Kriminal

Malang Post

Kriminal

Kabar Peristiwa dan Kriminal terkini di Malang Raya

Lima Anggota BK Jadi Saksi Lukito

Terdakwa Lukito Eko Purwandono, bersama kuasa hukumnya ketika menjalani persidangan.

MALANG – Lima anggota Badan Kehormatan (BK) DPRD Kabupaten Malang dihadirkan di Pengadilan Negeri (PN) Kepanjen. Mereka menjadi saksi kasus dugaan perzinahan yang dilakukan terdakwa Anggota DPRD Kabupaten Malang Lukito Eko Purwandono, dengan pasangan selingkuhnya Itje Permatasari.
Kelima anggota BK tersebut, Rahmat Kertala, Cholis Bidayati, Abdul Rochim, M Tayip serta Didik Gatot Subroto. Mereka dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) sebagai saksi, karena nama-nama mereka tercantum dalam berita acara pemeriksaan (BAP).
“Pemanggilan anggota BK ini, berkaitan dengan pemeriksaan yang dilakukan BK terhadap Lukito dan Itje. BK sebelumya pernah mmeriksa Lukito karena merupakan anggota dewan. Tetapi karena tidak ada  titik temu, perkaranya dilimpahkan ke Polres Malang,” terang Juni Ratnasari, JPU Pengadilan Negeri Kepanjen kepada Malang Post, kemarin.
Juni mengatakan, pemeriksaan kelima anggota BK sebagai saksi ini, karena JPU ingin mendengarkan secara langsung upaya Badan Kehormatan, atas kasus perzinahan. Bagaimana usaha untuk menyelesaikan dan mendamaikan permasalahan perzinahan tersebut, secara kekeluargaan. Termasuk sepengetahuan BK terkait Hotel Surya yang menjadi lokasi pertemuan Lukito dengan Itje.
Ketua Badan Kehormatan DPRD Kabupaten Malang Rahmat Kertala mengatakan, dirinya bersama anggota BK lainnya sama sekali tidak tahu peristiwa di Hotel Surya. Apa yang terjadi di dalam hotel tersebut, BK tidak tahu. BK hanya sekadar menerima laporan dari H Sukma Raharja (suami Itje Permatasari), tentang perselingkuhan dan perzinahan yang dilakukan Lukito.
Dari laporan H Sukma tersebut, BK langsung berupaya menyelesaikan permasalahan dengan memanggil kedua pihak. Namun tiga kali pemanggilan, untuk dilakukan islah terus gagal. Sebab, Itje mengakui perselingkuhan dan perizanahan dengan Lukito, sementara Lukito sendiri membantah dan mengatakan sama sekali tidak pernah.
“Apa yang kami sampaikan pada persidangan, prosedural sesuai kewenangan BK, karena Lukito merupakan anggota DPRD Kabupaten Malang. Dan sebelumnya kami bertindak, karena mendapat pengaduan,” papar Rahmat. Untuk agenda sidang selanjutnya pada Senin 29 Juni dengan agenda pemeriksaan Lukito.(agp/aim)

Ditagih Hutang, Korban Dibabat Clurit

MALANG POST – Harga nyawa manusia di Surabaya, kian murah saja. Lihat saja, hanya gara-gara ditagih hutang Rp 500 ribu, Sahdi, 39 tahun, nekad menghabisi nyawa Muhammad yang tidak lain kawannya sendiri. ‘’Saya gerah terus menerus ditagih. Sudah saya beritahu kalau masih belum punya uang, tetap saja tidak percaya,’’ aku Sahdi saat gelar perkara di Mapolrek Pelabuhan Tanjung Perak, Rabu kemarin.
Menurut AKBP Arnapi, Kapolres Tanjung Perak, usai menghabisi nyawa korbannya pelaku langsung kabur ke Madura. Aksi pembacokan dilakukan Sahdi pada Senin (22/6) di rumah korban di Jl. Semampir Surabaya.
‘’Usai membacok korban sampai tewas, Sahdi kabur ke Madura dan dibekuk Satreskrim di rumah orang tuanya di Madura, Rabu (24/6),’’ kata Arnapi sembari menunjukkan sebilah clurit yang digunakan pelaku menghabisi korbannya.
Dalam keterangannya kepada penyidik, lanjut Arnapi, pelaku mengaku membunuh  saat ditagih hutang oleh korban. Saat menagih hutang itu korban juga membacok Sahdi dan mengenai dahinya. ‘’Tersangka langsung melawannya dan pulang ke rumahnya mengambil sajam jenis clurit. Sekitar Senin Subuh, pelaku mencari korban untuk balas dendam dengan menyerang sampai tewas,’’ papar Arnapi.
Ditambahkan, dari penangkapan pelaku diamankan barang bukti clurit yang digunakan untuk menghabisi korban. Selain itu, diamankan pakaian yang dipakai korban saat dihabisi oleh pelaku. ‘’Pelaku disangkakan dengan pasal 351 Jo pasal 338 KUHP dengan sanksi pidana 15 tahun penjara,’’ tandasnya. (has/udi)

Kepetengan Desa Wonokerto Edarkan Sabu

Penyidik Reskoba Polres Malang, menunjukkan barang bukti sabu-sabu yang diamankan.

MALANG – Peredaran narkotika di Kabupaten Malang terus berkembang. Mata rantai jaringan barang haram ini masih sulit terputus. Awal pekan lalu, Satuan Reskoba Polres Malang kembali menangkap dua orang budak narkotika. Keduanya pengguna dan pengedar sabu-sabu (SS).
Salah satu tersangkanya, Busiri, 45 tahun, warga Dusun Krajan, Desa Karangsari, Kecamatan Bantur. Pria kelahiran 8 April 1970 ini, merupakan pemakai sabu-sabu. Busiri yang bekerja sebagai tukang parkir ini, merupakan residivis. Tahun 2012 lalu, pernah ditahan di LP Lowokwaru karena kasus yang sama.
“Tersangka Busiri ini, baru sekitar sepuluh bulan lalu bebas. 2012 lalu, ia dihukum 4,5 tahun penjara. Namun karena mendapat remisi dan potongan, akhirnya bebas,” ujar Kasatreskoba Polres Malang, AKP Samul Hidayat kepada Malang Post, kemarin.
Satu tersangka lagi adalah Sunardi, 43 tahun, warga Dusun Gampingan, Desa Wonokerto, Kecamatan Bantur. Pria kelahiran 1 September 1971 ini, merupakan perangkat Desa Wonokerto, bertugas sebagai kepetengan desa.
Menurut Samsul, penangkapan kedua budak narkotika ini, berawal dari informasi masyarakat. Warga melaporkan kalau di wilayah Dusun Gampingan, Desa Karangsari, marak beredar narkotika. Berangkat dari informasi itu, polisi kemudian melakukan penyelidikan.
Hasilnya, polisi menangkap Busiri. Residivis ini ditangkap sesaat setelah membeli sepoket SS. Dari tangannya, polisi mengamankan barang bukti sepoket SS. “Awalnya saat akan kami tangkap, tersangka Busiri ini mengelak. Ia bahkan menantang anggota yang mau menangkap. Namun setelah kami geledah dan ditemukan sepoket SS, ia tidak bisa mengelaknya,” terang Samsul.
Dari penangkapan Busiri ini, kemudian diperoleh informasi kalau barang haram SS, dibeli dari Sunardi seharga Rp 200 ribu per-poket. Akhirnya polisi memburu Sunardi di rumahnya. Saat ditangkap, Sunardi sama sekali tidak melakukan perlawana, ia mengakui semua perbuatannya.
Sedangkan Sunardi, mengatakan mendapat pasokan barang haram sabu-sabu, dari seorang warga Kota Malang. Ia biasa mendapat barang sebulan sekali. “Kami masih terus kembangkan kasusnya. Untuk mereka berdua ini, kami jerat pasal 114 undang-undang nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika,” tuturnya.(agp/aim)

BMI Syariah Beri Beasiswa Putri Wiji

Jenazah Wiji Astutik, TKW asal Kecamatan Bantur, yang menjadi korban pembunuhan di Hongkong, saat tiba di rumah duka.

Tiba di Bantur, Jenazah Wiji Langsung Dikebumikan
MALANG – Setelah tertahan beberapa hari di Hongkong, jenazah Wiji Astutik, TKW asal Dusun Krajan, Desa Wonokerto, Kecamatan Bantur, akhirnya dipulangkan. Jenazah tiba di rumah duka Selasa tengah malam sekitar pukul 23.30.
Setelah satu jam disemayamkan di dalam rumah dan didoakan, pukul 00.30 dini hari kemarin, jenazah lalu dimakamkan di tempat pemakaman umum desa setempat. Jaraknya sekitar dua kilometer dari rumah korban. Saat kepulangan Selasa malam lalu, puluhan warga sudah berkumpul sejak beberapa jam sebelum jenazah tiba. Termasuk Supardi, ayah kandung Wiji dan Rahayu Putri (anak Wiji, red) serta keluarga lainnya.
Mobil ambulans milik UPT P3TKI Surabaya Disnaker Jatim nopol L 9166 GP tersebut, langsung dikerubung warga. Di dalam ambulans, terlihat kotak kayu besar yang berisi jenazah Wiji.
Jenazah tidak langsung diturunkan dan diserahkan kepada pihak keluarga. Penyerahan jenazah menunggu Agustaf, staf KJRI Hongkong yang tertinggal dari rombongan. Tak lama setelah ditunggu, akhirnya Agustaf tiba dan menyerahkan jenazah kepada keluarga, sekaligus turut mengucapkan belasungkawa.
“Mohon jenazah tidak dikeluarkan, karena kondisi jenazah sudah rusak. Tetapi jenazah sudah disucikan,” kata Agustaf. Ia juga menyampaikan kalau Wiji, merupakan korban pembunuhan. Jenazahnya ditemukan pada 8 Juni 2015 lalu. “Untuk pelaku pembunuhannya sudah ditangkap. Tersangkanya dari Pakistan dan India,” sambungnya.
Devi Melissa Silalahi, staf fungsional diplomat Kementrian Luar Negeri, yang memfasilitasi pemulangan jenazah Wiji ikut hadir. Menurutnya jenazah dipulangkan dengan pesawat Chathay Pasific dan mendarat di Bandara Juanda pukul 20.00, baru kemudian dibawa pulang ke rumah duka.
Dikatakan Devi, dalam kasus yang dialami Wiji Astutik, polisi Hongkong telah menetapkan dua orang tersangka. Pertama sang pacar bernama Wahaz, berkewarganegaraan Pakistan. Ia diduga pelaku utamanya. Kemudian satu tersangka lagi seorang pria warga India. Perannya hanya membantu upaya melarikan diri ke RRT dengan naik kapal feri.
“Apa penyebab pembunuhannya, kami masih belum tahu. Bias saja menjadi tahap penyidikan otoritas di sana (Hongkong, red). Dan setiap perkembangannya, perwakilan kami di Hongkong akan terus memantau proses penyidikan dan persidangannya,” papar Devi.
Rinda Lestari, 24 tahun, adik kandung Wiji Astutik yang bekerja di Taiwan, mengatakan bahwa keluarga sudah ikhlas dan merelakan kepergiannya. Namun keluarga tetap berharap, pelaku bisa dihukum berat sesuai aturan hukum di Hongkong.
Soal masa depan Rahayu Putri, Rinda mengatakan nantinya akan menjadi tanggungjawabnya. Selain itu, juga dibantu dari Buruh Migran Indonesia (BMI) Syariah, yang memberikan beasiswa Rp 200 ribu tiap bulan, mulai Juni 2015 sampai setahun ke depan. Baru setelah itu nantinya akan dilakukan evaluasi lagi.
“Saya terakhir bertemu dengan kakak pada 2009 di Hongkong. Kakak saya Wiji, memiliki Paper Hongkong sejak 2008 sehingga mendapat tunjangan uang dari pemerintah Hongkong. Alasan selama 10 tahun kakak saya tidak pulang, karena ingin mengumpulkan uang. Dan pesan yang selalu saya ingat, kalau dia titip kepada saya untuk menjaga keluarga dan anaknya,” beber Rinda.(agp/aim)

Lama Hilang, Ditemukan Jadi Kerangka

MALANG – Setelah lama menghilang, Sri Bawon, 68 tahun, akhirnya ditemukan sore kemarin. Warga Dusun Tanjungsari, Desa Kuwolu, Kecamatan Bululawang ini, ditemukan sudah dalam kondisi tidak bernyawa. Bahkan, sudah menjadi kerangka.
Ia ditemukan di tengah kebun tebu yang berjarak sekitar 4 kilometer dari rumahnya. Ketika diketemukan posisinya tergeletak di atas tanah. Keluarga meyakini bahwa kerangka itu Sri Bawon, dari pakaian dan beberapa bukti lain yang melekat di tubuh korban.
“Keluarga mengenali identitas korban dari barang yang melekat, mulai dari pakaian, jarik, kerudung serta cincin yang melekat di jari tangan kanan,” ungkap Kapolsek Bululawang, Kompol A Napitupulu kepada Malang Post, kemarin.
Menurutnya, kali pertama yang menemukan korban adalah Sulaiman, warga Desa Bajalan, Kecamatan Bululawang. Sore kemarin sekitar pukul 15.00, saksi berniat mencari rumput untuk pakan ternaknya.
Ketika mencari rumput ini, saksi terkejut dengan kerangka manusia yang ada di tengah kebun. Takut dituduh macam-macam, saksi lantas memberitahukan pada warga sekitar, yang kemudian melaporkan ke perangkat desa dan petugas Polsek Bululawang.
Dari keterangan pihak keluarga, bahwa korban hilang sejak beberapa bulan lalu. Sebelum hilang korban diketahui keluar rumah. Saat itu tanpa ada yang mengetahui kemana perginya. Karena diketahui bahwa korban mengalami pikun, akhirnya dilaporkan hilang.
Sejak hilangnya itu, keluarga sudah berusaha melakukan pencarian ke beberapa tempat namun tidak berhasil. Bahkan, keluarga juga sudah pernah menggelar selamatan di rumahnya.
“Setelah dievakuasi jenazah korban dibawa pulang ke rumah duka untuk dimakamkan. Pihak keluarga menolak dilakukan otopsi, karena telah menerima kematiannya,” jelas Napitupulu.(agp/aim)

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL