Malang Post

Kriminal


ITN Mengaku, 53 Mahasiswa Disanksi

MALANG - Sekelompok massa yang mengatasnamakan Aliansi Mahasiswa Anti Kekerasan (AMAK), kemarin (9/12) melakukan aksi demontrasi.
Aksi itu, terkait tewasnya Fikri Dolasmantia Satria, mahasiswa baru Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, saat mengikuti Kemah Bakti Desa (KBD) dan Temu Akrab jurusan Planologi, di Goa Cina, 12 Oktober lalu.
Massa memulai aksinya dengan berorasi di jalan Veteran Malang. Dilanjutkan long march menuju kampus 1 ITN Malang, di Jalan Sigura-gura. Di depan kampus tersebut massa kembali berorasi untuk menyatakan tuntutannya. (lihat grafis)
‘’Keterangan saksi dari peserta, acara tersebut (KBD, Red.) sudah terjadi tindak kekerasan dan tindak asusila dari panitia penyelenggara, terhadap mahasiswa baru,’’ ujar Lalu Takim Mustakin, Humas Aksi.
Beberapa tindak kekerasan itu, kata dia, penganiayaan fisik (tendangan), penyiraman air bawang ke wajah salah satu mahasiswi, dan hanya diberikan 1-2 botol air untuk 114 peserta.
Ketika menemui massa, Pembantu Rektor 3, I Wayan Mundra, mengakui, ada mahasiswa yang tewas saat kegiatan, yang dijadwalkan terlaksana pada 9-13 Oktober silam itu. Tetapi dia menyangkal jika dikatakan ada pembunuhan.
‘’Kalau kelalaian yang berakibat kematian, kita mengakui itu. Tapi kami selesaikan dengan pihak keluarga secara baik-baik dan penuh tanggung jawab. Kami tidak menutup diri terhadap tindak lanjut yang ingin disampaikan atau dilakukan pihak keluarga,’’ jelasnya dihadapan pengunjuk rasa.
Pimpinan ITN, kata Wayan, juga telah menemui keluarga Fikri. ‘’Kami tidak menganggap masalah ini selesai. Kalau keluarga masih ingin berkomunikasi kami, silaha. ITN menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan,’’ tandasnya.
Bahkan akibat kejadian tersebut, kampus langsung membekukan kegiatan-kegiatan himpunan selama setahun kedepan. Sanksi tersebut diambil berdasarkan pedoman dan aturan yang ada di ITN. ‘’Prosesnya dibantu oleh jurusan. Mereka yang paling tahu secara jelas,’’ imbuh pria berkaca mata itu.
Untuk permasalahan hukum, pihaknya mengaku belum mengambil tindakan. Alasannya, proses yang dilakukan ITN, dengan cara kekeluargaan. Baik di dalam, maupun di luar kampus.
Terpisah, Sekretaris Jurusan Teknik Planologi ITN Malang, Arief Setiyawan, juga membantah adanya tindak kekerasan dan asusila yang dilakukan panitia terhadap mahasiswa baru. Meski dia juga mengakui, beberapa foto yang beredar di dunia maya itu benar.
Namun mengenai foto tindak asusila, dia mengaku yang ada dalam foto itu bukan mahasiswanya. ‘’Foto yang anak-anak jongkok untuk push up itu benar. Tapi kalau yang foto asusila, bukan mahasiswa kami,’’ tegasnya.
Dia lantas bertutur, dalam KDB itu, memang ada beberapa pos untuk menguji mental, selama perjalanan pulang dari tempat acara, menuju rumah warga, tempat mahasiswa menginap.
Menurutnya, pengujian mental tersebut, tidak melibatkan kekerasan fisik. ‘’Tidak ada pemukulan. Hanya saja sempat ada panitia yang mendorong pelan kepala (menjendul) mahasiswa baru,’’ tegasnya.
Soal kematian Fikri itu sendiri, Jurusan Teknik Planologi ITN juga memiliki kronologis. Menurut Arief, ketika itu dilakukan kegiatan menanam mangrove, pada Sabtu (12/10). Kegiatan itu juga dihadiri DKP Kabupaten Malang, polisi hutan, dan beberapa elemen lain.
‘’Perjalanan dari kampung ke tempat itu, 30 menit. Ketika jalan almarhum kecapekan. Sempat berhenti 3-4 kali. Biasanya jika ada yg sakit, ada dikasih pita kuning. Beberapaa anak, pakai pita kuning. Fikri tidak ada pita karena tidak mengaku sakit macam-macam,’’ jelasnya.
Tetapi setelah Fikri diketahui sakit, panitia didampingi tim SAR, langsung bergegas membawanya ke Puskesmas Sitiharjo. ‘’Saat perjalanan Fikri sudah meninggal. Sampai Puskesmas langsung dinyatakan meninggal. Lalu dibawa ke RS. Yang dibawa ke Puskesmas ada 2 orang. Teman Fikri cuma kecapekan,’’ terangnya.
Meski demikian, pihak kampus telah menjatuhkan sanksi terhadap para panitia yang terlibat. Sebanyak 53 orang panitia, diberikan sanksi. Bentuknya beragam. Tergantung tanggung jawabnya di dalam kepanitiaan.
‘’Ada yang kami skorsing 1 semester, ada yang dibatalkan semua mata kuliahnya, ada yang kami panggil orang tuanya saja,’’ tutur Arief.
Hukuman tersebut diberikan, sebagai bentuk tanggung jawab panitia yang lalai, karena tidak jeli, jika ada mahasiswa yang sakit. ‘’Selain itu, Himpunan Mahasiswa Planologi, juga kita bekukan aktifitasnya,’’ pungkasnya. (mg11/avi)

Terbakar Rasa Cemburu, Abdullah Aniaya Istri Siri

Abdullah Muzadi saat diperiksa petugas Reskrim Polsek Singosari kemarin.

SINGOSARI- Ulah Abdullah Muzadi, warga Dusun Ngujung RT 01 RW 02 Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari ini tidak patut ditiru. Pria berusia 53 tahun itu, sejak Minggu (8/12) harus mendekam di rutan Mapolsek Singosari. Dia di duga melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dengan menganiaya istrinya, Lutfia Hanim.
Akibat perbuatannya, tersangka dijerat pasal 351 KUHP dengan ancaman hukuman kurungan penjara lebih dari 5 tahun.
“Kami menangkap tersangka di rumahnya. Dalam pemeriksaan, tersangka mengakui perbuatannya tersebut,“ ujar Kapolsek Singosari, AKP Deky Hermansyah kepada Malang Post kemarin.
Informasi yang berhasil dihimpun, penganiayaan tersebut terjadi Selasa (3/12) lalu. Mulanya, tersangka mendapat informasi bahwa istrinya selingkuh. Kemudian, tersangka menemui korban di rumah orang tuanya. Setelah itu, Abdullah Muzadi mengajak istrinya pulang ke rumah di Dusun Ngujung RT 01 RW 02 Desa Toyomarto.
“Sesampainya di rumah, tersangka kemudian membawa korban ke dalam kamar. Di dalam kamar, tersangka menanyai perihal sms mesra yang ada di HP Korban,“ kata Deky.
Saat itu korban menjawab dan mengaku tidak mengetahui siapa yang mengirim sms mesra tersebut. Jawaban itu, membuat tersangka marah. Tidak hanya marah, tersangka juga menganiaya korban. Yakni dengan memukul kedua mata korban hingga lebam. Kemudian memukul punggung korban menggunakan helm. Aksi tersangka semakin membabi buta, setelah telinga kiri, pipi kiri dan leher korban, juga diinjak tersangka, seperti merasa tanpa bersalah.
“Saat itu, korban juga sempat pingsan. Kemudian setelah sadar, korban langsung melarikan diri dan ditolong oleh tetangga,“ kata mantan Kasatreskrim Polres Malang ini. Setelah ditolong oleh tetangga, kemudian korban diantarkan pulang ke rumah orang tuanya. Selanjutnya, kejadian tersebut dilaporkan ke Polsek Singosari.
Sementara itu, tersangka berdalih melakukan hal tersebut karena terbakar api cemburu. Namun, dia mengaku masih mencintai istri sirinya tersebut. “Saya takut kehilangan dia (Lutfia Hanim). Saya cuma ingin dia terus terang dan mengetahui kebenarannya,“ kata Abdullah. (big/aim)

Pura-pura Jadi Anak Kos, Embat Dua Laptop

Tersangka saat diinterogasi oleh Kanit Reskrim Polsek Singosari Iptu Untung

SINGOSARI- Rumah kos menjadi sasaran empuk pelaku pencurian. Cukup menyewa kamar kos, Sulistiyanto, warga Jalan Semeru Selatan RT 2 RW 1 Desa/Kecamatan Dampit membobol kamar milik teman kosnya kali kedua. Akibat perbuatannya, pria berusia 32 tahun itu, sejak kemarin harus mendekam di sel Mapolsek Singosari.
Dari tangan tersangka, petugas menyita satu buah laptop beserta charger yang belum sempat dijual. “Tersangka kami jerat dengan pasal 363 KUHP tentang tindak pidana pencurian dengan pemberatan yang ancaman hukumannya lima tahun kurungan penjara,” kata Kapolsek Singosari AKP Deky Hermasnyah kepada Malang Post.
Informasi yang berhasil dihimpun, tersangka kos di Jalan Mondoroko Tengah RT 2 RW 6 Desa Banjararum Kecamatan Singosari sejak bulan September lalu. Rumah kos itu sendiri, milik Suharti, 53 tahun. Baru dua minggu kos di tempat tersebut, tersangka langsung membuat ulah, yakni mencuri laptop teman kos sebelah kamarnya.
Modusnya yakni tersangka langsung mengembat laptop, ketika korban lengah maupun ceroboh, karena lupa mengunci kamar.  “Setelah itu, oleh tersangka laptop tersebut dijual ke Surabaya,“ kata Deky.
Dijelaskannya, dari awal tersangka sudah merencanakan mengambil waktu kos yang singkat, yakni hanya selama satu bulan. Setelah dirasa sudah aman, akhir bulan Desember tersangka yang diketahui bekerja sebagai kuli bangunan di Surabaya itu kembali kos di tempat tersebut. Tujuannya sama seperti saat kos pertama lalu, yakni melakukan pencurian. Setelah kos di tempat itu kembali, tesangka dengan modus yang sama melakukan pencurian laptop.
Suhartini yang curiga dengan keberadaan tersangka lantaran terdapat kejadian peristiwa pencurian laptop kembali, membuatnya gerah dan melaporkannya ke Polsek Singosari. Sedangkan petugas yang mendapat laporan itu, langsung menangkap tersangka di kamar kosnya Minggu (7/12) kemarin.
Setelah diinterogerasi oleh petugas, tersangka mengaku dan menunjukan keberadaan laptop hasil curiannya yang terakhir dan belum sempat dijual.
 “Barang buktinya kami sita di rumah temannya yang terletak di Dusun Tanjung Desa Banjarejo. Katanya belum sempat dijual, karena konter di Surabaya tutup dan dibawa pulang lagi,” terang mantan Kasatreskrim Polres Malang tersebut. (big/aim) 
Last Updated on Monday, 09 December 2013 13:06

Minum Cukrik, Lima Orang Sidoarjo Tewas

MALANG POST - Maraknya peredaran miras oplosan jenis cukrik di tengah masyarakat telah mengantarkan lima pemuda asal Sidoarjo yang mengkonsumsinya tewas. Pertama, kasus itu terjadi di Tulangan, tepatnya Kamis (21/11/2013) malam, usai pesta miras oplosan jenis cukrik, di sebuah warung kopi di Pager Ngumbuk Wonoayu, Rizal Zulmi (24) warga RT 5 RW 2 dan Hariyanto alias Tongseng (25) warga RT 4 RW 2 Desa Kepuh Kemiri, Tulangan, Sidoarjo, tewas.
Sebelum meninggal, kedua korban terlibat mabuk berat dan merasakan dadanya seperti terbakar. Keduanya juga dilarikan ke RSUD Sidoarjo oleh keluarganya, namun dalam perawatan, nyawanya tak tertolongkan. Meninggalnya kedua pemuda asal Tulangan ini, bersamaan waktu, namun beda jam.
Sayang dalam kasus miras cukrik di Tulangan ini, tidak mendapatkan penanganan hukum dari pihak kepolisian, karena keluarga korban tidak melaporkan kejadian itu. Kanit Reskrim Polsek Tulangan Aiptu H Suhadak tidak menampik adanya kejadian itu. "Kami mendapatkan laporan dari Babin Kamtibmas dan warga setempat," ujar Suhadak.
Kasus cukrik kedua, yakni terjadi di wilayah Balongbendo. Tiga pemuda yang pesta miras cukrik sejak Sabtu (23/11/2013) malam hingga Minggu (24/11/2013) pagi, tewas secara bergiliran. Ketiganya Heri Susanto (25) warga RT 10 RW 2, Suwandi Purwanto (20) warga RT 9 RW 2 dan Muhammad Saifuddin alias Mamat (35) warga RT 9 RW 2 warga Desa Wates Sari Kecamatan Balongbendo.
Menurut Fery (35) tetangga korban, pesta miras jenis cukrik itu dilakukan perkebunan bawah pohon bambu. Saat Minggu pagi, penenggak miras oplosan itu mulai merasa dan mengaku sakit sampai dadanya panas, hingga dilarikan ke RS Anwar Medika. "Yang  meninggal duluan, Heri S dan Suwandi dan disusul Mamat yang juga meninggal dunia," ungkapnya.
Pasca adanya laporan miras cukrik yang merenggut tiga jiwa, Kapolsek Balongbendo Sidoarjo Kompol Slamet Sugiharto langsung mendalami kasus dan berhasil mengamankan Sugiantoro (32) warga RT 8 RW 3 Dusun Semawut Desa Balongbendo. Dari tangan Sugiantoro, petugas 46 botol cukrik. Selain Sugiantoro, Sunaryo alias Sogol (32) asal Sumokembangsri Balongbendo dan Saman (42) warga Driyorejo Kabupaten Gresik diringkus oleh Polres Sidoarjo, juga berhasil diringkus oleh Polsek Balongbendo.
Di depan petugas, ketiganya seolah kompak mengaku miras yang dijualnya itu asli tanpa ada campuran bahan-bahan yang berbahaya lainnya. Mereka (tiga penjual penjual miras red,) mengaku asli miras tanpa ada campurannya. "Dari pengembangan lanjutan, petugas juga mengantongi satu nama yang merupakan pemasok besar miras cukrik asal Mojokerto yang kini dalam pengejaran," kata Slamet.
Pasca menelan lima jiwa, dua warga dari Tulangan dan tiga warga dari Balongbendo, Polres Sidoarjo akhirnya mempertegas dalam penjeratan pidana penjual cukrik. Mereka dijerat dengan pelanggaran Undang-undang pangan dan kesehatan.
Mereka dijerat dengan UU Kesehatan itu karena minuman cukrik yang dijualnya, ada dugaan mengandung etanol dan lainnya yang sangat membahayakan kesehatan tubuh dan membahayakan. "Jika terbukti dalam laboratorium, bahwa kandungan minuman cukrik yang dijualnya mengandung bahan berbahaya, mereka akan terancam pidana 15 tahun," tegas Kapolres Sidoarjo AKBP Marjuki.
Marjuki menyebutkan, dalam memerangi penyakit masyarakat, razia miras tak berizin, akan terus digalakkan. Ini untuk merespon keresahan masyarakat atas bahaya miras tradisonal dan lainnya yang membahayakan itu. (jpnn/udi)


Last Updated on Monday, 09 December 2013 13:42

Kekerasan Fendem Jadi Atensi Khusus

MALANG POST –  Kematian Fikri Dolasmantya Surya, mahasiswa ITN Malang yang diduga meninggal dunia secara tidak wajar pada 13 Oktober lalu, menjadi atensi khusus Satreskrim Polres Malang untuk diungkap. Dalam minggu ini, akan mengundang beberapa orang untuk dimintai klarifikasi terkait kejanggalan kematian Fikri, yang sudah ramai diberitakan di beberapa situs online tersebut. Hal ini dikatakan Kasatreskrim Polres Malang, AKP Muhammad Aldy Sulaeman, SIK kepada Malang Post kemarin.  Dia mengaku bahwa kasus kematian Fikri ini secepatnya akan diselidiki, untuk mengungkap kejadian sebenarnya.
Dari penyelidikan ini, akan diketahui apakah Fikri meninggal dunia karena kecapekan atau menjadi korban kekerasan yang dilakukan oleh Fendem (senior keamanan) saat orientasi siswa baru. “Dalam minggu ini, kami akan mengundang beberapa orang untuk kami mintai klarifikasi. Termasuk pihak ITN Malang akan kami mintai keterangan. Apakah kejadian yang ramai diberitakan di media situs online tersebut benar atau tidak. Sekaligus kami juga akan mengecek keaslian foto yang menggambarkan kekerasan itu,” paparnya.
Mantan tenaga pendidik di SPN Brimob Polda Jatim ini, mengkhawatirkan foto tersebut merupakan kejadian lain, yang dikaitkan dengan kematian mahasiswa ITN itu. “Jika foto yang ditampilkan dalam situs online tersebut benar keasliannya, pemiliknya bisa menyampaikan ke Satreskrim Polres Malang. Karena foto tersebut akan menjadi bukti bagi kami untuk menyelidiki kasus ini,” terang dia. Pihaknya berjanji akan merahasiakan identitas pemilik foto tersebut sekalius memberikan perlindungan.
“Bukti foto serta keterangan sebagai saksi, akan sangat membantu penyelidikan kami nantinya,” lanjut Aldy, sapaannya. Sejauh ini, dia masih belum memerlukan tim khusus untuk membongkar kembali kasus kematian Fikri. Sebab, menurut dia, penyidik Satreskrim Polres Malang akan bekerja semaksimal mungkin untuk membuktikan kebenarannya. Seperti diketahui, dua bulan sejak kematian Fikri saat mengikuti pelatihan Planologi mahasiswa baru (Maba), di Pantai Goa Cina, Dusun Rowotrate, Desa Sitiarjo, Sumbermanjing Wetan, meninggalkan kejanggalan.
Kematian warga, Jalan Sakura IV /17 BTN Sweta Mataram, NTB ini, dianggap tidak wajar.
Ada dugaan menjadi korban kekerasan yang dilakukan oleh mahasiswa seniornya saat orientasi siswa baru.  Menurut rekan Fikri, pernyataan Fikri yang akan melindungi teman-temannya dari kekerasan Fendem itulah yang membuat Fendem semakin brutal. Saat itu juga Para Fendem mengamankan Fikri ke dalam tenda. Para Mahasiswa peserta KBD dipaksa untuk membelakangi para Fendem dan hanya terdengar suara erangan kesakitan Fikri.
Kejanggalan kematian Fikri inipun, tak urung menggemparkan beberapa mahasiswa ITN dan sebagian diantaranya ikut mengunduh beritanya yang menyebar di beberapa situs online seperti SeputarMalang.com dan voa-islam.com. Bahkan, di situs tersebut, juga ditampilkan beberapa gambar adegan kekerasan, yang diduga dilakukan Fendem terhadap mahasiswa baru, termasuk Fikri, sekaligus kronologi kejadian selama Orentasi Kemah Bakti Desa (KBD) dan Temu Akrab di tempat tersebut. (agp/mar)

Page 172 of 201