Peso dan Rupee Tahan Gempuran Dolar

Jakarta - Mata uang dolar Amerika Serikat (AS) kini menjadi 'raja' karena pengaruhnya yang cukup besar terhadap mata uang negara lain. Namun, ada mata uang yang tahan terhadap dolar dan stabil di tengah mata uang yang lain tengah melemah.
Deputi Gubernur Bank Indonesia, Mirza Adityaswara, di tengah melemahnya berbagai mata uang banyak negara terhadap dolar AS, setidaknya ada tiga mata uang yang tahan terhadap pengaruh dolar AS akibat rencana stimulus bank sentral AS. Mata uang tersebut ialah Peso, Filipina, Rupee India dan Baht Thailand.
"Filipina, itu tahun lalu hanya melemah 0,7%. Tahun ini sampai Maret bisa dikatakan stabil 0%. Yang lain India, tahun lalu melemah 2%, tahun ini bisa apresiasi 0,6%. Thailand tahun lalu hanya melemah 0,3%. Tahun ini bisa menguat 1,1%," ungkap Mirza, Senin (30/3/2015).
Mirza kembali menegaskan, mata uang rupiah bukan satu-satunya mata uang yang 'kalah' pada dolar. Beberapa negara lain seperti Kroner Denmark serta Korna Swedia juga mengalami hal yang sama. Ia juga menyebut, kondisi mata uang di saat ini cukup berbeda dengan apa yang terjadi di tahun 1998,2005 atau 2008. Di periode tersebut, tak hanya terhadap dolar, rupiah pun melemah pada mata uang lainnya.
‎"Saat itu rupiah melemah terhadap semua mata uang. Sekarang dolar menguat terhadap hampir semua mata uang. Rupiah sebenarnya menguat terhadap mata uang yang lain," ujar Mirza
Mirza memaparkan beberapa contoh. Mata uang euro di tahun 2014 lalu melemah 13% terhadap dolar, sedangkan tahun ini hingga Maret melemah 10%. Lalu Krona Denmark yang juga melemah 13% tahun lalu, dan 10 di tahun ini. Selain itu, mata uang Swedia pun mengalami pelemahan 20% terhadap dolar di tahun lalu, sedangkan tahun ini 9,8%.
‎"Hal ini tak masuk di berita. Rupiah, tahun lalu melemah sekitar 2% tahun, ini sampai Maret melemah sekitar 5%. Itu yang terjadi bukan pelemahan rupiah, yang terjadi adalah penguatan dolar terhadap semua mata uang dunia, yang melemahnya jauh lebih dalam dibanding rupiah," tegas Mirza.(dtc/han)