Efek Rupiah, Menurun 20 Persen Dibanding 2014

MALANG – Kurs rupiah terhadap dolar AS yang terus melemah dalam beberapa bulan terakhir dianggap sebagai penyebab lesunya pasar elektronik di Malang. Selama dua bulan pertama 2015, sales elektronik menurun hingga 20 persen, ketimbang periode yang sama 2014.
Store Manager Plaza Elektronik Malang, Pao Sugiyanto mengakui, untuk tahun ini kelesuan penjualan elektronik sangat terasa. “Awal tahun ini turun, lumayan besar penurunannya. Penyebabnya beragam, salah satunya rupiah tidak stabil,” ujarnya.
Menurut dia, sejatinya kelesuan sales elektronik sudah bisa dirasakan sejak semester dua tahun lalu. Growth penjualan tidak sesuai dengan target dan hanya tertolong di triwulan terakhir. “Meskipun ada pertumbuhan tapi tipis. Di tahun ini sangat terasa sepinya sales elektronik,” beber dia kepada Malang Post.
Pria yang akrab disapa Sugik ini menuturkan, tahun ini faktor utama yakni harga elektronik yang terus merangkak naik. Customer merasa takut untuk membeli dan menunggu barang elektronik turun. “Padahal, cenderung terjadi kenaikan terus. Apalagi tahun ini kurs rupiah melemah,” tegasnya.
Akhir tahun lalu harga barang elektronik sempat mengalami kenaikan. Medio Februari lalu pun kembali naik untuk beberapa item, terutama yang merupakan elektronik impor. “Hampir semua naik, mulai dari mesin cuci, lemari es hingga set home theater,” paparnya.
Pria yang mengidolakan klub Liverpool ini menambahkan, bahkan di periode Januari hingga Maret ini, yang biasanya terjadi peningkatan permintaan produk seperti mesin cuci tidak terjadi. Customer memilih berhati-hati dan bersabar. “Padahal malah ada potensi naik lagi bila rupiah tidak segera menguat,” tegas Sugik.
Terpisah, Manager Divisi Elektronik Hypermart Malang, Rajabuel Arif mengungkapkan hal yang hampir sama. Tahun ini, merupakan masa yang sulit untuk sales elektronik. “Terjadi pertumbuhan, namun sangat tipis di awal tahun. Harga barang kan lebih mahal sekarang,” ujarnya.
Menurut dia, penjualan di awal tahun hanya bertumbuh, maksimal 10 persen. Padahal, seharusnya pertumbuhan di atas itu atau minimal sama dengan average target tahunan. “Hampir semua sektor bisnis sih lesu di awal tahun ini. Apalagi yang berhubungan dengan barang impor,” tambah dia.
Arif menyampaikan, Hypermart masih lumayan tertolong dengan beragam promo untuk mengangkat penjualan. Namun, itu berlaku periode awal tahun lalu ketika stok produk 2014 ditawarkan dengan bandrol spesial.
Di bulan ini, Hypermart dua kali mengadakan promo untuk sektor elektronik. Setelah aneka produk televisi dijual lebih terjangkau,pekan ini dilanjutkan dengan Cooling Fair. Mulai dari AC, lemari es, hingga mesin cuci yang ditawarkan dengan harga khusus. “Sale merupakan cara untuk mengangkat penjualan. Jelang akhir bulan ini mulai terasa ada peningkatan permintaan, makanya harus ditunjang dengan promo,” tandas dia. (ley/han)