Sukses dengan Budi Daya Jamur Tiram

Berbudi daya jamur tiram bisa menjadi penghasilan tambahan jutaan rupiah. Ketua Kelompok Tani Jamur Desa Sukaluyu, Kabupaten Karawang Rahmat Saekhu‎ termasuk yang sukses menjalankan budi daya ini, ia pun tak segan untuk berbagi.

Menurutnya, yang harus disiapkan untuk memulai usaha jamur tiram adalah menyiapkan bahan baku, yaitu bubuk kayu, ‎tepung jagung atau dedak, sekam dan kapur. Bahan baku ini untuk pembuatan media tumbuh atau media tanam (bag log) jamur. Modal untuk membuat 1 bag log hanya Rp 4.000.
"Bahan-bahan ini kemudian dikukus 12 jam untuk sterilisasi. Jadi jamur yang tumbuh nantinya bebas bakteri dan kuman," kata Rahmat.
Setelah dikukus, bahan-bahan tadi lalu dicampur merata, kemudian dimasukkan ke dalam kantung plastik yang tertutup rapat dengan beberapa pori sebagai tempat masuknya air. Bagian ujung bag log, harus ditutup dengan pipa plastik sejanis corong yang nantinya akan berfungsi sebagai tempat tumbuhnya jamur. Satu bag log ini, lanjut Rahmat, bisa dipanen habis sampai empat bulan.
Bag log yang berisi bahan-bahan tadi didiamkan dulu selama 1-1,5 bulan sampai seluruh campuran di dalam bag log yang semula berwarna kecoklatan khas warna bubuk kayu berubah menjadi putih seluruhnya. "Kalau sudah putih semua, berarti dia siap menghasilkan jamur," katanya.

Agar seluruh bahan baku di dalam bag log memutih sempurna, sebaiknya penempatan bag log pada posisi berdiri, yaitu bagian corong berada di atas. Setelah siap, bag log kemudian disimpan dalam satu tempat atau ruangan yang disebut kubung. Kubung ini bisa berupa bangunan permanen atau cuku bilik bambu dengan lantai pasir yang selalu basah untuk menjaga kelembaban ruangan.
"Bisa bangunan permanen atau bilik seperti ini. Disesuaikan saja dengan dana yang dimiliki. Yang penting kuncinya adalah selalu lembab," katanya.
Bag log yang disimpan dalam ruang lembab tadi dengan sendirinya akan mengeluarkan jamur yang bisa dipanen setiap 3 hari sekali. "Panennya cukup ditarik dari corong. Tapi harus bersih, kalau ada akar yang tertinggal ketika mencabut, itu harus dibersihkan. Karena kalau tidak, dia akan membusuk dan tidak bisa digunakan lagi. Jamur nggak akan tumbuh lagi kalau busuk," katanya.
Berbisnis jamur tiram putih bisa menjadi pilihan usaha yang menarik. Saat ini pasar jamur sudah tergolong besar dengan harga jual mentah seharga Rp 12.000/kg. Bila setiap hari ada 1.000 bag log yang bisa dipanen, maka uang Rp 12 juta sudah di tangan.
"Gaya hidup sudah mulai bergeser. Banyak vegetarian-vegetarian yang tidak makan daging. Jamur ini bisa dijadikan pengganti karena rasa dan teksturnya mirip dengan daging," ujarnya.
Budi daya jamur tiram bisa menjadi pilihan peluang usaha sebagai produk jamur mentah atau olahan. Bagi para pembudidaya, memasarkan jamur tiram putih tak perlu pusing. Selain menjual jamur dalam bentuk mentah, dengan sedikit usaha, jamur tiram putih bisa 'disulap' jadi makanan yang lebih berkelas dan menggoyang lidah.
Mimah‎, seorang pembudidaya jamur di Desa Sukaluyu Kabupaten Karawang, Jawa Barat mengolah jamur tiram putih menjadi jamur krispi, nugget, bakso, jamur bakar. Untuk ‎urusan rasa, produk olahan ini tak kalah dengan daging. Misalnya untuk jamur krispi, rasanya sangat mirip dengan kulit ayam yang digoreng. Untuk bakso dan nugget, rasa dan teksturnya pun cukup mirip dengan daging ayam.
"Ini tanpa bahan tambahan yang aneh-aneh. Cuma ditambah telur, tepung terigu dan garam untuk perasa. Itu sudah bisa jadi nugget siap disantap," tuturnya.
Mimah bisa mengolah 3 kg nugget jamur yang dijual ke sekolah-sekolah dasar setiap hari dan bisa mengantongi pendapatan kotor hingga Rp 300.000 per hari.‎‎(dtc/han)