Malang Post

Kriminal


Perampok Kecele, Dua Jam Bongkar Brangkas Kosong

Polisi ketika melakukan olah TKP perampokan di kantor Dinas Pengairan dan Radio Kanjuruhan FM Kabupaten Malang, kemarin. Dan tiga penjaga yang disekap pelaku saat berada di Mapolsek Kepanjen.

KEPANJEN – Aksi perampokan kembali terjadi di wilayah Kabupaten Malang. Dini hari kemarin, kantor Dinas Pengairan dan kantor Radio Kanjuruhan FM Jalan Kawi 1 Kepanjen, yang menjadi sasarannya. Meski tiga orang penjaga berhasil dilumpukan, namun pelaku yang berjumlah empat orang gagal mendapatkan hasil.
Dua brankas milik Dinas Pengairan yang sempat dibongkar paksa oleh pelaku, ternyata sama sekali tidak ada uangnya alias zonk. Karena kecele, setelah sekitar dua jam beraksi, para pelaku langsung kabur. Kasus perampokan tersebut kemarin langsung ditangani Polsek Kepanjen di-back up Polres Malang.
“Sebetulnya ada empat brankas di dalam kantor, namun dua brankas sudah tidak berfungsi lama. Sedangkan dua brankas lagi yang dirusak, sama sekali tidak ada uangnya,” ujar Kepala Dinas Pengairan Kabupaten Malang, Ir Agus Priyanto, saat ditemui di Mapolsek Kepanjen.
Sementara itu, informasi yang diperoleh, aksi perampokan tersebut terjadi sekitar pukul 02.30. Saat kejadian, kantor Dinas Pengairan dijaga dua orang, yaitu Hadi Sucipto, 42 tahun serta Zainul 31 tahun. Sedangkan kantor Radio Kanjuruhan FM dijaga oleh Imanda Bagus, 23 tahun.
Empat pelaku yang memakai cadar dan bersenjata parang ini, masuk lewat depan. Selanjutnya mereka menuju ruang dapur tempat Hadi Sucipto tidur. Hadi kemudian disekap dengan kedua tangan, kaki serta mulut dilakban. “Saat pelaku masuk, saya sedang tidur. Mereka masuk karena pintu dapur tidak dikunci,” tutur Hadi Sucipto.
Usai melakban mulut Hadi, pelaku lalu melumpuhkan Zainul yang tidur di ruang Bina Manfaat. Mereka masuk ke ruangan ini dengan menjebol pintu. Sama dengan Hadi, Zainul juga disekap menggunakan lakban. Setelah itu, pelaku menuju kantor Radio Kanjuruhan FM.
Imanda Bagus yang sedang tiduran di ruang depan, langsung disekap. Setelah tiga orang berhasil dilumpuhkan pelaku lalu masuk ke ruang operasi dan pemeliharaan (OP) serta ruang sekretariat. “Untuk masuk ke ruang sekretariatan dan  ruang OP, mereka merusak jendela,” lanjut Agus Priyanto.
Karena tidak mendapatkan barang jarahan, sekitar pukul 04.30 pelaku kabur dengan mengendarai mobil. Tak lama setelah pelaku kabur, Zainul lalu berteriak minta tolong dan didengar oleh Pak Mul, warga depan kantor Dinas Pengairan. Setelah ikatan dilepas, mereka lalu melaporkannya ke petugas Polsek Kepanjen.
“Untuk kerugian tidak ada. Namun kasusnya tetap kami selidiki. Beberapa saksi sudah kami minta keterangan, termasuk melakukan olah TKP dengan mendatangkan tim Identifikasi Polres Malang,” jelas Kapolsek Kepanjen, Kompol Suyoto.(agp/han)

Truk Tabrak Pohon, Kernet Tewas Terjepit

TABRAK POHON: Truk tronton mengangkut pupuk menabrak pohon di jalur pantura Tuban tepatnya di jalan Tuban-Semarang KM 33, Desa Margosuko, Kabupaten Tuban, kemarin.

MALANG POST - Sebuah kendaraan truk tronton yang mengangkut pupuk menabrak pohon di jalur pantura Tuban tepatnya di jalan Tuban-Semarang KM 33, Desa Margosuko, Kecamatan Bancar, Kabupaten Tuban, Sabtu (16/11/2013).
Akibatnya dalam kecelakaan tunggal tersebut satu korban yang kernet dari truk itu tewas dengan kondisi mengenaskan setelah terjepit body kendaraan. Sedangkan untuk pengemudi mengalami luka-luka dibagian tubuhnya.
Dari informasi yang dihimpun di lapangan, kejadian kecelakaan maut tersebut berawal saat kendaraan truk tronton nopol H 1967 DH, yang dikemudikan oleh Slamet Hartono (50), asal Kabupaten Semarang, Jateng berjalan dari arah Surabaya menuju Semarang.
Selanjutnya, saat dilokasi kejadian truk tronton yang mengangkut puluhan ton pupuk tersebut melaju dengan kecepatan tinggi. Kemudian truk oleng ke kiri dan menabrak pohon besar yang berada di pinggir jalan pantura Tuban itu. "Pengemudi truk diduga ngantuk, sehingga kendaraannya oleng ke kiri keluar dari jalan raya dan menabrak pohon. Hingga akhirnya truk sampai terguling," terang IPTU Frihamdeni, Kanit Laka Sat Lantas Polres Tuban saat berada di lokasi kejadian.
Akibat menabrak pohoh tersebut bodi truk mengalami ringsek dan hancur bagian kabinya. Sehingga membuat Ahmad Subekan (21), kernet dari truk tersebut tegencet bodi kendaraan yang ringsek, akibatnya korban tewas di lokasi kejadian. "Satu korban meninggal dunia di lokasi akibat terjepit di dalam bodi kendaraan. Dan sekarang sudah dievakuasi di bawa kamar jenazah RSUD Tuban untuk menunggu keluarga korban," lanjut Kanit Laka.
Evakuasi jenazah korban yang terjepit di dalam bodi kendaraan membutuhkan waktu lama, pasalnya korban tejebak dalam kendaraan dan terjepit antara kendaraan dengan pohon. Saat ini petugas masih melakukan penyelidikan lebih lanjut dan akan mengevakuasi kendaraan truk naas itu dari TKP. "Kita masih melakukan penyelidikan lebih lanjut, untuk pengemudi truk sudah kita amankan guna kita mintai keterangan atas kejadian itu," pungkasnya. (jpnn/udi)

Palsukan Surat Tanah, Kades Pandansari Jadi Tersangka

Tersangka Heppy Rikrik Kristianto

PONCOKUSUMO - Mantan Kepala Desa Pandansari Kecamatan Poncokusumo, Ahmad Yazid kesandung kasus. Pria berusia 50 tahun ini,  ikut dijadikan tersangka oleh penyidik Reskrim Polres Malang dalam kasus pemalsuan surat tanah yang merugikan korbannya hingga Rp 6,5 miliar. Bahkan berkas kasus Yazid, sudah pelimpahan tahap satu di Kejaksaan Negeri Kepanjen.
"Yazid mantan Kades Pandansari sudah kami jadikan tersangka terkait kasus pemalsuan surat. Berkasnya sudah pelimpahan tahap satu. Saat ini kami masih melengkapi berkasnya untuk selanjutnya pelimpahan tahap dua minggu depan," ungkap Kasatreskrim Polres Malang AKP Muhammad Aldy Sulaeman SIK.
Meski status Yazid sudah sebagai tersangka, namun dalam kasus ini Yazid tidak dilakukan penahanan. Itu karena mengingat sebelumnya dia masih menjabat sebagai Kades dan baru nonaktif awal November ini.
"Untuk Yazid memang tidak kami lakukan penahanan. Dia kami wajibkan lapor setiap hari senin dan kamis. Ketika nanti berkas yang kami limpahkan ke kejaksaan sudah P21 (lengkap), dia bersama barang buktinya akan kami serahkan ke Kejaksaan," ujar Aldy.
Menurut mantan tenaga pendidik (Gadik) SPN Brimob Polda Jatim ini, keterlibatan Yazid dalam kasus pemalsuan surat tanah ini, berawal dari laporan kasus pemalsuan surat tanah yang dilaporkan Gunadi Santoso, warga Tambakasri, Surabaya. Laporan masuk di Polres Malang pada 18 Januari 2013.
Dari laporan tersebut penyidik Reskrim yang menangani menetapkan Heppy Rikrik Kristianto, warga Waru-Sidoarjo sebagai tersangka pada September 2013. Heppy merupakan teman dekat Gunadi, yang sebelumnya diberi kuasa untuk menjualkan tanah seluas 26 hektare di Desa Pandansari Poncokusumo.
Namun kepercayaan yang diberikan Gunadi, justru dimanfaatkan oleh Heppy. Dia bekerjasama dengan Yazid merubah surat tanah dengan kutipan letter C atas namanya dengan ditandatangani oleh Yazid. Selanjutnya setelah dirubah, tanah dijual kepada seorang warga Gresik senilai Rp 3,7 miliar. Uang tersebut dipakai sendiri dan sebagian diberikan kepada Yazid.
Berangkat dari keterangan yang disampaikan Heppy itulah akhirnya polisi ikut menjadikan Yazid sebagai tersangka. "Dia (Yazid) ikut jadi tersangka karena menerima hadiah dari tersangka Heppy. Yaitu diberangkatkan umroh, dibelikan mobil serta diberi sejumlah uang untuk menutupi kasus ini. Sedangkan untuk berkas tersangka Heppy, Selasa depan pelimpahan tahap kedua ," papar Aldy.(agp/aim)
Last Updated on Friday, 15 November 2013 12:43

Kuli Bangunan Paksa Bunga Berhubungan Badan

Tersangka Sanam
 
JABUNG - Sanam, 56 tahun, warga Dusun Precet, Desa Kenongo, Kecamatan Jabung, sejak Kamis lalu harus meringkuk di balik rutan Mapolres Malang. Dia ditahan karena dilaporkan melakukan perbuatan asusila terhadap Bunga (nama samaran), 19 tahun, warga Cemorokandang, Kecamatan Kedungkandang Kota Malang.
"Tersangka Sanam ini kami tangkap di rumahnya setelah kami mendapat laporan dari keluarga korban. Dalam pemeriksaan tersangka memang mengakui perbuatannya," ungkap Kasatreskrim Polres Malang, AKP Muhammad Aldy Sulaeman SIK.
Informasi yang diperoleh, perbuatan bejat yang dilakukan tersangka terjadi Senin (10/11) lalu di dalam rumahnya. Kisahnya bermula dari tersangka yang baru pulang kerja sebagai kuli bangunan, melintas di pemakaman umum Dusun Mboro, Cemorokandang. Saat melintas, dia melihat korban sedang mencari bunga kamboja.
Melihat korban sendirian, tersangka lalu berhenti. Selanjutnya dia berkenalan dengan korban, yang kemudian mengajak jalan-jalan. Tanpa disangka, korban mengiyakan ajakan tersangka. Selanjutnya dengan dibonceng motor korban diajak keliling.
Namun bukannya diajak jalan-jalan dan diantarkan pulang, tetapi korban malah dibawa pulang ke rumahnya. Kebetulan saat itu rumah tersangka sedang sepi, karena anak serta istrinya berada di rumah orangtuanya.
Dengan memanfaatkan rumah sepi itu, tersangka lalu mengajak korban berhubungan badan. "Saya melakukan hubungan itu sebanyak dua kali dalam semalam," aku tersangka Sanam.
Baru keesokan paginya, oleh tersangka korban diantarkan pulang. Saat itulah tersangka dipergoki oleh saudara korban. Setelah diinterogasi dan korban mengaku usai disetubuhi tersangka, keluarga yang tidak terima lalu melaporkan ke Polres Malang. Berdasarkan laporan itulah polisi langsung menangkap Sanam. "Saya khilaf. Saya melakukannya tidak dengan paksaan, tetapi atas dasar suka sama suka," tutur bapak satu anak ini.(agp/aim)

Wakil Ketua PPLP PT PGRI Dipolisikan

MALANG– Wakil Ketua Perkumpulan Pembina Lembaga Pendidikan Perguruan Tinggi (PPLP PT) PGRI, Dr Christea Frisdiantara, Ak.MM dilaporkan ke Satreskrim Polres Malang Kota, kemarin. Dia diduga melanggar Pasal 266 KUHP tentang memberikan keterangan palsu dalam akta autentik No 90 tanggal 28 Januari 2013, untuk mengelola Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama).
Laporan tersebut dilakukan mantan Pembantu Rektor I Unikama, Prof Dr Ir Tries Edy Wahyono. Didampingi Sumardhan, SH, kuasa hukumnya, Tries mengatakan bila di dalam akta yang dibuat di hadapan notaris Benediktus Bosu, SH, terdapat namanya. “Saya sendiri sebagai dewan pengawas, selama ini tidak pernah diundang maupun datang,” tuturnya.
Selain dia, dua pendiri PPLP PT lainnya, Amir Soetedja dan Hadi Sriwijana tidak pernah diundang. “Padahal, mereka ini pendiri sekaligus anggota PPLP PT. Intinya, dalam pembuatan akta No 90, kedua pendiri ini tidak pernah dilibatkan,” ungkapnya.
Tries bahkan mengatakan, Christea Frisdiantara dan Abdul Bakar Tunsiawah yang menghadap ke Notaris hanyalah anggota pengurus dan staf biasa. “Tentunya sebagai  anggota pegurus, keduanya tidak memiliki hak menghadap Notaris untuk membuat akta. Di dalam akta No 90 itu, dia menyebut sebagai anggota. Itu bertentangan dengan akta sebelumnya yang mengatakan bahwa mereka hanyalah karyawan biasa,” tambah Sumardhan.
Dijelaskan dalam akta itu pula, tanggal 12 Januari 2013 telah dilakukan rapat umum anggota badan pengawas perkumpulan. “Akta yang dibuat diduga digunakan untuk menguasai, menanfaatkan rekening dan mengelola Unikama. Klien saya berharap polisi bertindak tegas mengusut masalah ini,” pungkas dia. Sementara itu, Christea yang dikonfirmasi semalam mengaku, merasa aneh dan lucu terhadap laporan terhadap dirinya di Polres Malang Kota. Dia balik mempertanyakan motivasi dibalik laporan tersebut.
“Saya merasa aneh. Dia (Tries) pengawas di PPLP PT. Dan akta  itu sudah disahkan oleh Kementerian Hukum dan HAM RI sejak Mei 2013 lalu. Kenapa baru sekarang mempersoalkan?” tanyanya.
Cristea mengatakan, sebenarnya pelapor mengetahui tentang perubahan akta, sebab Tries adalah salah satu pengawas PPLP.  “Saya melihat laporan itu sangat tendensius terhadap diri saya. Kenapa yang dilaporkan hanya saya? Sementara saya hanyalah seorang anggota di PPLP PT,” terangnya.
Dia balik menduga, laporan Tries hanyalah pengalihan isu. Sebab kata dia, ayah Tries yakni AS, mantan rektor Unikama sedang jadi tersangka yang ditetapkan oleh Kejari Kota Malang. (van/mar)

Page 172 of 187