Malang Post

Kriminal


Penyelewengan Dana Dikti , Sentuh Pejabat Rektorat

MALANG - Pekan depan, dugaan penyelewengan dana Dikti segera memasuki babak baru. Yakni ekspose. Hingga akhir minggu ini, Kejaksaan Negeri Malang terus mengebut proses penyidikan. Sejumlah saksi dipanggil, untuk memberikan keterangan dihadapan para penyidik Kejaksaan Negeri Malang.
Data yang dihimpun Malang Post, penyelidikan hingga ke tahap penyidikan telah mendatangkan sejumlah nama. Diantaranya mantan pejabat rektorat berinisial Tj, Su, Pa,  bendahara Fi dan Pi yang masih aktif. Termasuk juga sejumlah dosen di Kampus Universitas Kanjuruhan Malang.
Salah saksi penting adalah mantan Pembantu Rektor, berinisial Pa, yang mengajukan bantuan Dikti tersebut. Belum diketahui secara pasti, dana dari Dikti itu turun ke rekening siapa. Namun menurut informasi, dana sebesar Rp 2,3 miliar untuk proyek fisik, kemudian diberikan Pa kepada bendahara Fi.
Proyek fisik tersebut, berupa pembangunan gedung serbaguna di Universitas Kanjuruhan Malang. Sebelum dana turun, sebenarnya proyek telah dikerjakan, kemudian dilanjutkan setelah dana turun dari Dikti. Terkait kasus ini, sejumlah saksi dari Unikama juga telah menggandeng kuasa hukum.
Termasuk saksi Pa yang menggandeng H. Maskur SH yang merupakan pengacara anggota Ikadin. Ketika ditemui Malang Post, Maskur mengakui dia mendampingi Pa. Dikonfrontir mengenai dana Rp 2,3 miliar yang diberikan kepada Fi, Maskur membenarkan.
‘’Saya belum tahu dulu dari Dikti turun ke rekening siapa? Tapi benar Pak Pa menyerahkan ke Fi dan ada tanda terima. Penggunaan dana itu untuk pembangunan juga ada kwitansinya,’’ jelas Maskur kepada Malang Post.
Gedung itu sudah dalam dalam posisi terbangun, sebelum dana Dikti cair. Total menghabiskan anggaran sekitar Rp 6 – 8 miliar. Setahu Maskur, gedung tersebut kemudian selesai total pada Oktober 2008. Kala itu juga, ada berita acara ang didahului dengan penyerahan dana Rp 2,3 miliar.
‘’Dana yang diserahkan itu kemungkinan kepada pelaksana proyek, soal Rp 700 juta, untuk pengembangan SDM, klien saya tidak tahu,’’ imbuhnya.
Yang paling penting dalam kasus itu, menurut Maskur, tidak ada kerugian negara apapun. Jika itu merugikan negara, maka dia meminta kejaksaan melakukan audit. Bahkan juga melibatkan tim appraisal untuk menaksir nilai dari gedung yang berasal dari proyek Dikti.
‘’Ya harus diakui ada kesalahan administrasi, terutama terkait tender. Tapi tidak ada kerugian negara. Silakan saja diaudit,’’ terangnya.
Menurut dia, seharusnya pembangunan dipisahkan antara yang memakai dana lama dan dikti. Agar tidak rancu dan memunculkan permasalahan seperti ini. Untuk itu, kejelasan terkait pemakaian dana, bisa diketahui melalui audit. (ary/avi)

Polisi Periksa Lima Saksi Perampkan UPT Murnajati

DIBOBOL : TKP UPT Latkesmas Murnajati Lawang, yang menjadi sasasaran perampkan tampak sepi.

LAWANG - Penyelidikan terhadap para pelaku perampokan di UPT Pelatihan Kesehatan Masyarakat (Latkesmas) Murnajati Lawang, terus dilakukan Polisi. Hasil sementara, pelaku sangat profesional dan paham benar terhadap seluk beluk tempat pelatihan milik Provinsi Jawa Timur (Jatim) tersebut. Para pelaku sangat cepat dan lihai saat menjalankan aksinya.
Karena itu, Polisi fokus pada residivis yang baru keluar dari lembaga pemasyarakatan dan jaringan pelaku perampokan yang selama ini belum dapat ditangkap oleh petugas kepolisian.
“Pelaku yang jelas profesional dan berani. Karena tidak butuh lama melumpuhkan kedua penjaga,“ terang sumber Malang Post di Polsek Lawang kemarin.
Menurut pria yang minta tidak disebutkan identitasnya itu mengemukakan Reskrim Polsek Lawang juga sudah mendalami kemungkinan pelaku yang sering beraksi antar kota. Pasalnya, Kecamatan Lawang merupakan pintu masuk Kabupaten Malang. Sehingga tempatnya berdekatan dengan Kabupaten Pasuruan.
“Kemungkinan para pelakunya yang sering berkasi antar kota maupun kabupaten. Tidak dipungkiri juga kawanan perampok tersebut berasal dari luar Malang,“ bebernya.
Sementara itu, hingga sekarang Reskrim Polsek Lawang sudah memeriksa lima orang saksi yang terkait dengan perisitiwa tersebut. Yakni tiga orang petugas Satpol PP Provinsi Jatim yang sekaligus korban yakni Topo, Yudi dan Faiz. Sedangkan dua saksi lainnya yakni Lasito dan Suliyah yang membebaskan tiga penjaga yang diikat.
“Kelimanya sudah diperiksa secara maraton selama dua hari berturut-turut,“ ujar Kanit Resrkrim Polsek Lawang Iptu Imron SH. M.Hum.
 Mantan Kait Reskrim Polsek Kepanjen ini menjelaskan, dari hasil pemeriksaan itu, diketahui ciri-ciri kawanan perampok yag menggondol uang tunai Rp 3.5 juta.
Dia merinci ciri-ciri antara lain, pelaku melakukan ancaman dengan logat bahasa Indonesia Timur, tiga orang berbadan tinggi-tegap, dua orang berbadan sedang tegap dan mengancam menggunakan parang..
“Ya bisa saja pelakunya berasal dari luar Malang. Termasuk juga para pelaku berkedok menggunakan logat bahasa Indonesia Timur bisa saja terjadi. Kemungkinan-kemungkinan itu bisa saja terjadi dan saat ini masih kami dalami,“ terangnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, perampokan di UPT Latkesmas Murnajati Lawang terjadi pada Jumat (31/10) kemarin. Pelaku yang dietahui berjumlah lima orang itu, beraksi sekitar pukul 02.30 wib dini hari dan menggondol uang Rp 3.5 juta yang akan digunakan untuk membayar langganan listrik  (big/aim)

Sugiyanto Ditetapkan Sebagai Tersangka Pengroyokan

KEPANJEN – Kasus pengeroyokan yang diduga melibatkan anggota DPRD Kabupaten Malang, Sugiyanto tinggal selangkah lagi. Polisi tinggal menunggu izin resmi dari gubernur Jawa Timur untuk memeriksa politisi dari Fraksi Partai Golkar (FPG) tersebut dengan status tersangka.
Pernyataan itu disampaikan Kasatreskrim Polres Malang, AKP Muhammad Aldy Sulaeman, kepada Malang Post. Menurutnya, setelah izin pemeriksaan dari Gubernur Jatim turun, secepatnya Sugiyanto akan dipanggil untuk dimintai keterangan sebagai tersangka.
“Surat izin pemeriksaan ke gubernur Jatim, baru akan kami layangkan Senin (4/11). Nanti setelah izin turun akan langsung kami layangkan surat pemanggilannya,” ujar Aldy.
Kata dia, rencana pemanggilan Sugiyanto tersebut, setelah penyidik merampungkan pemeriksaan terhadap lima orang saksi. Diantaranya Untung, korban pemukulan sekaligus pelapor. Lalu MY warga Kecamatan Bantur, yang juga salah satu korban pemukulan.
Kemudian SM, pemilik warung yang mengetahui kejadian, SW, warga Kecamatan Gedangan serta SS, warga Kecamatan Bantur, yang merupakan saksi mata.
“Dalam keterangan kelima saksi yang sudah diperiksa, mereka mengatakan sama. S (Sugiyanto) yang disebut sebagai anggota dewan ikut melakukan pemukulan,” terang Aldy.
Sementara itu, sembari menunggu surat izin pemeriksaan Sugiyanto dari gubernur Jatim turun, Senin (4/11) besok polisi akan memanggil empat orang yang diduga ikut melakukan pengeroyokan. Salah satunya bernama Suwadi. Surat pemanggilan keempat pelaku lain ini, akan dilayangkan hari ini.
Hanya untuk status pemanggilan mereka sementara baru sebagai saksi. Nantinya setelah izin pemeriksaan Sugiyanto turun, mereka akan diperiksa lagi sebagai tersangka. “Besok (hari ini, red) surat pemanggilan untuk mereka akan diberikan penyidik. Jika dua kali pemanggilan tidak datang, baru nanti akan kami paksa dengan menjemputnya,” tegas mantan tenaga pendidik SPN Brimob Polda Jatim ini.
Seperti diberitakan sebelumnya, anggota FPG, Sugiyanto dilaporkan Untung ke Mapolres Malang. Sugiyanto dilaporkan Untung atas tuduhan pengeroyokan yang terjadi di warung kopi di Desa Srigonco, Kecamatan Bantur. Aksi itu berlangsung, diduga karena bermotif masalah penambangan pasir besi yang ada Gedangan.(agp/aim)

Siap Diperiksa
Anggota FP Golkar DPRD Kabupaten Malang, Sugiyanto bersikap proaktif terhadap rencana pemanggilan dirinya oleh penyidik Polres Malang. Pria yang disangka melakukan pengeroyokan terhadap Untung, 48 tahun warga Desa Tumpakrejo, Kecamatan Gedangan, mengaku siap menjalani pemeriksaan jika memang penyidik mengharap keterangan darinya.
“Sebagai warga negara yang taat hukum, saya siap jika memang diminta untuk memberikan keterangan. Karena bagaimana pun, dari situ akan terurai kebenaran atau tidaknya, tuduhan yang diarahkan kepada saya,” kata pria yang duduk sebagai anggota Komisi D DPRD Kabupaten Malang itu.
Disinggung mengenai surat panggilan, pria yang domisili di Desa Pringgondani-Bantur itu mengungkapkan, untuk sementara masih belum diterimanya. Karenanya, masih ditunggu apakah memang ada surat panggilan untuknya atau malah memanggil saksi lain.
“Kalau memang ada (surat panggilan), tentunya datang. Tapi sementara ini masih belum ada,” terangnya.
Ditanya kembali soal kejadian yang membuat namanya terseret tuduhan, pria berkumis itu menjelaskan, dirinya tidak tahu jelas dengan kejadian yang berlangsung di warung kopi Desa Srigonco, Kecamatan Bantur. Keberadaan dia di lokasi itu, karena ada aksi perkelahian yang melibatkan Untung dan Sumadi. Dengan tujuan untuk melerai, makanya dia turun dari mobil yang ditumpanginya bersama istri dan anak serta sopir.
“Apa kejadian yang sesungguhnya, saya tidak tahu. Justru karena saat akan pulang ada perkelahian, saya berhenti dan mencoba melerai,” terangnya. (sit/aim)
Last Updated on Saturday, 02 November 2013 11:09

Polisi Periksa Lima Saksi Perampkan UPT Murnajati

TKP UPT Latkesmas Murnajati Lawang, yang menjadi sasasaran perampkan tampak sepi.

LAWANG - Penyelidikan terhadap para pelaku perampokan di UPT Pelatihan Kesehatan Masyarakat (Latkesmas) Murnajati Lawang, terus dilakukan Polisi. Hasil sementara, pelaku sangat profesional dan paham benar terhadap seluk beluk tempat pelatihan milik Provinsi Jawa Timur (Jatim) tersebut. Para pelaku sangat cepat dan lihai saat menjalankan aksinya.
Karena itu, Polisi fokus pada residivis yang baru keluar dari lembaga pemasyarakatan dan jaringan pelaku perampokan yang selama ini belum dapat ditangkap oleh petugas kepolisian.
“Pelaku yang jelas profesional dan berani. Karena tidak butuh lama melumpuhkan kedua penjaga,“ terang sumber Malang Post di Polsek Lawang kemarin.
Menurut pria yang minta tidak disebutkan identitasnya itu mengemukakan Reskrim Polsek Lawang juga sudah mendalami kemungkinan pelaku yang sering beraksi antar kota. Pasalnya, Kecamatan Lawang merupakan pintu masuk Kabupaten Malang. Sehingga tempatnya berdekatan dengan Kabupaten Pasuruan.
“Kemungkinan para pelakunya yang sering berkasi antar kota maupun kabupaten. Tidak dipungkiri juga kawanan perampok tersebut berasal dari luar Malang,“ bebernya.
Sementara itu, hingga sekarang Reskrim Polsek Lawang sudah memeriksa lima orang saksi yang terkait dengan perisitiwa tersebut. Yakni tiga orang petugas Satpol PP Provinsi Jatim yang sekaligus korban yakni Topo, Yudi dan Faiz. Sedangkan dua saksi lainnya yakni Lasito dan Suliyah yang membebaskan tiga penjaga yang diikat.
“Kelimanya sudah diperiksa secara maraton selama dua hari berturut-turut,“ ujar Kanit Resrkrim Polsek Lawang Iptu Imron SH. M.Hum.
 Mantan Kait Reskrim Polsek Kepanjen ini menjelaskan, dari hasil pemeriksaan itu, diketahui ciri-ciri kawanan perampok yag menggondol uang tunai Rp 3.5 juta.
Dia merinci ciri-ciri antara lain, pelaku melakukan ancaman dengan logat bahasa Indonesia Timur, tiga orang berbadan tinggi-tegap, dua orang berbadan sedang tegap dan mengancam menggunakan parang..
“Ya bisa saja pelakunya berasal dari luar Malang. Termasuk juga para pelaku berkedok menggunakan logat bahasa Indonesia Timur bisa saja terjadi. Kemungkinan-kemungkinan itu bisa saja terjadi dan saat ini masih kami dalami,“ terangnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, perampokan di UPT Latkesmas Murnajati Lawang terjadi pada Jumat (31/10) kemarin. Pelaku yang dietahui berjumlah lima orang itu, beraksi sekitar pukul 02.30 wib dini hari dan menggondol uang Rp 3.5 juta yang akan digunakan untuk membayar langganan listrik  (big/aim) 

Bekuk Penadah Motor Curian

Para pelaku kejahatan bersama dengan barang bukti saat digelar oleh Waka Polres Malang dan Kasatreskrim Polres Malang.

MALANG – Petugas Buser Polres Malang, berhasil meringkus empat penadah sepeda motor hasil kejahatan. Diantaranya Deri, 44 tahun, warga Desa Banjerjo, Kecamatan Donomulyo, Kuswandi, 39 tahun, warga Desa Sumberbening, Kecamatan Bantur, Agus Subagyo, 30 tahun, warga Dusun Gunung Ireng, Desa Tambakasri Kecamatan Sumbermanjing Wetan, serta Jemingan, 48 tahun, warga Desa Sumbermanjing Kulon, Kecamatan Donomulyo.
“Mereka ini kami tangkap secara terpisah di rumahnya masing-masing. Selain mereka, kami juga mengamankan barang bukti enam unit sepeda motor berbagai jenis, senjata tajam serta hasil kejahatan lainnya,” ungkap Waka Polres Malang Kompol Pranatal Hutajulu.
Empat penadah motor saat diperiksa kalau mereka hanya membeli motor tanpa surat lengkap. Deri mengaku membeli sepeda motor Kawasaki Blade kepada Kuswandi seharga Rp 2,5 juta setahun lalu. Kuswandi, mengatakan kalau dirinya hanya sebagai makelar yang disuruh Darmaji warga Gedangan. Dua kali menjualkan motor dia mendapat komisi Rp 100 ribu.
Lalu Agus Subagyo, mengaku membeli sepeda motor Jupiter seharga Rp 2 juta sekitar empat tahun lalu. Sedangkan Jemingan membeli sepeda motor Honda Supra Fit pada Wawan, warga Desa Sumberbening, Kecamatan Bantur seharga Rp 2 juta sekitar empat tahun lalu. (agp/aim)

Page 172 of 178