Malang Post

Kriminal


Gas Meledak, Suami Istri Terbakar

Di dalam rumah inilah, kedua pasutri terbakar setelah tabung blue gas miliknya ngowos.

GONDANGLEGI – Pasangan suami istri (pasutri) Laksana Budi Satria 29 tahun dan Diah Nawangsari, 29 tahun warga Jalan Mayjend Sutoyo, RT 02 RW 01, Kampung Sawo, Desa Gondanglegi Kulon, Kecamatan Gondanglegi, Senin malam lalu bernasib tragis. Keduanya harus dilarikan ke rumah sakit, karena mengalami luka bakar cukup serius.  Luka itu akibat tabung blue gas di dapur rumahnya ngowos dan membakarnya.
“Luka bakarnya sekitar 30 persen sampai 40 persen saja, dibagian kaki serta tangan dan wajahnya. Sekarang keduanya dirawat di RSSA Malang, setelah sebelumnya sempat dibawa ke RSI Gondanglegi,” ungkap Kapolsek Gondanglegi, Kompol Gatot Suseno.
Peristiwa ledakan tabung blue gas yang sempat menggemparkan warga sekitar itu, terjadi sekitar pukul 21.00. Sebelum terjadi ledakan, sebetulnya Diah Nawangsari, sudah mencium bau gas dari tabung blue gas yang ngowos. Dia lalu meminta suaminya Laksana untuk membetulkan tabung blue gas itu supaya tidak ngowos.
Namun meski sudah dibetulkan, bau gas masih saja tetap tercium. Agar bau gas hilang, korban membuka pintu rumahnya. Tak lama setelah itu, Diah yang merasa bau gas sudah hilang langsung menyalakan kompor berniat memasak air.
Begitu pematik kompor ditekan, api langsung menyambar dan terdengar suara ledakan. Diah, yang saat itu di dapur langsung berteriak kesakitan. Begitu juga dengan Laksana yang ada di dalam kamar dekat dapur, juga ikut terbakar. Beruntung, Abil, 8 tahun anak mereka yang bermain di ruang tamu tidak sampai ikut terbakar. Api juga tidak sampai membakar rumahnya, hanya beberapa bagian dalam ruangan saja yang hangus.
Tetangga sekitar yang mendengar, lalu berdatangan untuk menolong pasutri itu dengan melarikan ke RSI Gondanglegi. Namun karena pihak rumah sakit tidak sanggup, kemudian dirujuk ke RSSA Malang. Sementara sebagian warga lainnya melaporkan ke petugas Polsek Gondanglegi. Tak lama kemudian petugas datang untuk melakukan olah TKP, dan mengamankan tabung blue gas sebagai barang bukti.
“Sebelum terjadi ledakan itu, Laksana baru saja membeli rokok di toko saya. Sekitar 10 menit setelah dia membeli rokok, langsung terdengar ledakan itu. Dia (korban, red) adalah penjual emas di Pasar Wonokerto Bantur,” tutur Sugeng, tetangga korban.(agp/aim)

Diduga Lakukan Asusila, Warga Lurug Balai Desa

TUMPANG-Puluhan warga dari Dusun Jago, Desa/Kecamatan Tumpang, Senin malam kemarin, mendatangi kantor balai desa. Kedatangan sejumlah warga itu, untuk meminta klarifikasi tentang dugaan perangkat desa berisinal MS, yang telah melakukan dugaan asusila dengan seorang warganya berisinal NR, pada 29 Desember lalu.
“Warga berdatangan ke sana (balai desa), itu untuk meminta kejelasan mengenai tindak-lanjut dari dugaan asusila yang dilakukan perangkat. Hanya saja, dalam pertemuan itu tidak menghasilkan titik temu,” kata seorang warga, Yoni Devicahyono.
Diterangkannya, perangkat itu diduga melakukan perbuatan asusila, karena dipergoki tiga saksi di rumah seorang warga atau saksi bernama Trini. Saat itu, MS bersama NR tengah di dalam kamar saksi. Sementara keduanya, berstatus sudah memiliki pasangan masing-masing.
“Karena berada di dalam kamar, makanya warga meminta agar perangkat itu diberikan sanksi tegas. Untuk itulah, akhirnya mendatangi kantor balai desa,” ujarnya.
Kepala Desa Tumpang, Achmad Apriono, dikonfirmasi terpisah menjelaskan kalau malam itu sebenarnya pemanggilan saksi-saksi dari kejadian tersebut. Intinya, untuk meng-clear-kan masalah yang sempat mencuat.
“Bukan dilurug warga, tetapi kami memanggil saksi-saksi dari kejadian itu,” kata Apriono.
Dari pemanggilan yang sudah dilakukan, tambah Apriono, diperoleh kejelasan bahwa perangkatnya dan NR, bermaksud menyelesaikan masalah utang-piutang. Hanya saja, memang tempat penyelesaiannya yang salah yakni di rumah orang. Sementara perangkat dan NR, selama ini banyak membantu untuk proses hukum suami NR.
“Tidak ada saksi yang mengetahui langsung tuduhan itu. Sementara desa melakukan pemanggilan, itu karena inisiatif sendiri dengan tujuan menyelesaikan informasi dugaan itu. Karena jangan sampai, karena unsur tidak suka kepada MS, kemudian menuduh yang tidak-tidak,” paparnya.
Apriono menjelaskan, terkait dengan tuduhan itu, desa masih belum memberikan sanksi. Masalahnya, masih perlu melakukan pemanggilan kepada saksi-saksi lain. “Kalau memang terbukti, jelas sanksi berat akan diberikan. Kalau pun tidak, maka tetap konsekuensi hukuman juga akan diberikan. Karena bagaimana pun, tidak dibenarkan perangkat memberikan layanan kepada warganya di rumah orang. Lebih-lebih, itu pada malam hari dan berlainan jenis,” ungkapnya. (sit/aim)

Tertibkan Miras Oplosan

KEPANJEN – Korban meninggal dunia akibat minuman keras (miras) oplosan saat ini sedang marak. Selama kurun waktu hampir sebulan, sudah lebih dari 20 orang di Jawa Timur seperti Mojokerto, Surabaya dan Madiun meninggal. Untuk mengantisipasi supaya tidak terjadi di Malang, Polres Malang melakukan tindakan preventif.
Tindakan awal yang diambil, yaitu menghimbau masyarakat melalui Babin Kamtibmas, termasuk penjual ataupun pembuat diminta untuk tidak menjual apalagi mengkonsumsi miras. Baik miras oplosan atau jenis lainnya.
“Kami kedepankan tindakan preventif terlebih dahulu, yakni memberikan himbauan. Dan Kasat Binmas sudah kami perintahkan untuk menggerakkan seluruh Babin Kamtibmas, melakukan penyuluhan kepada masyarakat tentang bahaya miras oplosan atau jenis lainnya,” terang Waka Polres Malang, Kompol Pranatal Hutajulu.
Setelah himbauan dan penyuluhan dilakukan, langkah selanjutnya baru melakukan tindakan tegas dengan menggelar operasi penertiban terhadap tempat-tempat yang menjual miras. Bagi masyarakat yang tetap nekat setelah diberi himbauan akan langsung ditindak.
“Tindakan tegasnya akan diproses sesuai hukum yang berlaku. Karena tidak menutup kemungkinan kejadian dibeberapa daerah, juga bisa terjadi di Malang. Sedangkan untuk soal izin usaha karena yang berwenang Pemda, kami akan membuatkan rekomendasi untuk menertibkan penjual minuman keras,” paparnya.
Di Kabupaten Malang, lanjut mantan Kasatlantas Polres Malang Kota ini, bahwa penjual atau pembuat minuman keras oplosan masih banyak. Terutama di wilayah Malang Selatan. Itu terbukti dengan sudah sering kali home industri miras oplosan yang digrebek Polres Malang.
“Kalau dibilang masih ada, memang Kabupaten Malang masih ada yang menjual atau membuat miras oplosan. Seperti Arjo (arak jowo) atau trobas. Maka dari itu, sebelum ada korban kita akan lakukan penertiban,” tuturnya.(agp/aim)

Polisi Tangkap Pemuda Misterius

MALANG – Ketika polisi tengah serius mengungkap kasus peledakan bom di ATM Mandiri, kemarin anggota Intelkam Polres Malang, berhasil mengamankan seorang pemuda.
Petugas curiga, pemuda itu memakai kaos oblong warna coklat. Rambutnya acak-acakan, tetapi kulitnya bersih. Sementara dari kamera CCTV, pelaku peledakan bom itu, juga memakai kaos oblong.
Lebih mencurigakan lagi, pemuda yang diketahui berasal dari Kecamatan Kota Bumi, Kabupaten Lampung Utara ini, diamankan di hutan jati, Desa Gampingan Kecamatan Pagak. Selain itu, dia juga membawa belasan ponsel dari berbagai merek.
‘’Ketika kasus bom mulai ramai, masyarakat memang ekstra waspada. Ketika mereka melihat ada pemuda mencurigakan, warga langsung lapor polisi. Kemudian tanpa mengalami kesulitan, pemuda itu diamankan,’’ ujar sumber Malang Post, kemarin.
Sayang terkait hal itu, belum bisa dikonfirmasi. Termasuk soal jatidiri pemuda itu, berikut alasan dia membawa belasan ponsel dari berbagai merek.
Polisi sendiri, saat ini masih sangat sibuk mencari pelaku peledakan. Selain mencari bukti baru dan memperdalam keterangan saksi, polisi juga fokus mencari penjual bahan campuran peledak yang digunakan pelaku.
Beberapa toko bangunan atau penjual bahan kimia, mulai dipelototi. Terutama toko yang menjual bahan berbahaya. Seperti belerang dan florat. Harapannya, bisa mendapatkan petunjuk baru tentang pelaku pengeboman itu.
‘’Sekarang kami sedang melakukan pendalam kasusnya. Kami juga masih mengumpulkan bukti-bukti baru. Termasuk mendata toko bangunan yang menjual bahan kimia,’’ ujar Waka Polres Malang, Kompol Pranatal Hutajulu.
Apakah belerang dan florat yang digunakan pelaku sebagai bahan pembuatan bom dibeli di Malang? Polisi masih belum berani memastikan, karena masih penyelidikan. Namun bisa jadi bahan kimia tersebut dibeli di Malang, mengingat bahan kimia ini terjual bebas di toko bangunan.
Selain mendata toko bangunan yang ada di wilayah Kabupaten Malang, polisi juga mencari petunjuk pada tukang las. Ini berkaitan dengan casing besi berukuran 10 x 15 x 25 cm yang merupakan container tempat material bom, yang ditemukan di TKP. Container berbentuk persegi panjang itu, dibuat dengan cara dilas.
Kapolres Malang AKBP Adi Deriyan Jayamarta, mengatakan, saat ini Polres Malang masih fokus mencari keterangan tambahan saksi-saksi. Selain sembilan orang saksi yang sudah dimintai keterangan, ada dua saksi tambahan lagi dari warga yang segera dimintai keterangan.
‘’Mudah-mudahan dengan keterangan saksi baru ini, nantinya bisa menjadi bukti dan peran sendiri terkait peledakan di ATM Bank Mandiri itu. Diharapkan keterangan saksi tambahan ini bisa membantu penyelidikan kami,’’ tutur Adi Deriyan.
Soal sketsa wajah, perwira dengan pangkat dua melati ini mengaku masih berupaya untuk mengeplorasikan dalam bentuk gambar. Karena untuk membuat sketsa wajah pelaku sangat sulit, lantaran wajahnya tertutup helm. (agp/avi)
Last Updated on Monday, 13 January 2014 13:07

Merasa Dikorbankan, Siap Penuhi Panggilan Kejaksaan

MALANG - Tersangka dugaan korupsi pengadaan lahan UIN Maliki, DR. H. Jamal Lulail Yunus SE MM., siap menjalani pemeriksaan di Kejaksaan Negeri Malang, hari ini.
Meskipun Caleg DPR-RI dapil Malang Raya ini, juga merasa aneh dengan penetapannya sebagai tersangka. Kendati kasusnya terjadi tahun 2008, namun penetapan tersangka malah dilakukan menjelang Pileg 2014.
Jamal Lulail kepada Malang Post secara blak-blakan, mengaku merasa dikorbankan dan didzolimi. Namun sebelum berbicara soal politik serta intrik dalam kasus itu, Jamal ingin menjelaskan mengenai mekanisme pencairan anggaran untuk pembelian lahan.
‘’Pertama saya dikorbankan dan didzolimi. Sesungguhnya yang saya kerjakan, sudah sesuai prosedur dan sesuai tugas saya sebagai PPK,’’ tegas pria yang pernah mencalonkan diri menjadi Wakil Bupati Bekasi tahun 2012 ini.
Bukti sudah memenuhi prosedur, menurut Jamal, sudah tampak pada audit BPK terhadap pengadaan itu. Dalam audit tersebut, BPK menyatakan tidak ada masalah. Disisi lain, dana Rp 12 miliar sesuai DIPA dari pemerintah, semestinya untuk pengadaan lahan 6.000 m2.
‘’Tanah yang  kami bebaskan luasannya mencapai 117 ribu m2. Jadi ini sudah melebihi dari DIPA,’’ terang pria yang pernah menjadi Dosen FE UIN Maulana Malik Ibrahim Malang itu.
Pembelian tanah itu juga sesuai prosedur, bahkan pihaknya juga sudah melihat dokumen tanah dari camat waktu itu. Sesuai data dari camat, harga tanah berbeda-beda. Sesuai dengan kelasnya. Rentang Rp 65 ribu – Rp 100 ribu/m2. Adapula yang harganya Rp 200 ribu ke atas setiap m2.
‘’Soal Rp 20 juta ke Nol Hadi dan Marwoto, saya tidak tahu. Yang jelas dana dari Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) waktu itu, langsung cair ke petani. Tidak melalui kita,’’ urai mantan Dekan FE Universitas Islam Indonesia Sudan tersebut.
Menurut Jamal, Marwoto juga menerima dana pembelian tanah, karena dia juga menjadi kuasa dari pemilik tanah. Pada pengadaan tanah tahun 2008, Jamal mengaku tak secara intens bertemu dengan Nol Hadi maupun Marwoto. Pertemuan dengan mereka berdua baru terjadi secara intens pada 2010.
‘’Setelah kasus ini bergulir baru kami bertemu. Yakni ketika meninjau lahan bersama pak Rektor. Kala itu Pak Imam Suprayogo,’’ tegas mantan PD Bidang Akademik FE UIN Maulana Malik Ibrahim Malang itu.
Atas sangkaan dari kejaksaan saat ini, Jamal merasa dikorbankan dan didzolimi. Sejak kasus itu bergulir, pihak rektor UIN Maliki saat itu Imam Suprayogo, kerap menyalahkan mereka. Antara lain Jamal, Musleh Herry serta Hengki Wahyu Irawan bendahara proyek Jamal.
‘’Kami bertiga selalu disalahkan oleh pimpinan. Entah kenapa pimpinan juga menunjuk orang sepuh-sepuh. Siapa pimpinannnya ya Pak Imam Suprayogo,’’ jelas politisi PKS itu.
Jamal sendiri melihat tuduhan korupsi itu ditujukan padanya karena kebetulan menjadi caleg PKS DPR RI Dapil Malang Raya nomor urut 1. Hanya saja, dia tidak mau berspekulasi lebih jauh. Meskipun, dia mengakui bahwa segala sesuatu bisa saja terjadi.
‘’Melihat momentum penetapan tersangka pada 2014, padahal ini kasus 2008. Biar masyarakat yang menilai,’’ urai dia.
PKS sendiri, menurut Jamal, tak mempermasalahkan kasus yang menjeratnya. Sebab, kasusnya terjadi 2008 ketika dirinya masih menjadi PNS. Padahal, sejak masuk PKS, ketika menjadi calon Wakil Bupati Bekasi, dirinya sudah keluar dari PNS.
‘’Partai tetap mendukung saya, dan saya anggap hal ini tidak menganggu pencalegan saya. Saya masih santai kok,’’ akunya.
Jamal sendiri mengaku siap datang ke pemeriksaan sebagai tersangka hari ini. Pihaknya sebenarnya sudah datang ke kejaksaan, kemarin, namun Kajari Munasim sedang ke Surabaya. Kedatangannya untuk  menjelaskan kepada Kajari, lantaran tak bisa menghadiri panggilan pertama pada Jumat (10/1) lalu.
‘’Lawyer saya juga sudah menyerahkan surat  penjelasan kepada Kajari, penyebab saya tak bisa hadir pada Jumat lalu,’’ tandasnya.
Terpisah, tersangka Musleh H. Musleh Herry, SH, M.Hum selaku anggota panitia pengadaan dari UIN Maliki, juga merasa dikorbankan. Musleh yakin betul bahwa yang dia lakukan sudah sesuai prosedur.
‘’Saya tidak pernah memberi uang kepada Marwoto dan Nol Hadi, saya juga merasa itu (korban dan didzolimi) sebab sudah bekerja sesuai dengan aturan yang berlaku,’’ aku mantan Pj. Pembantu Dekan II Fakultas Syariah UIN.
Musleh juga menyatakan, pihaknya siap datang dalam pemeriksaan di kejaksaan. Hanya saja, hingga detik ini, pihaknya belum mendapatkan surat panggilan itu. Tentu karena patuh hukum, Musleh bakal hadir jika surat sudah berada di tangannya.
‘’Tentu bisa menganalisa sendiri pihak yang paling bertanggung jawab dalam hal ini. Insya Allah saya siap datang ke kejaksaan, namun sampai detik ini belum menerima panggilan,’’ tandas dia.
Sesuai data dari Kejaksaan, surat panggilan terhadap Jamal bernomor nomor SP-100/0.5.11/Fd.1/012014. Sedangkan untuk Musleh nomor SP-96/0.5.11/Fd.1/012014 yang ditandatangani Kajari Munasim. Kedua pejabat UIN Maliki itu telah ditetapkan sebagai tersangka sejak 6 Januari 2014 lalu. Sesuai nomor surat perintah Kajari print-03/ 0.511/Fd.1/01/2014 tertanggal 6 Januari 2014. (ary/avi)
Last Updated on Monday, 13 January 2014 13:05

Page 172 of 224