Penjualan Otomotif  Turun, APBD Jatim 2015 Minus

SURABAYA – Terus melorotnya harga minyak dunia dan perekonomian global, menohok kinerja dan pendapatan keuangan Pemprov Jatim. Lebih runyam lagi, APBD Jatim 2015 bakal minus saat pengajuan PAK (Perubahan Anggaran Kerja) nanti.
‘’Selain situasi perekonomian dunia, ada beberapa faktor yang menyebabkan APBD kita minus. Dan kondisi itu memang tidak bisa dihindari,’’ ujar Soekarwo, Gubernur Jatim di Gedung Grahadi, Sabtu (25/4).
Secara rinci, Pakde Karwo menyebutkan, beberapa indikasi penyebab jebloknya keuangan Pemprov Jatim. Meski begitu, berbagai upaya tetap akan dilakukan sehingga pembangunan ekonomi kerakyatan tetap berjalan sesuai harapan.
Dikatakan dia, gambaran buruknya kinerja keuangan Pemprov Jatim bisa dilihat dari target pendapatan pada triwulan I tahun 2015. Meski tidak menyebut angkanya, pendapatan didapat hanya 85 persen dari target atau turun 15 persen. ‘’Penyebab utamanya, karena lesunya perekonomian global,’’ ucapnya.
Kondisi itu, lanjut Pakde Karwo, diperburuk dengan turunnya dana perimbangan dari pusat. Sebagai contoh, Dana Bagi Hasil (DBH) Minyak dan Gas berkurang sekitar Rp 747 miliar. Pundi-pundi keuangan pada Silpa (Sisa Lebih Penggunaan Anggaran) sekarang hanya tersisa Rp 1 trilin saja. ‘’Silpa tinggal Rp 1 triliun, sementara DBH Migas berkurang Rp 747 miliar. Jadi pada PAK 2015 kemungkinan besar APBD Jatim akan minus,’’ papar mantan Kepala Dinas Pendapatan Darah di era Gubernur Imam Utomo ini.
Menurut dia, secara ekonomis DBH Migas yang diterima Pemprov Jatim turun hampir 50 persen dibanding tahun 2014 lalu. Penurunan DBH Migas yang juga dialami provinsi lain di Indonesia ini penyebab utamanya adalah harga minyak dunia juga turun.
Sesuai catatan, harga minyak dunia turun hingga ke level 30 persen. Semula di pasaran harganya US 110/barel menjadi hanya US 40/barel. Jika tidak ada masalah ini (penurunan) Pemprov Jatim harusnya menerima DBH Migas Rp 1,3 triliun. Tetapi di APBD murni hanya masuk Rp 600 miliar atau anjlok Rp 747 miliar. ‘’Ironisnya lagi, kekurangan itu tak akan terpenuhi hingga akhir tahun anggaran mendatang,’’ terang Wakil Ketua DPP Partai Demokrat ini.
Ditambahkan, bukti lesunya perekonomian Indonesia khususnya Jatim dapat dilihat dari turunnya produksi dan penjualan kendaraan bermotor baru. Berdasarkan data  yang ada pada triwulan pertama 2015, mengalami penurunan hingga 30 persen. ‘’Bahkan market share beberapa perusahaan di Jatim sekarang ini tak berani mentargetkan 100 persen melainkan hanya 70 persen. Karena sudah tidak percaya lagi dengan pasar akibat lesunya perekonomian secara global,’’ pungkasnya. (has/udi)