Rektor menegaskan tidak ada libur kuliah, lalu menyerahkan pada dosen dan situasi alamiah dari dinamika sosial yang terjadi," tegasnya ketika dihubungi oleh Malang Post.
Berdasar pada keputusan Rektor tersebut, kemudian sejumlah dosen juga menyerahkan keputusan kepada para mahasiswa. Meskipun kegiatan perkuliahan tetap dilaksanakan secara normal.
"Saya sempat komentar di grup dosen UWG tidak perlu ada libur kuliah bagi mahasiswa, mengalir saja secara alami, biarkan mahasiswa mengikuti ritme dinamika sosial masyarakat indonesia yg sedang terjadi saat ini," pungkasnya.
Menurut pria yang akrab disapa Pak Pur ini, mahasiswa sudah mampu menentukan mana yang baik untuk dilakukan. Kalau memang mereka memilih untuk terlibat dengan aksi, maka dosen bisa secara luwes dapat menggantinya dengan project e-learning. Agar proses pembelajaran dapat tetap berlangsung. Mengingat sistem pembelajaran saat ini juga sangat mendukung mahasiswa untuk lebih terjun ke bagian aplikatif, ketimbang sekadar teori.
"Biarkan saja mahasiswa berkembang memperoleh pengalaman batiniahnya lewat pembelaan-pembelaan kepada masyarakat,” tegasnya.
Menurutnya, dosen tak perlu kaku, situasinya bisa dibaca bila kelas penuh ya kuliah, bila kelas kosong atau sedikit, berarti mahasiswa turun jalan untuk aksi. Kata dia, dosen cukup menggantinya dengan e-learning.
“Kuliah sekarang tak dibatasi dinding-dinding tembok dan tatap muka langsung, bisa lewat online bila dihadapkan pada situasi seperti itu," tegasnya.
Bahkan ia memberikan apresiasi kepada para mahasiswa yang memutuskan terlibat aksi protes terhadap putusan DPR yang dinilai tak berpihak pada rakyat. Disebutkannya, sepulangnya mengikuti aksi, mahasiswa Fakultas Hukum UWG ditraktir oleh Fakultas makan bakso di kampus.
"Kalau di kampus UWG mahasiswa FH-UWG yang pulang aksi ditraktir Fakultas dengan bakso Pak Sony, bakso kondang di kalangan mahasiswa UWG. Tapi saya juga berpesan kepada mahasiswa, nek wani ojo wedi-wedi, nek wedi ojo wani-wani, silahkan mahasiswa menilai perlu aksi atau tidak sesuai hati nurani, bila turun aksi lakukan dengan santun, beradab, bermartabat, dan terkoordinasi, jangan sekedar nyanyi darah juang dan pekikkan sumpah mahasiswa hanya di halaman kampus," paparnya.
Selain itu, terdapat satu lagi dosen UWG  lainnya yang melakukan hal serupa kepada para mahasiswanya. Yakni Ana Sopanah, dosen jurusan Akuntansi yang memilih untuk mendukung para mahasiswa terlibat dalam aksi protes. Menurutnya mahasiswa merupakan agen perubahan, yang harus turut andil jika kebijakan pemerintah dirasa tidak sesuai atau tidak berpihak kepada rakyat.
"Saya seharusnya ngajar jam 12 siang, tapi mahasiswanya ikut demo, ya tidak apa-apa. Mereka harus ikut demo jika ada kebijakan yang tidak sesuai. Apalagi ini terkait dengan isu sekarang yakni RUU KPK. Saya setuju mahasiswa harus ikut mengawasi dan menjadi bagian penting. Bagaimana anggota DPRD yang ujung-ujungnya mau melemahkan KPK," tutupnya.(asa/ary)



Loading...