Pesan Cokelat, Bisa Langsung Diantar

Melihat peluang untuk dijadikan bisnis, bisa dilihat dari lingkungan terdekat atau sekeliling. Dari apa yang banyak dilakukan oleh orang-orang atau sesuatu yang sedang booming. Seperti yang dilakukan Fajrin Ramadlani, salah satu owner Chocorife . Pria asal Malang ini pernah bekerja di salah satu jasa pengiriman barang. Melihat banyaknya pengiriman paket cokelat tiap hari yang ia terima saat itu, membuat ia berfikir untuk mencoba bisnis itu sendiri.
“Pertama sih saya iseng-iseng coba catet nomer HP yang ada di paketan cokelat itu, kemudian saya pesan, ternyata harganya murah dan kemudian menjadi reseller. Tapi lama-lama saya berfikir, kenapa enggak buat sendiri yang belum ada di Malang. Akhirnya kami memproduksi dengan racikan kami sendiri,” ujar pria yang sering disapa Dani ini.
Agustus 2014, ia bersama temannya Azhar Fahri membuat Chocorife, kemudian beberapa bulan kemudian Wirananda Giantama ikut serta dalam bisnis ini. Mereka pun membagi tugas, Dani bertugas untuk membuat Chocorife, Andre mendesain packaging dan Jayen yang mempromosikan Chocorife di berbagai media sosial.
Chochorife mempunyai dua varian yaitu Mars dan Pluto. Mars terdiri dari marshmallow, crunch dan saus coklat hazelnut yang dijadikan satu dan disajikan pada sebuah jar. Sedangkan Pluto terdiri dari rice crispy dan dark chocolate. Untuk pluto sendiri ada tiga varian rasa yang ditawarkan, yaitu full cokelat, cokelat keju dan cokelat kacang.
Mereka menjual Chocorife seharga Rp 25 ribu per jar. Jika ada yang ingin membeli dari luar kota, akan mereka kirim melalui jasa pengiriman barang, tetapi jika pembeli dari Malang, maka bisa langsung datang ke alamat Jl. Bogor 11 atau bisa juga diantarkan langsung ke rumah tanpa dipungut ongkir bagi yang berada di kawasan Malang kota.
Kepada Malang Post, mereka mengatakan banyak pengalaman yang didapatkan saat berbisnis Chocorife. Selain mendapatkan penghasilan dan bisa terus berkumpul bersama teman, hal yang tidak mengenakkan pun pernah mereka alami. Seperti saat ada pelanggan yang ingin membeli, produk sudah dibuat, tiba-tiba customer menghilang tidak memberi kabar (hit and run).
“Saya pas mengantarkan ke salah satu pelanggan, padahal saya sudah dandan rapi-rapi pakai kemeja dan sepatu, malah disangka tukang galon dan tukang gas, hahaha”, ungkap Dani.
Saat ini, mereka masih ingin mengembangkan bisnis ini dengan membuat varian baru dan tentunya tetap dengan bahan dasar coklat. Mereka juga mulai merintis bisnis menjadi supplier untuk mendesain packaging barang sesuai pesanan pelanggan dan menjual jar yang pelanggannya bisa memilih sendiri warna tutup jar tersebut. (mg7/han)