Bentoel Masih Rugi Rp 2,2 Triliun di 2014

JAKARTA - PT Bentoel International Investama Tbk (RMBA) mencatat rugi Rp 2,27 triliun pada 2014. Kerugiannya ini bengkak 118% dibandingkan posisi di tahun sebelumnya Rp 1,04 triliun. Kerugian ini terjadi meski omzet perusahaan naik dari Rp 12,27 triliun di akhir 2014 menjadi Rp 14,09 triliun tahun lalu.
Menurut Presiden Direktur Bentoel Jason Fitzgerald Murphy, selama tahun 2014 perusahaan meneruskan strategi bisnisnya melalui penguatan brand, produk, pemasaran dan distribusi, serta talenta sumber daya manusia yang dimiliki. "Investasi-investasi ini telah mengakibatkan kerugian bersih sebesar Rp 2,3 triliun. Investasi ini akan berkontribusi terhadap ambisi perseroan dalam meraih visinya sebagai perusahaan tembakau dengan pertumbuhan tercepat di Indonesia," katanya dalam bahan paparan publik, Senin (20/4/2015).
Akibat kerugian tersebut, rugi per saham perusahaan pun naik menjadi Rp 314,74 per lembar di 2014, bandingkan dengan sebelumnya yang hanya rugi Rp 143,93 per lembar. Tahun lalu, sebanyak 970 pegawai tetap Bentoel mengambil tawaran perusahaan untuk mengundurkan diri secara sukarela. Sebagian kecil karyawan yang sudah ditawari mundur memilih tetap bekerja di Bentoel.
Sebelumnya produsen rokok itu sudah menawarkan pengunduran diri sukarela kepada 1.000 pegawai yang bekerja di pabrik rokok sigaret mesin (SKM). Setelah pegawai dikurangi, Bentoel akan menyetop produksi 8 pabrik dari total 11 pabrik milik perusahaan. Jadi hanya tiga pabrik saja yang akan beroperasi.
Sebanyak 11 pabrik yang dimaksud adalah PT Bentoel, PT Lestari, PT Subur Aman, PT Tresno, PT Bintang Bola Dunia, PT Amiseta, PT Bintang Pesona Jagat, PT Bintang Jagat Sejati, PT Java Tobacco, dan PT Bentoel International Investama.
Meski nanti hanya tiga pabrik saja yang beroperasi, perusahaan memastikan produksi rokok Bentoel tidak akan berkurang. Produksi tiga pabrik tersebut akan dioptimalkan. Jumlah pesangon yang akan diterima pegawai Bentoel yang menerima tawaran pengunduran diri sukarela itu berbeda-beda, tergantung masa kerja di Bentoel. Tapi perusahaan memastikan jumlahnya lebih besar dari yang tercantum di Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Tenaga Kerja.
Selain dapat pesangon, Bentoel juga akan memberikan pelatihan pengelolaan keuangan bagi pegawai yang memutuskan untuk mundur. Menurutnya, pelatihan itu diberikan supaya mantan pegawainya nanti bisa mengurus keuangan dengan baik. (jpnn/dtc/udi)