Malang Raya Butuh TPA Terpadu

Selasa, 22 Oktober 2019

  Follow Us

Sabtu, 21 Sep 2019, dibaca : 903 , bagus, sisca

MALANG - Masalah sampah di Malang Raya menjadi hal penting untuk dipecahkan bersama-sama. Malang Raya butuh Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Terpadu. Hal ini dilontarkan Wali Kota Malang. Menurutnya permasalahan sampah di Kota Malang juga menjadi permasalahan bersama. Permasalahan Kabupaten Malang juga Kota Batu.
Mengapa demikian? Sutiaji menjelaskan jika Malang Raya memiliki masalah yang sama terkait volume sampah. Yang diyakininya dialami juga dengan Kabupaten Malang dan Kota Batu yakni tempat penampungan yang terbatas.
Di Kota Malang saja, sekitar 600 ton sampah yang ditampung setiap hari di TPA Supit Urang. TPA seluas 32 hektar are sudah mulai mendebarkan kondisinya. Karena luasan TPA Supit Urang semakin terbatas. Ide membuat sebuah TPA terpadu menjadi salah satu yang diusulkan.
“Usulan ini sudah saya ajukan saat rakor kepala daerah di provinsi belum lama ini. Dan juga sudah kita bahas dengan Kabupaten Malang. Ini sebenarnya mendapat apresiasi dari provinsi untuk terus dikaji,” jelas Sutiaji.
Alasan Sutiaji membawa ini ke forum provinsi adalah karena Malang Raya membutuhkan fasilitasi dari Pemerintah Provinsi untuk mewujudkannya. Pasalnya Malang Raya membutuhkan TPA terpadu tersebut untuk direalisasikan.
Wali kota kelahiran Lamongan ini meneruskan sampah menjadi masalah karena selain keterbatasan tempat, masyarakatnya pun juga masih perlu dibina terus. Tidak hanya kota, tetapi masyrakat seluruh Malang Raya.
“Maka itu harus ada kerjasama dan juga harus ada fasilitasi dari pemprov. Saya waktu itu meminta saja difasilitasi untuk Penlok (penentuan lokasi,red). Di kota memang ada tanah tetapi ternyata RTRW nya bukan ditentukan sebagai penampungan sampah,” jelasnya.
Maka dari itu lokasinya diharapkan dapat ditentukan di kawasan Kabupaten Malang yang notabene lebih luas daripada Kota Malang atau Kota Batu.
Meski begitu hal ini masih akan dibahas lebih lanjut dan kembali memerlukan tiga kepala daerah membahas lebih lanjut lagi walaupun selama tiga kali melakukan pertemuan TPA terpadu terus dibahas. Lantas bagaimana kondisi TPA Supit Urang saat ini sehingga Sutiaji khawatir dengan keterbatasan tempat penampungan sampah?
Ia pun mengakui kondisi TPA Supit Urang sudah tidak lagi memungkinkan. Volume sampah yang masuk tiap hari tidak berkurang maka TPA ini tidak lama lagi akan over capacity.
“Sudah tidak mungkin lagi bahkan untuk perluasan lahan sudah ga ada tempat,” tegas Sutiaji.
Meski begitu, Sutiaji sudah memikirkan opsi lain. Yakni menerima penawaran bantuan teknologi dari Belanda. Ia menceritakan belum lama ini Kementerian Maritim RI menginformasikan adanya penawaran teknologi mengatasi sampah Kota Malang.
Dikatakannya, Kota Malang hendak dijadikan Pilot Project pengolahan sampah dengan teknologi tersebut.
“Jadi ada tawaran dari Belanda. Dia punya semacam teknologi pengurangan volume sampah menggunakan bakteri pengurai sampah,” jelas Sutiaji.
Teknologi tersebut akan membuat penguraian sampah lebih cepat. Bahkan sampah plastik juga dapat terurai dengan cepat dengan menggunakan teknologi tersebut.
Hal ini menjadi kesempatan yang tidak akan dilewatkan bagi Kota Malang. Akan tetapi ada beberapa hal yang mesti dikaji dulu karena untuk bisa mendapatkan program ini daerah yang melaksanakannya harus membayarkan fee penggunaan teknologi.
Hanya saja dikatakan Sutiaji dalam hal tersebut Bappenas menawarkan lagi untuk mendanai biaya penggunaan sebesar 59 persen.
“Sisanya ditanggung pemerintah kota. Kita akan lihat lagi karena untuk penganggaran pastinya harus lewat persetujuan DPRD,” tegas Sutiaji.
Terpisah, Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang Ir. Dyah Ayu Kusumadewi juga menjelaskan rata-rata sampah yang dihasilkan satu Kota Malang tiap harinya sekitar 600 ton.
“Itu rata-rata jumlah yang masuk tiap hari ke TPA Supit Urang. Dan sekarang lahannya Supit Urang sudah semakin terbatas,” papar Dyah.
Itulah mengapa pihaknya kian gencar mengebut penyelesaian proyek pengelolaan sampah yang sudah ada yakni Sanitary Landfill.
Saat ini, ia melanjutkan, proyek yang diinisiasi oleh Kementerian PU tersebut masih dalam proses. Rencananya, bakal terselesaikan di akhir 2019 ini.
"Ini salah satu solusinya, Agustus 2018 lalu sudah dimulai pengerjaannya, nanti ditargetkan akhir tahun 2019 antara bulan November atau Desember selesai. Yang pasti, operasionalnya di awal tahun 2020 nanti,” tegas perempuan yang juga menjabat sebagai asistem pemerintahan ini.
Ia menjelaskan proyek senilai Rp 195 Miliar dari kerjasama pemerintah Indonesia dengan negara Jerman. Di mana melalui hibah tersebut, Pemkot Malang sebagai pengelolanya. Maka dari itu ke depan, pengelolaan Sanitary Landfill akan benar-benar digunakan maksimal.
Meski begitu dikatakannya, Sanitary Landfill tersebut mampu menampung kapasitas sampah Kota Malang  hingga 6 - 7 tahun ke depan saja.
“Kalau pakai sanitary landfill ini sampah yang masuk setiap harinya tidak ditumpuk menggunung saja. Akan tetapi ditumpuk dengan tanah,” tandasnya.
Dengan ini, risiko seperti bau sampah, polusi udara sampai kebakaran akan berkurang. Karena sampah ditutup dengan tanah.
Volume sampah pun sebenarnya juga ditargetkan berkurang sebanyak 30 persen hingga lima tahun ke depan. Seperti yang diungkapkan Plt Kepala Bagian SDA dan Pengembangan Infrastruktur Sekretariat Daerah Kota Malang Drs. R. Widjaja Saleh Putra belum lama ini.
Hal ini ditegaskan mengingat volume sampah yang semakin meningkat juga problem lain yang mengikuti ketika sampah tidak dikelola dengan baik dengan berbagai cara yang bisa dilakukan.
 “Target kita mengurangi sampah hingga 30 persen sampai Tahun 2025 nanti. Ini bukan hanya masalah pengurangan volume atau teknis kelola sampah saja tetapi bagaimana membangun pola psikis masyarakat agar sadar lingkungan,” pungkasnya.(ica/ary)



Loading...