Pertumbuhan Ekonomi Rendah, Gerak IHSG Terhambat

MALANG – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil lepas dari zona merah dalam dua hari perdagangan pekan ini. Sempat terhambat dan kembali ke zona merah di level 5.130 poin, akhirnya dalam perdagangan Selasa (5/5) kemarin, IHSG ditutup naik ke level 5.153 poin.
Equity Sales SucorInvest Malang, Agus Prianto mengatakan, IHSG sempat mengalami titik balik di perdagangan Selasa kemarin. Pasca naik 54 poin di hari pertama perdagangan bulan Mei ini, saham gabungan terancam ditinggalkan oleh investor asing ketika melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia yang melambat.
“Saham sempat bertahan lebih dari sepekan di zona merah di akhir April lalu. Banyak investor menunggu kinerja emiten yang tengah membagi deviden serta melihat portofolio terbaru,” ujarnya.
Menurut dia, perdagangan di hari kedua Mei ini diawali dengan kenaikan sebesar 12 poin melanjutkan penguatan sehari sebelumnya. Pergerakan masih belum maksimal, dengan alasan pertumbuhan ekonomi di triwulan pertama 2015. “Sejak Senin (4/5) investor asing mulai berburu saham unggulan, tetapi sangat berhati-hati,” papar Agus.
Indeks yang sempat naik hingga level 5.202 poin langsung menuju zona merah dengan titik terendah 5.130 poin begitu Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan laporan ekonomi yang hanya tumbuh 4,7 persen. Padahal, pada periode yang sama tahun 2014, pertumbuhan mencapai 5,2 persen. “Sentimen negatif pun kembali muncul dan berbahaya bagi pasar saham,” tegasnya.
Menutup perdagangan, IHSG tumbuh 19 poin atau naik 0,37 persen ke level 5.160 poin. Investor asing memborong saham-saham bank kelas berat, memanfaatkan koreksi yang terjadi. Aksi beli ini berhasil membawa Indeks balik ke teritori positif. Transaksi investor asing hingga sore hari ini terpantau melakukan pembelian bersih (foreign net buy) senilai Rp 454,094 miliar di seluruh pasar.
Perdagangan berjalan cukup ramai dengan frekuensi transaksi sebanyak 255.131 kali dengan volume 5,742 miliar lembar saham senilai Rp 6,084 triliun. Sebanyak 148 saham naik, 152 turun, dan 87 saham stagnan.
Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers seperti Unilever (UNVR) naik Rp 1.175 ke Rp 44.175, dan Mayora (MYOR) naik Rp 375 ke Rp 259.000. Sementara saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 850 ke Rp 72.900 dan Plaza Indonesia (PLIN) turun Rp 600 ke Rp 3.000.
Terpisah, Analis Saham Kartono mengungkapkan, saat ini, posisi portofolio asing di pasar modal terus menurun. Sepanjang Desember 2013 hingga akhir 2014, dana asing yang parkir di bursa saham reguler mencapai Rp 30 triliun. Namun, saat ini, posisi dana asing di pasar modal Indonesia terus menurun, angkanya tidak lebih dari Rp 11 triliun.
“Angka ini menunjukkan minat investor turun drastis dan tidak bagus bagi pasar modal yang tengah tumbuh saat ini. Level maksimal naik masih di kisaran 5.200 poin dan turun dalam di level 5.090 poin,” tuturnya. (ley/udi)