MALANG –Rio Ferdianand, 16 tahun, warga Jalan Simpang Borobudur, Lowokwaru menjadi korban penipuan online. Pelaku yang beraksi dengan pura-pura menawarkan iPhone 6 murah, berhasil membawa kabur uang Rp 5.042.386 miliknya.
Diceritakannya, Selasa (20/10) lalu dia mendapatkan broadcast messege, yang menawarkan iPhone 6 dengan harga murah. Tertarik, Rio langsung membalas pesan tersebut.  Transaksi pun dilakukan. Hingga akhirnya, keduanya sepakat dengan harga Rp 5.042.386 untuk iPhone 6. Tanpa rasa curiga, Rio langsung mendatangi ATM BCA Indomaret, Jalan Simpang Borobudur untuk mentransfer uang ke rekening pelaku sesuai dengan harga yang disepakati.
Usai mentransfer, Rio langsung menghubugi PIN pelaku, untuk mengkonfirmasi jika sudah transfer. “Saya mengirimkan foto print out transfer. Tidak lama kemudian, pelaku membalas jika barang akan datang 1-2 hari setelah itu,” ujar Rio.
Tapi begitu, janji tinggal janji. Dua hari berlalu iPhone 6 yang dibelinya tidak kunjung datang. Rio mulai curiga. Terlebih saat BBM yan dikirim ke pelaku hanya memiliki tanda centang saja. Karena curiga, Rio pun melapor ke Polres Malang Kota.
Sementara itu Kasubag Humas Polres Malang Kota AKP Nunung Anggraeni mengakui adanya laporan tersebut. Kepada Malang Post Nunung sangat menyesalkan, kejadian ini. Terlebih, selama ini Polres Malang Kota sudah kerap memberikan imbauan agar masyarakat berhati-hati. “Iimbauan berupa stiker sudah terpasang dimana-mana, termasuk di pintu masuk ATM ada Imbauan tersebut. Setiap sosialisasi juga selalu dikatakan agar masyarakat selalu berhati-hati, tapi ternyata masih ada korban,’’ katanya. (ira/aim)
 

MALANG - Kematian  dua mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UNISA) Surabaya, saat mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar) Sabtu (17/10) lalu terus diselidiki Polres Malang. Polisi sudah memeriksa 21 orang saksi. 16 saksi adalah peserta Diklatsar, dan lima saksi lainnya panitia.
"Kasusnya masih terus kami selidiki sampai sekarang. Sudah 21 orang saksi yang kami mintai keterangan. Masih ada beberapa saksi lagi yang akan kami panggil untuk dimintai keterangan," ujar Kasatreskrim Polres Malang, AKP Adam Purbantoro.
Adam mengatakan, untuk peserta Diklatsar sebetulnya ada 19 orang. Dua diantaranya adalah korban yang meninggal dunia. Sedangkan satu orang lagi, saat ini kondisinya masih sakit dan dirawat di RS Surabaya.
"Setelah saksi peserta dan panitia Diklatsar yang kami minta keterangan, selanjutnya saksi pembina dari pihak kampus. Bisa dosen atau rektor yang nantinya kami mintai keterangan. Rencananya pemeriksaan dilakukan minggu depan," tuturnya.
Dalam pemeriksaan lanjut mantan Kasatreskrim Polres Malang Kota ini, para saksi menceritakan mulai awal kegiatan Diklatsar. Mulai dari pendaftaran, perekrutan kegiatan latihan di ruangan, sampai kegiatan di lapangan. Termasuk kronologis kejadian Sabtu lalu yang mengakibatkan dua mahasiswa UNISA meninggal dunia.
"Pemeriksaan ini untuk mengetahui aturan dan prosedur dari kegiatan Diklatsar. Kami masih menyelidikinya apakah ada unsur pidananya. Jika ditemukan, maka akan dinaikkan menjadi penyidikan. Baru nanti langkah selanjutnya, meminta keterangan saksi ahli. Namun kalau tidak ada, ya tidak kami naikkan ke tingkat penyidikan," jelasnya.
Untuk hasil visum luar kedua korban, Adam mengatakan seharusnya hasil visum kemarin sudah jadi dan diserahkan ke Polres Malang. "Namun akan kami tanyakan lagi apa sudah ada hasil visumnya," katanya.
Sekadar diketahui, dua mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UNISA) Surabaya, Sabtu (17/10) lalu tewas saat mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar), Mahasiswa Pecinta Alam Sunan Ampel Surabaya (Mapalsa). Keduanya diduga kecapekan dan dehidrasi saat ikut Diklatsar di lokasi Wana Wisata Sumuran RPH Rejosari, Dusun Bekur, Desa Sumberejo, Kecamatan Pagak.
Mereka adalah Yudi Akbar Rizky K, mahasiswa semester satu, warga Sukolilo Park Regency Surabaya, serta Lutfi Rahmawati, mahasiswa semester tiga warga Jalan Barata Jaya, Surabaya. Yudi meninggal dunia di dalam tenda (kamp) induk. Sedangkan Lutfi, menghembuskan nafas saat perjalanan ke Puskesmas Sumberejo, setelah sebelumnya sempat minta minum.(agp/aim)

Petugas mengamankan baru bukti elpiji oplosan di Dusun Ngepeh Desa Ngijo Karangploso, kemarin.

Distribusi di Kecamatan Lingkar Karangploso
KARANGPLOSO–Sebuah rumah yang dipakai mengoplos elpiji, di Dusun Ngepeh, Desa Ngijo, Kecamatan Karangploso, digrebek Buser Reskrim Polres Malang, kemarin. Pemilik rumah bernama Zainal Abidin (27), diamankan petugas dan dibawa ke Polres. Selain itu, juga disita sebanyak dua pick up tabung gas elpiji ukuran 3 kg dan 12 kg.
Saat ini, tersangka tersebut sudah diamankan di Mapolres Malang untuk dimintai keterangan. “Ini pelakunya baru saja datang dibawa oleh anggota kami. Selanjutnya, akan kami periksa dan dimintai keterangan, terkait hal ini,” ujar Kanit Idik IV Satreskrim Polres Malang, Iptu Sutiyo SH Mhum, kepada Malang Post, kemarin.
Dijelaskannya, pihaknya baru sebatas mengamankan dan memintai keterangan kepada pelakunya. Tujuannya, untuk menguak kasus pengoplosan elpiji yang meresahkan ini. Sedangkan disinggung mengenai kronologis penggerebekan serta penangkapan pelaku elpiji oplosan ini, dia belum mau memaparkannya secara gamblang.
“Karena masih akan pemeriksaan, jadi dimohon untuk sabar menunggu. Karena kami harus menunggu penyidik untuk memintai keterangan,” terang Perwira Pertama (Pama) dengan dua balok di pundaknya ini.
Sedangkan informasi yang dihimpun, penggerebekan itu, bermula atas laporan dari masyarakat sekitar yang sudah resah sejak lama.
Masyarakat khawatir akan terjadi sesuatu yakni ledakan, bila kegiatan pengoplosan elpiji tersebut dibiarkan begitu saja.
“Semula, adik saya ini adalah agen elpiji biasa. Kemudian, dia mengoplos tabung elpiji yang berbahaya tersebut,” kata Budiono, kakak pelaku. Dijelaskannya akibat pengoplosan itu, warga sekitar menjadi terganggu.
Terutama terganggu dengan bau gas yang cukup menyengat, ketika proses pengoplosan tersebut. Hal ini, tentunya membuat warga sekitar menjadi resah. Lantaran dikhawatirkan sewaktu-waktu bisa jadi ledakan maupun kebakaran.
“Saya sudah mengingatkan sebanyak tiga kali, lantaran baunya sangat menyengat. Namun, peringatan tersbeut, tidak didengarkannya. Dia juga tetap melakukan kegiatan oplos gas yang meresahkan warga itu,” paparnya. Akibatnya, warga yang resah melaporkan kejadian tersebut ke petugas kepolisian.
Diperoleh informasi, pengoplosan yang dilakukan oleh pelaku itu, sejak satu tahun belakangan ini. Sedangkan gas elpiji itu, didistribusikan dan dijual ke Karangploso, Singosari dan Dau.(big/ary)  

Mantan laryawan PT Indonesian Tobaco  menggelar demo di depan Mapolres Malang Kota

Mantan Karyawan PT Indonesian Tobacco Resmi Tersangka
MALANG – Mantan karyawan PT Indonesian Tobacco  kemarin kembali mendatangi Mapolres Malang Kota, untuk memberikan dukungan kepada rekan mereka yaitu Liayati, yang ditetapkan penyidik Polres Malang Kota sebagai tersangka kasus penggelapan dana sosial.
“Kami tidak demo. Kami bersama-sama  datang  kesini  untuk memberikan dukungan kepada rekan kami yaitu Liayati yang sekarang diperiksa Unit Reskrim Polres Malang Kota,’’ kata mereka kepada Malang Post.
 Kendati hanya memberikan dukungan, kedatangan para eks buruh PT Indonesian Tobacco ini tetap menjadi perhatian. Apalagi, mereka sempat beberapa kali pindah tempat. Semula  mereka  menunggu di sebelah ruang Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK). Namun kemudian berpindah di depan ruang unit penjagaan. Tidak lama mereka duduk, kemudian keluar dari halaman Polres Malang Kota. Sambil berjalan kaki, mereka menuju di depan papan nama Polres Malang Kota. Disinilah kemudian para mantan karyawan ini duduk, dan menggelar istigotsah. Tidak lebih dari satu jam, setelah menggelar istigotsah,mereka   masuk halaman Polres Malang Kota  dan  duduk di area kantor penjagaan Polres Malang Kota.
Tim hukum Liayati, Abdul Rachman  SH mengatakan, Liayati ditetapkan menjadi tersangka dalam kasus Penggelapan Dana Sosial. Penetapan Liayati ini menyusul rekannya yaitu Syaiful. “Sekarang sedang diperiksa. Sebelumnya, tahun 2014 lalu, Liayati juga diperiksa sebagai saksi, dan baru sekarang diperiksa sebagai tersangka,’’ kata Abdul Rochman.
Ia  menyatakan uang yang digelapkan oleh Sayiful ataupun Liayati merupakan dana sosial yang diberikan perusahaan kepada organisasi SPSI PT Indonesian Tobacco. Tapi kenyataannya, polisi menetapkan hanya Syaiful dan Liayati saja yang ditetapkan sebagai tersebut. “Kita melakukan pendampingingan kepada Liayati. Agar semuanya menjadi jelas dan gamblang,’’ katanya.
Kapolres Malang Kota AKBP Singgamata memastikan  pihaknya tetap mengedepankan  proporsional dan profesional terkait masalah ini. “Kami tidak melakukan kriminalisasi. Kalaupun sekarang keduanya ditetapkan sebagai tersangka, berarti kami sudah mengantongi dua alat bukti yang cukup,’’ katanya.
Kendati membiarkan kedatangan para buruh, tapi Kapolres tetap memberikan syarat kepada eks buruh ini. Pertama tidak masuk ke ruangan penyidikan, dan kedua tidak melakukan orasi. KArena dua hal tersebut akan membuat kinerja kepolisian terganggu.
“Kami tidak ingin berdebat. Jika memang para buruh lainnya protes dan akan melakukan pembelaan terhadap penanganan pada rekan mereka, silahkan di pengadilan. Termasuk jika mereka tidak terima dengan kinerja kepolisian,. Bisa melayangkan pra peradilan. “Kami sangat terbuka, kalau eks buruh tidak terima silahkan melakukan pra peradilan,’’ tandas mantan Kapolres Lumajang ini.(ira/nug)

MALANG - Seorang PNS di lingkungan Pemkot Batu, Sri Purnomo, 38 tahun, mengalami kecelakaan maut sesaat setelah pulang dari kantornya, kemarin (21/10/15) sore. Staf Bidang Kehutanan dari Dinas Pertanian dan Kehutanan Kota Batu ini, terlindas truk di Jl Jetis, Kabupaten Malang, saat hendak pulang ke rumahnya di Kelurahan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang.
Keterangan yang dihimpun Malang Post kemarin, Sri Purnomo mengalami kecelakaan sekitar pukul 16.15 WIB. Saat itu, ia baru saja pulang dari kantornya bersama seorang temannya yang juga merupakan staf Dinas Pertanian dan Kehutanan. Saat kejadian berlangsung, temannya melihat Purnomo sedang menyalip truk dari sebelah kiri. Kemudian, dengan alasan yang belum diketahui, tiba-tiba sepeda motor yang dikendarai Purnomo terjatuh. Lantas kejadian tersebut membuat Purnomo yang posisinya mepet dengan truk yang ia salip.
Seketika itu juga, Purnomo meninggal dunia di tempat. Ia langsung dijemput ambulans dan dibawa ke Kamar Mayat (KM) Rumah Sakit Syaiful Anwar (RSSA) Malang beberapa menit setelah kejadian. Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kota Batu, Budi Santoso yang mendapat kabar duka itu langsung menuju ke KM RSSA.
"Sebelum pulang tadi dia masih bersama saya dan satu mobil dengan saya. Terus, sesampainya di kantor dia absen kemudian pulang," kata Tosi, panggilan akrab Budi Santoso, saat ditemui di KM RSSA tadi malam.
Tosi mengaku kaget mendengar kabar tersebut. Sebab, selama ini Purnomo dikenal sebagai staf yang baik. Ia pendiam, namun santun dan disiplin. Peristiwa tersebut, menjadi kabar duka tersendiri di lingkungan Pemkot Malang. Tosi berjanji, pihaknya akan memberi santunan kepada keluarga korban. "Saat mendengar kabar ini, saya sedang melakukan giat pembinaan petani di Junrejo. Tapi, baru saja duduk untuk membuka acara, saya mendapat kabar tentang peristiwa itu. Jelas saya kaget dan menghubungi staf lainnya untuk segera menghubungi pihak keluarga," tegas Tosi yang juga mengaku panik karena perjalanan menuju RSSA saat itu, kondisi jalan sedang macet.
Sementara Sri Rahayu, saudara ipar Purnomo yang juga tengah berada di KM RSSA tadi malam, mengaku telah menghubungi istri dan orang tua. Sri mengaku tidak menyangka kalau peristiwa tersebut bakal menimpa Purnomo. Sri yang saat itu masih berlinang air mata mengaku, terakhir bertemu Purnomo sekitar dua minggu lalu.
"Dia baru pulang dari Semarang, asalnya Solo. Tadi (kemarin) istri dan orang tuanya sudah kesini. Mereka kembali ke rumah lebih dulu," jelas Sri.
Pantauan Malang Post tadi malam, Sri ditemani suami dan beberapa kerabatnya. Sedangkan, Tosi ditemani sejumlah staf dari Dinas Pertanian dan Kehutanan Kota Batu. Jenazah Purnomo, dibawa ke rumah duka di Merjosari sekitar pukul 19.30 WIB. (erz/ary)