Penerima Turun, Sedekah Bumi Bagikan 32 Ton Sembako

Jumat, 18 Oktober 2019

Kamis, 29 Agu 2019, dibaca : 281 , aim, amanda

MALANG - Sebanyak 32 ton sembako dibagikan kepada warga Malang Raya dalam kegiatan Sedekah Bumi di Klenteng Eng An Kiong, Rabu (28/8). Tradisi tahunan tersebut dilakukan sebagai bentuk rasa syukur terhadap hasil bumi yang kemudian dibagikan kepada masyarakat untuk mengatasi permasalahan sosial.
Sejak pagi, ribuan masyarakat sudah memenuhi halaman klenteng. Mereka mengantre untuk menerima bingkisan yang sudah disiapkan, yakni sembako yang terdiri dari beras, mie, kecap dan lainnya.  Humas Klenteng Eng An Kiong, Bunsu Anton Triyono mengungkapkan, setiap tahunnya, masyarakat yang berpartisipasi dalan Sedekah Bumi jumlahnya terus berkurang.
"Kalau tahun lalu, jumlahnya ada 3 ribu orang. Namun, tahun ini jumlahnya berkurang. Artinya, pemerintah berhasil mengentaskan kemiskinan," terang dia kepada Malang Post.
Anton menguraikan, pihaknya tidak membatasi siapapun untuk menerima sembako, mulai dari masyarakat Malang Raya, Tuban dan daerah lainnya. "Kami tidak melakukan pendataan juga. Siapa saja boleh bergabung disini dan mendapat sembako," kata dia.
Setelah seluruh sembako dibagikan, mereka akan membakar patung buto setinggi sekitar 5 meter. Patung tersebut sebagai simbolik kejahatan dan sesuatu yang bersifat negatif. "Hal negatif itu akan dibelenggu ke dalam raksasa, agar tidak mengganggu acara. Selesai acara langsung dibakar di halaman klenteng," tambah dia.
Sementara itu, Wali Kota Malang, Sutiaji yang hadir dalam acara tersebut mengucapkan terima kasih dan memberikan apresiasi kepada Klenteng Eng An Kiong yang menyelenggarakan kegiatan tersebut. "Ini sebagai bentuk kepedulian Klenteng Eng An Kiong yang sudah menjadi tradisi selama bertahun-tahun, " terang dia.
Selain itu, kegiatan tersebut juga dinilai mampu membantu pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan. Saat ini, indeks gini ratio di Kota Malang masih tinggi. "Tingkat pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat cenderung meningkat. Angkanya memang masih tinggi, sebab pertumbuhan ekonomi makro tidak diimbangi dengan pertumbuhan ekonomi mikro," jelas dia.
Terpisah, salah satu penerima sembako, Pipit Sri Rahayu mengaku mengantre sejak pukul 06.00 pagi. Saat itu, perempuan asal Pisang Candi itu mengajak dua orang anaknya. "Awalnya saya tahu informasi sedekah bumi dari tetangga. Sejak saat itu, saya selalu kesini setiap tahun," jelas dia.
Menurutnya, kegiatan tersebut sangat bermanfaaat, utamanya bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan sembako. "Bermanfaat sekali, apalagi untuk rakyat kecil. Isi bingkisannya berupa bahan makanan yang bisa dimasak dan dinikmati bersama keluarga," tandas dia.(tea/aim)



Loading...