Sita 1.280 Botol Miras, Tetapkan 17 Tersangka

Selasa, 22 Oktober 2019

  Follow Us

Kamis, 19 Sep 2019, dibaca : 555 , halim, fino

HASIL RAZIA: Kapolres Makota AKBP Dony Alexander, Ketua DPRD Kota Malang I Made Rian Diana Kartika dan Wali Kota Malang Sutiaji saat merilis miras ilegal.


Paska Insiden Maut Simpang Candi Panggung 

MALANG – Polres Malang Kota merilis hasil razia minuman keras ilegal di lima wilayah hukum Malang Kota. Kamis sore, Kapolres Makota AKBP Dony Alexander bersama Ketua DPRD Kota Malang I Made Rian Diana Kartika dan Wali Kota Malang Sutiaji menggelar 1.280 botol miras berbagai merek dan ukuran.
“Hasil keterangan saksi korban, membeli di Jalan Simpang LA Sucipto Grand Sulfat Blimbing Kota Malang. Kami temukan arak tutup botol kuning, disembunyikan di dalam lemari. Mengelabui petugas yang melakukan penggeledahan. Kami mengamankan 500-an botol,” ujar Dony di Polres Makota Jalan Jaksa Agung Suprapto, Kamis sore.
Menurut pria berjuluk polisi super itu, pengungkapan ratusan botol miras tanpa merek, dengan kadar alkohol yang tidak jelas takarannya ini, diawali dari kesaksian korban. Setelah kondisi saksi membaik, korban mengaku membeli miras ilegal dari lokasi tersebut. Sehingga Polres Makota langsung melakukan penggerebekan.
Jumlah ini, ditambah dengan beberapa hasil operasi yang digelar oleh jajaran polsek dan satuan Polres Makota. Hasil operasi dari dari Polsek Lowokwaru, ada 267 botol miras yang diamankan. Lalu, ada 102 botol miras disita dari operasi Polsek Blimbing. Polsek Sukun, merazia 51 botol miras.
Polsek Kedungkandang, mengamankan 26 botol minuman keras. Polsek Klojen, menyita 21 botol miras dari toko-toko. Sementara, Satsabhara dan Satresnarkoba Polres Makota, merazia lebih dari 100 botol. Ada beberapa merek miras yang diamankan oleh Polres Malang Kota paska insiden Jalan Simpang Candi Panggung dengan 4 korban meninggal dan 8 dirawat intensif.
Yaitu, arak jawa ukuran 1,5 liter, arak jawa ukuran 600 mililiter, anggur merah, anggur kolesom, anggur putih, alimi, donald anggur merah, topi miring, McDonald, Newport, Asoka, Tomy Stanley, Vodka hingga bir.  “Operasi ini dilakukan di 14 toko di wilayah Kota Malang, dan 17 orang menjadi tersangka,” tambah Dony.
Para tersangka, dikenai Perda nomor 5 tahun 2006 Kota Malang, dengan ancaman denda tipiring, serta satu tahun pidana penjara. Meski demikian, penyelidikan tetap dilakukan. Terutama untuk melacak keberadaan pabrik atau produsen miras ilegal yang menyuplai barang ke toko-toko tersebut.
“Kalau perlu, kami akan berkoordinasi dengan kepolisian Malang Raya, demi mengejar keberadaan pabrik, andai penyelidikan menunjukkan info bahwa pabrik miras ilegal ini ada di luar Kota Malang,” ujarnya. Selain menegakkan hukum represif, Dony juga mendorong perbaikan regulasi daerah soal miras ilegal.
Dia meminta Pemkot Malang dan DPRD Kota Malang untuk membentuk regulasi yang bisa menjerat para pengedar miras ilegal yang membahayakan ini. “Dorongan saya adalah agar ada peraturan yang bisa dikaitkan dengan UU Kesehatan, yang nantinya bisa memberi efek jera bagi para pengedar miras ilegal,” ujar Dony.
Hal ini diamini oleh Ketua DPRD Kota Malang I Made Rian Diana Kartika, yang ikut dalam rilis. Menurut Made, pihak DPRD akan membentuk panitia khusus yang memperbaiki regulasi perda minol. Terutama, membangun keterkaitan antara perda minol dengan UU Kesehatan sehingga pengedar miras ilegal bisa dipidana berat.
“Kami siap bikin pansus untuk memperbaiki aturannya. Oktober akan dibentuk. Sehingga perda minol yang sekarang akan dikaitkan dengan UU Kesehatan. Tujuannya adalah untuk memberantas miras ilegal dan memberi efek jera, tidak sekadar ditipiring,” sambung politisi PDIP tersebut.
Wali Kota Malang Sutiaji juga siap mendukung rencana perubahan perda minol. Dia mengapresiasi Polres Makota yang berhasil mengungkap peredaran miras ilegal. “Ini menjadi pertanda, bahwa Kota Malang sudah saatnya memberantas miras ilegal,” tutupnya.(fin/lim)
 



Selasa, 22 Okt 2019

Sumberbrantas Seperti Desa Mati

Loading...