Rupiah Melemah, Harga Sepeda Motor Naik

MALANG POST - Melemahnya rupiah tak hanya membuat harga jual mobil yang naik. Harga sepeda motor pun ikut-ikutan naik. Meskipun kenaikannya lebih kecil disbanding harga mobil.
Salah satunya yang sudah menaikkan harga adalah Yamaha Indonesia. "Mulai April ini kami menaikkan harga jual. Kenaikan harga jual terjadi pada motor-motor yang kami produksi di dalam negeri," kata Mohammad Masykur, Asisten GM Marketing PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing pada KONTAN, Minggu (12/4).
Maklum saja, meski sudah diproduksi di dalam negeri, masih ada komponen yang harus diimpor. Misalnya saja di motor R25, sekitar 6% masih mengandung komponen impor seperti plastik part dan juga bannya.
Masykur mengungkapkan kenaikan ini bukan hanya disebabkan melemahnya rupiah saja, tetapi juga meningkatnya tarif BBN (Biaya Balik Nama). "Kenaikan harga motor kami sekitar ratusan ribu. Ya kurang lebih 1% dari harga lama. Tapi kebanyakan kenaikan itu karena BBN," ungkap Masykur.
PT Kawasaki Motor Indonesia, justru sudah menaikkan harga pada Februari lalu. "Kenaikan harga karena dolar sudah dilakukan dan harganya bervariasi," kata Michael Chandra Tanadhi, Deputy Head Sales & Promotion Marketing Division KMI.
Untuk motor di bawah 250 cc kenaikan harga yang diberlakukan Rp 500.000 hingga Rp 1 jutaan. Untuk motor di atas 250 cc kenaikannya di atas Rp 1 juta. Nah, untuk big bike, kenaikannya Rp 3 jutaan. Sedangkan untuk motor di atas 250 cc dan big bike dari Kawasaki saat ini masih diimpor. Sehingga, melemahnya rupiah sangat berpengaruh untuk motor-motor tersebut.
Sayangnya, Michael tak menyebutkan apakah ada rencana menaikkan harga lagi, jika nantinya rupiah kembali melemah. Sementara Motor asal India TVS Motor Company Indonesia justru belum berniat menaikkan harga motornya. Rio Aditya Putra sebagai Deputy Manager Corporate Communication TVS mengatakan bahwa dampak melemahnya rupiah masih bisa ditekan.
"Saat ini masih digodok soal rencana naiknya harga. Tapi sejauh ini belum ada konfirmasi bahwa akan mengalami kenaikan," kata Rio.
Motor-motor TVS sudah diproduksi di Indonesia, sedangkan komponen lokalnya juga sudah cukup dominan yakni sekitar 65%, sehingga ongkos produksinya masih bisa ditekan meski rupiah terus melemah. (jpnn/tri/udi)