Sumberbrantas Seperti Desa Mati | Malang Post

Selasa, 12 November 2019 Malang Post

  Follow Us


Selasa, 22 Okt 2019, dibaca : 1329 , bagus, kris

BATU - Desa Sumberbrantas Kecamatan Bumiaji Kota Batu masih seperti desa mati sehari pasca bencana, Senin (21/10). Listrik sudah menyala, namun ibu-ibu, anak-anak dan lansia masih bertahan di Pos Pengungsian. Aparat dan warga pria bahu membahu menjaga desa tersebut di malam hari usai bencana angin kencang.
Ya, kondisi malam hari kawasan terdampak bencana di Sumberbrantas Bumiaji Kota Batu, masih siaga dan waspada. Kades Sumberbrantas, Juadi mengungkapkan, sampai saat ini tidak ada kendaraan dari luar kota yang diperbolehkan melintasi jalur Pacet-Batu, karena memasuki wilayah Desa Sumberbrantas yang sedang kosong.
“Jalur tersebut masih ditutup, karena masih rawan keamanan di desa. Listrik sudah menyala, tapi kehidupan belum kembali normal. Para ibu, anak-anak dan lansia, masih berada di pengungsian. Sementara, anak muda, karang taruna dan pria dewasa, turun di desa untuk jaga,” urai Juadi kepada Malang Post, Senin malam.

   Baca Juga : Badai Terjang Kota Batu, 1 Meninggal 1216 Warga Tiga Desa Mengungsi


Masyarakat Sumberbrantas, bersama TNI-Polri serta ormas, berjaga dengan menggelar ronda keliling di sekitar wilayah dusun masing-masing. Juari menegaskan, penutupan jalur yang melewati desa Sumberbrantas, untuk mencegah adanya tindak pidana dan oknum yang ingin mencari kesempatan dalam kesusahan orang lain.
“Kami melakukan jaga malam ini sejak hari H bencana. Saat hari H, kondisi masih gelap. Sekarang listrik sudah menyala, sehingga tugas jaga kami bisa ikut terbantu,” tandas Juadi. Dia menambahkan, tugas jaga ini akan terus berlanjut sampai status bencana diangkat dari kawasan Sumberbrantas.
Pengangkatan status tersebut, akan muncul seiring dengan semakin kondusifnya cuaca, serta turunnya hujan. Menurut Juadi, saat ini kondisi kawasan Sumberbrantas sudah cukup aman. Tidak ada lagi angin kencang yang sempat membikin teror terhadap ribuan warganya di Sumberbrantas.
“Kondisi terkini di Sumberbrantas malam hari sudah cukup aman, dan kondusif. Cuaca normal, tidak ada angin kencang lagi,” tutupnya.

   Baca Juga : Malang Post Salurkan Bantuan Pengungsi Sumberbrantas
Sementara itu, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mendesak Pemkot Batu untuk memastikan tiga layanan dasar terpenuhi. Yakni layanan kesehatan, layanan pendidikan dan layanan keagamaan bagi masyarakat yang menjadi pengungsi bencana badai Sumberbrantas. Sebab, banyak pengungsi badai Sumberbrantas yang masih bertahan di empat posko pengungsian Kota Batu.
Sebanyak 891 orang terdata oleh BPBD Kota Batu sebagai pengungsi, data dari BPBD Kota Batu pukul 19.00 WIB, Senin malam. Khofifah menyebut, tiga layanan dasar tersebut sudah terpenuhi dua. Yakni, layanan kesehatan dan layanan keagamaan. Menurut Khofifah, masjid dan pusat kesehatan seperti puskesmas, masih beroperasi secara normal.
Namun, SMP 5 Batu di Lemahputih Sumberbrantas, mengalami kerusakan yang cukup signifikan. Sehingga, dia mendesak Pemkot Batu untuk segera melakukan perbaikan.
“Normalnya, kedaruratan bencana harus libur 14 hari, tapi kesuwen iku rek. Mudah-mudahan, cukup satu minggu saja anak-anak SMP ini libur. Setelah itu, harus segera memulai lagi proses belajar,” urai Khofifah usai meninjau pengungsian Balai Desa Punten Bumiaji Batu, Senin sore.
Datang sekitar pukul 14.21, Khofifah yang didampingi Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko menyebut bahwa kondisi SMPN 5 Batu perlu mendapat perhatian. Karena, dia tidak berharap para siswa terlalu lama libur karena bencana ini. Jika memang perbaikan belum bisa disegerakan, maka dia mendorong adanya sekolah darurat agar siswa bisa kembali belajar.
Selain mendesak pemenuhan tiga layanan dasar, Khofifah dan Dewanti juga mendengarkan keluhan pengungsi di Punten. Dalam pengungsian Balai Desa Punten yang terdata 530 orang, Khofifah mendengar bahwa pengungsi bertahan karena rumah tinggal mereka rusak.
“Dari korban yang mengungsi, cerita kalau ada rumah yang masih diselimuti debu, ada yang atapnya rusak, ada yang kaca-kaca jendela pecah. Itu semua harus ditangani,” kata Khofifah.
Data BPBD Kota Batu menyebut, setidaknya ada 20 rumah mengalami kerusakan parah di Sumbergondo yang terdampak badai dan angin.
Ratusan rumah lainnya belum aman ditinggali karena masih penuh debu dan berbahaya bagi pernapasan. Sampai saat ini kawasan Sumbergondo dan Sumberbrantas masih steril karena Pemkot Batu masih berupaya melakukan pemulihan total. Yakni, jaringan listrik, jaringan air dan jaringan jalan.
Bagi warga yang mengkhawatirkan soal harta benda, Khofifah meminta agar pengungsi tidak khawatir. Petugas Kodim 0818 Kabupaten Malang-Batu, Polres Batu, dan Satpol PP Pemkot Batu, berjaga di lokasi.
“Pengungsi jangan khawatir karena TNI, Polri dan petugas lainnya berjaga di sana. Supaya ada ketenangan dan ketentraman selama mengungsi,” tambah Khofifah.
Dandim 0818 Malang Batu Letkol Inf Ferry Muzawwad menerangkan, sejak hari kejadian, petugas gabungan masih berupaya menghidupkan lagi jaringan jalan.
“Kondisinya di lokasi parah karena tiang listrik beton saja sampai patah,” kata Dandim kepada Malang Post, Senin sore.
Jalan penyambung Batu-Mojokerto juga belum normal karena potensi keamanan pengguna jalan dan antisipasi kejadian lainnya. Sehingga, kehidupan masyarakat terdampak badai masih belum kembali normal. Dari sisi logistik, Pemprov Jatim sudah memberi support berupa pakaian, matras, baju anak serta logistik makanan.
Pemkot Batu juga membuka tujuh posko untuk pelayanan para pengungsi. Namun, sampai berita ini diturunkan, beberapa jenis bantuan masih mendesak untuk posko-posko di Kota Batu.
Yaitu, selimut, matras, pampers, pembalut, obat dan vitamin, tisu basah, tisu kering, bubur bayi, susu bayi, susu cair, alat mandi, alat ibadah, bahan makanan mentah, air mineral, perlengkapan bati, masker, snack anak, baju anak dan buah-buahan.
Sementara itu, Wali Kota Batu Dra. Dewanti Rumpoko M.Si mengatakan bahwa kondisi cuaca tidak separah saat hari H bencana. "Alhamdulillah pagi ini situasi kembali seperti semula. Angin tidak terlalu kencang seperti kemarin," ujar Dewanti saat kunjungannya ke Desa Sumberbrantas Senin (21/10) pagi.
Ia menerangkan, angin besar memang terjadi setiap pergantian musim di Kota Batu. Khususnya di Desa Sumberbrantas ini yang merupakan siklus 10 tahunan. Sehingga angin yang cukup kencang terjadi.
"Kebetulan lagi lahan pertanian di Desa Sumberbrantas ini banyak yang belum ditanami. Sehingga tanah atau debu terbawa angin kecang dan mengakibatkan angin bercampur debu," ujar Dewanti.
Lebih lanjut, Dewanti menambahkan hingga saat ini pengungsi belum boleh dipulang hingga daerah terdampak sudah diperbaiki kembali.
“Setidaknya pengungsi nanti kembali setelah dilakukan pembenahan rumah yang rusak. Kami juga sarankan agar warga Kota Batu tidak keluar rumah. Khususnya bagi ibu-ibu dan balita," tandasnya. (eri/ary)



Loading...