Malang Post

Kriminal

Salah Satu Korban Tewas Adalah Purel

MALANG - Sementara itu, salah satu korban tewas miras oplosan di Kecamatan Lawang diketahui bekerja sebagai purel (Pendamping karaoke) bernama Sri Wiji Astuti. Wanita berusia 32 tahun ini diperkirakan menjadi korban pertama yang tewas.
Korban ditemukan meninggal di kamar kostnya di Jalan Sumberwaras Desa Kalirejo Kecamatan Lawang, pada hari Selasa (15/4) pukul 12.15 wib. Korban diketahui juga ikut pesta miras yang menyebabkan sembilan nyawa melayan sia-sia. Salah satu sumber terpercaya mentakan, Sri Wiji Astuti memang menenggak miras oplosan tersebut.
“Mayat wanita bekerja sebagai purel yang ditemukan Selasa (15/4) siang, itu juga korban dari miras oplosan,” kata salah seorang petugas RSUD Lawang kepada Malang Post kemarin. Menurut informasi yang berkembang, Sri Wiji Astuti adalah seorang purel freelance dan berdomisili di Dusun Jombok Wetan, Desa/Kecamatan Ngajum.
Lantaran sebagai purel freelance, dia bekerja bila dipanggil oleh salah seorang tamu untuk menemani karaoke. Dijelaskannya, setelah ditemukannya Sri Wiji Astuti dalam keadaan tidak bernyawa, barulah RSUD Lawang menerima beberapa pasien korban miras oplosan. Mereka pesta miras, merayakan ulang tahun bernama Kevin.
Dijelaskannya, mulanya RSUD Lawang menerima beberapa pasien pada hari Selasa (15/4) malam. Kemudian, pada hari Rabu (16/4), terdapat salah seorang pasien yang dirujuk ke RSSA Malang, bernama Jayadi warga Desa Sidodadi Kecamatan. Kemudian pada akhirnya pria berusia 34 tahun tersebut tewas saat dirawat pukul 06.00 wib.
“Sepanjang hari ini (kemarin), setahu saya terdapat dua korban miras oplosan yang meninggal di RSUD Lawang,” terangnya. Kedua korban itu adalah Kholili Warga Desa Bedali Kecamatan Lawang dan Arif warga Desa Turirejo Kecamatan Lawang. Hingga berita ini diturunkan, terdapat sembilan orang tewas terkait miras oplosan
Sementara itu, dikonfirmasi terpisah Kepala Dinkes Kabupaten Malang Hj Mursyidah terkait peristiwa ini, pihaknya lempar handuk. “Loh itukan ranahnya Disperindagsar yang mengatur peredaran miras,” katanya seperti di dalam pesan pendek yang dikirimkan.
Sementara itu, Kepala Disperindagsar Kabupaten Malang Ir Helijanti Koentari mengatakan, terkait peredaran miras pihaknnya akan lebih selektif lagi. “Kami sudah berkomitmen untuk membatasi peredaran maupun penjualan miras. Hal itu sesuai dengan peraturan dari Kementerian Perdagangan,” terangnya.
Dia menjelaskan, miras tidak boleh diperjualbelikan kepada anak di bawah umur, tidak boleh dijual di mini market modern, dan tidak boleh didisplay di tempat yang mencolok. (big)  

Page 3 of 533