Hadapi MEA, BCA Fokus Pasar Dalam Negeri

MALANG - Mulai tahun 2015 Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akan berlaku. Perbankan dari negara-negara ASEAN tidak sedikit yang melebarkan sayap bisnis dengan membuka cabang di luar negeri. Namun, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) masih enggan untuk melakukan ekspansi ke luar negeri. BCA memilih untuk fokus pada penguatan bisnis di dalam negeri.
"Sementara kebijakan BCA lebih fokus pada bagaimana menghadapi MEA dengan memperkuat posisi BCA di dalam negeri. Kamj lebih memilih startegi posisi di dalam negeri seperti ekspansi cabang-cabang, rekrutmen, dan persiapan SDM," ujar Direktur BCA, Suwignyo Budiman akhir pekan lalu.
Selain mempersiapkan SDM, BCA lebih memilih fokus dalam persiapan dari sisi infrastruktur, seperti e-banking, internet banking. Sehingga, posisi BCA di dalam negeri benar-benar kuat saat MEA diberlakukan nanti.
Menurut dia, potensi bisnis di dalam negeri masih sangat besar pula. Alhasil, dengan memaksimalkan sisi tersebut, bank lebih siap untuk menghadapi persaingan global.
"Dalam negeri saja menarik minat investor luar negeri. Makanya, BCA memilih fokus di sini seperti potensi ekspansi dan pendanaan sisi mikrro," ujar dia kepada Malang Post.
Faktor lain yang mempengaruhi BCA enggan melakukan ekspansi ke luar negeri adalah lantaran mahalnya pembiayaan properti yang dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan. Kondisi tersebut terjadi di semua negara. Sehingga, berpengaruh pada perhitungan profit. "Daripada tidak maksimal, bermain di sektor lokal saja," tegasnya.
Dia mengakui, memperkuat sektor lokal berlaku pada tujuh anak cabang bank ini. Seperti BCA Syariah yang tengah naik daun berkat permintaan sektor mikro. "Selama ini, BCA terkenal dengan nasabah kelas kakap. Namun, dengan BCA Syariah membuka kesempatan nasabah kecil yang berpengaruh besar pada kekuatan finansial perbankan," imbuhnya.
Sementara itu, hingga akhir triwulan I 2015 ini, laba BCA meningkat 10,7 persen menjadi Rp 4,1 triliun dibanding dengan periode yang sama 2014 lalu. Sedangkan penyaluran kredit bank ini tumbuh 5,8 persen menjadi Rp 335,6 triliun. (ley/udi)