BBM Naik Memicu Kenaikan Inflasi

Pengamat Ekonomi UGM, Ichsanuddin Noorsy menilai kebijakan pemerintah yang menentukan harga minyak dengan harga pasar dunia akan berakibat fluktuasi harga. Tak menentunya harga ini akan memicu kenaikan inflasi terus menerus. "Inflasi boleh naik turun dong kalau begini, suka-suka," kata Ichsanuddin.
Ichsan menjelaskan, kebijakan pemerintah yang menyesuaikan harga perekonomian dalam negeri dengan harga pasar akan menyebabkan ketidakstabilan harga di dunia usaha. Hal ini akan menimbulkan kerugian, ketika dunia usaha tidak bisa menentukan patokan harga. Ketika dunia usaha tidak mempunyai stabilitas harga, maka dampaknya inflasi akan tidak stabil juga.

Menurut dia, target pemerintah untuk menentukan inflasi tidak lebih dari empat persen tidak akan terwujud ketika pemerintah tidak mempunyai kepastian dalam menentukan standar harga. Akhirnya masyarakat kecil akan tercekik dengan inflasi yang tinggi. "Kaya makin kaya, miskin makin miskin, ini akan menjadi preseden buruk," ujar Ichsan.
Ketidakstabilan ini membuktikan Jokowi gagal dalam menggunakan stabilitas harga sebagai kekuatan bangsa. Stabilitas ekonomi tentu sangat memperngaruhi inflasi. Ketika inflasi tidak dapat dikendalikan, maka akan memicu angka kemiskinan yang lebih tinggi lagi. Ichsan cukup apresiatif dengan cara kebijakan era Soeharto yang bisa bertahan lama. Ichsan menilai, salah satu kuncinya adalah, Soeharto bisa menetapkan stabilitas harga untuk menjaga stabilitas negara.
Sementara Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi I Gusti Nyoman Wiratmaja Puja mengatakan, kenaikan BBM dikarenakan peningkatan harga minyak dunia dan pelemahan rupiah dalam periode sebulan terakhir. "Pemerintah juga memperhatikan kestabilan sosial ekonomi, pengelolaan harga dan logistik," ujarnya. Sedangkan untuk harga Minyak Tanah dinyatakan tetap, yaitu Rp 2.500 per liter.
Menteri ESDM Sudirman Said mengatakan, meski disesuaikan dengan pasar, namun penetapan harga BBM merupakan kewenangan pemerintah. "Kami juga mempertimbangkan sosial ekonomi dan beban masyarakat sebelum menetapkan harga BBM," ujarnya.
Sebelumnya, pada 1 Maret 2015, harga premium wilayah penugasan di luar Jawa-Bali mengalami kenaikan Rp 200 dari Rp 6.600 per 1 Februari 2015 menjadi Rp 6.800 per liter. Sementara, harga premium nonsubsidi di wilayah Jawa dan Bali ditetapkan Pertamina juga mengalami kenaikan Rp 200 menjadi Rp 6.900 per liter mulai 1 Maret 2015.
Untuk harga minyak tanah dan solar bersubsidi per 1 Maret 2015, pemerintah memutuskan tetap masing-masing tetap Rp 2.500 dan Rp 6.400 per liter. Sesuai Peraturan Presiden Nomor 191 Tahun 2014, premium tidak lagi menjadi barang subsidi.