Selektif Terima Permintaan Perjalanan Luar Negeri

MALANG – Penangkapan WNI di Brunei Darussalam yang akan menjalankan ibadah umrah membuat pelaku bisnis travel umrah dan wisata waspada. Peningkatan dan seleksi bagi calon jamaah maupun peserta wisata ditingkatkan agar tidak terjadi hal berbahaya yang mengganggu kenyamanan perjalanan antar negara tersebut.

Marketing Al Amin Universal Malang, Setyo Herlambang mengatakan, kasus umrah baru-baru ini membuat biro perjalanan meningkatkan kewaspadaan. “Tentu kini kami lebih berhati-hati ketika menerima calon peserta umrah dan kewaspadaan meningkat ketimbang biasanya,” ujarnya.

Alasan utamanya, menurut dia, jamaah tersebut berasal dari Malang. “Apalagi ini dari lokal Malang. Mungkin bisa terjadi lagi bila biro perjalanan tidak waspada,” beber dia kepada Malang Post.

Pria yang akrab disapa Yoyok ini menuturkan, mulai dari data awal ketika calon peserta mendaftar, sudah sepatutnya diteliti. Terutama, ketika jamaah tersebut melengkapi segala persyaratan, seperti paspor, data riwayat hingga kesehatan.
“Kami tidak mau kecolongan. Perjalanan ke luar negeri kan sangat ketat, tidak hanya kurang lengkap saja. Barang yang dibawa pun tidak luput dari perhatian,” tambahnya.
Yoyok berharap, calon jamaah juga mau terbuka akan data dirinya. Bukan hanya asal usul saja, tapi juga pada riwayat kesehatan. Misalkan bila jamaah kurang sehat dalam beberapa bulan terakhir, juga menjadi faktor yang kini mesti dengan ketat diperhatikan.
“Takutnya, karena sedang banyak permintaan atau masa puncak, baik umrah maupun liburan, kekurangan kecil justru diabaikan. Sejak ada masalah WNI hilang di Turki lalu, Al Amin jauh lebih selektif,” beber dia.
Terpisah, Marketing Misama Gatharia Tour and Travel Fitria Nabilla yang melayani perjalanan ke luar negeri untuk wisata pun juga waspada. Sekalipun, untuk saat ini, wisata ke luar negeri jauh menurun ketimbang tahun lalu. “Ada beberapa permasalahan yang turut meningkatkan kewaspadaan biro perjalanan. Semua demi keamanan bersama,” ujarnya.
Menurut dia, calon customer yang ingin berwisata, diharap juga memperhatikan kondisi keamanan di suatu negara. Misalnya beberapa waktu lalu ketika Turki menjadi satu tempat untuk menerobos anggota ISIS, dari biro selektif menerima permintaan, serta melihat kondisi terbaru.
“Main aman saja untuk saat ini. Bila memang wilayah tujuan ada masalah atau konflik ya jangan ke sana. Seperti tahun lalu ada masalah di Thailand, kami sarankan customer mengganti tujuan wisatanya,” tutur Nabilla.
Untuk saat ini, perempuan ramah itu mengakui, perjalanan ke luar negeri untuk berwisata, masih didominasi wilayah Asia yang relatif aman seperti Singapura, Hongkong dan Malaysia. Untuk wilayah rawan seperti Rusia, Turki, atau Israel, masih belum ada. (ley/han)