Malang Post

Features
article thumbnail

Jika dianalogikan dengan manusia, maka usia 1 [ ... ]


Kuliner
article thumbnail

MALANG - Perjalanan panjang untuk menjadi seo [ ... ]


M-teens
article thumbnail

“Minal aidzin wal faizin.Maafkan lahir  [ ... ]


Familia
article thumbnail

Akibat Operasi Plastik
Banyak wanita melakuk [ ... ]


Senam

MALANG - Setelah libur puasa dan lebaran, Sen [ ... ]


Share
KETIKA berkunjung ke Cina atau Korea, saya menyaksikan banyak atraksi kesenian tradisional yang san.gat menarik. Para wisatawan manca negara seperti kami dari Indonesia, sangat tertarik dengan atraksi tersebut karena ditampilkan dengan cara yang bagus dengan tempat dan jadwal yang sudah ditentukan. Kesenian tradisional itu biasanya berupa tarian, baik perorangan tapi lebih banyak yang massal, drama, opera, music dan kesenian lain. Kalau dibandingkan dengan kesenian di Indonesia, yang sangat banyak ragamnya, tentu tidak kalah, tapi mereka unggul dalam kemasan penampilan dan juga promosi.
Meskipun namanya kesenian tradisional, tapi ditampilkan dengan gaya yang modern, misalnya dengan background yang atraktif, pencahayaan yang baik efek-efek lain yang menjadikan kesenian tradisional itu sangat hidup. Tak heran bila atraksi itu menjadi salah satu sajian tetap untuk menyambut para wisatawan. Pementasannya dilakukan di gedung teater khusus yang sangat representatif atau di lapangan terbuka yang menyediakan tempat khusus untuk pementasan. Selain di kedua negara tersebut, saya kerap melihat ada open stage yang dibangun di alun-alun yang terletak di pusat kota atau pusat keramaian.
Di tempat terbuka yang biasa dijadikan tempat kumpul masyarakat setempat maupun para turis, tersedian panggung untuk pementasan seni. Misalnya, ada beberapa anak muda memainkan orchestra dengan biola dan alat music gesek lainnya. Di tempat lain, ada seorang anak tengah memainkan biola secara solo dengan teknik yang memukau dan lagu yang akrab di telinga khalayak. Saya memimpikan di Kota Wisata Batu (KWB) juga ada penampilan para seniman secara berkala baik di gedung kesenian maupun di open space.
 KWB memiliki gedung kesenian yang letaknya cukup strategis di antara beberapa objek wisata terkenal. Panggung kesenian di gedung ini bisa dimanfaatkan untuk pementasan kesenian tradisional yang dimainkan warga untuk ditampilkan sebagai atraksi bagi para wisatawan. Harus diakui, atraksi kesenian ini masih kurang untuk kota yang menjadi tujuan wisata utama di Jatim. Selama ini atraksi kesenian masih dilakukan secara sporadis dalam even tertentu yang berhubungan dengan kegiatan di desa, misalnya sedekah bumi atau peringatan hari besar tertentu.
Di KWB ada beberapa kesenian tradisional yang terbukti sangat menarik perhatian wisatawan lokal maupun manca negara. Misalnya, bantengan, aneka tarian dan seni tradisional lainnya. Beberapa kesenian itu pernah ditampilkan dalam even berskala nasional maupun internasional yang diadakan di KWB. Saya menangkap kesan, para pengunjung sangat terkesan dengan atraksi kesenian lokal itu. Misalnya saat para seniman bantengan itu kalap bareng saat memainkan kesenian tersebut, para penonton sangat terkesan. Hanya saja, semua itu masih belum bisa dilakukan dengan skedul yang tetap, sehingga masyarakat bisa menyesuaikan dengan jadwal kunjungannya ke KWB.
Kalau mereka sempat menyaksikan atraksi kesenian itu karena kebetulan, bukan diniatkan sejak awal karena melihat kalender kesenian yang sudah disiapkan. Kita sudah memiliki gedung kesenian yang cukup memadai dan harus dimanfaatkan secara maksimal untuk atraksi seni untuk menghibur wisatawan. Seperti yang saya lihat di beberapa negara, atraksi kesenian itu bisa disaksikan secara gratis. Lantas, siapa yang membiayai para seniman itu agar bisa tetap berkarya. Tentu, pemerintah daerah harus bertanggung jawab memberikan penghasilan kepada mereka melalui anggaran yang sudah disiapkan. Kalau para seniman itu mendapat penghasilan yang memadai, tentu mereka bisa mengekspresikan rasa seninya dengan optimal tanpa harus memikirkan masalah yang lain.
 Tak jarang para seniman itu pikirannya harus bercabang, antara tampil maksimal untuk menghibur dan memikirkan penghasilan. Ya, agar mereka bisa tampil dengan jadwal yang tetap, mereka perlu dukungan dana. Anggarannya bisa diambilkan dari dana promosi melalui kesenian yang selama ini saya akui jumlahnya masih terbatas, belum mencukupi untuk semua kebutuhan. Hal itu bisa dimaklumi, karena anggarannya terbatas dan harus dibagi dengan kebutuhan lain seperti infrastruktur. Saya sudah minta agar anggaran promosi kesenian ini pada tahun depan harus ditingkatkan untuk menggiatkan kegiatan berkesenian sebagi penunjang kegiatan wisata. (***)
comments

Comments

 
0 #1 masio 2013-03-25 14:26
bener sam...pemda harus bisa menghidupi seniman nya melalui pertunjukan untuk rakyat, cuman sayang RTH di batu kog cuman alun2 aja yang terawat apik...seandainya punya lahan hutan kota yang asri tentu lebih asyik, sambil denger orkestra...salut Sam
Quote
 

This content has been locked. You can no longer post any comment.

article thumbnailOlahraga02/08/2014

Pemain Persija Ponaryo Astaman akan menghadapi rekannya Firman Utina yang kini memperkuat Persib

 [ ... ]


article thumbnailKriminal02/08/2014

Agus Priyono dan Yayuk Heriyaningsih orang tua Bayu Hari Mulyono, ketika menunjukkan foto anaknya da [ ... ]


article thumbnailPendidikan02/08/2014

SK Walikota Akan di Dok Agustus
MALANG- Dinas Pendidikan Kota Malang menar [ ... ]


Ekonomi02/08/2014
article thumbnail

MALANG – Lebaran boleh berlalu, namun Matahari Department Store masih [ ... ]