OJK Launching Laku Pandai

Enam Bank Aktif Cari Agen di Pelosok Desa
MALANG – Otoritas Jasa Keuangan dan bank umum berusaha mengenalkan masyarakat daerah terpencil  yang jauh dari akses ke bank dengan meluncurkan Layanan Keuangan Tanpa Kantor Dalam Rangka Keuangan Inklusif  (Laku Pandai). Layanan ini diharapkan mampu menumbuhkan minat masyarakat untuk menyimpan uang mereka di bank serta memanfaatkan layanan perbankan.
Deputi Komisioner Pengawasan Perbankan IV Otoritas Jasa Keuangan Heru Kristiyana mengatakan, dengan Laku Pandai masyarakat bisa mengenal apa itu bank serta segala pelayanannya. Termasuk bila masyarakat membutuhkan pinjaman uang untuk usaha atau hal lain. Selama ini, kecenderungan bagi masyarakat di desa mendapatkan pinjaman dengan bunga tinggi. “Laku Pandai ini untuk mengurangi akses praktik lintah darat, yang justru menyulitkan bagi masyarakat,” tambahnya ketika Launching produk Laku Pandai di Desa Sukodono, Kecamatan Dampit, Kamis (4/6/15) kemarin.
Dia menerangkan, layanan keuangan inklusif ini dirancang sebab masih banyak masyarakat yang belum mengenal, menggunakan dan mendapatkan layanan perbankan. Alasan utamanya, mereka tinggal di lokasi yang jauh dari kantor bank, di samping ada yang masih merasa enggan masuk ke kantor bank yang terlihat megah.
 “Laku Pandai memiliki target mampu memenuhi kebutuhan masyarakat untuk menyimpan dan memanfaatkan uang yang dimilikinya dengan lebih murah, aman dan cepat. Setelah menabung secara berkala, nasabah bisa mendapatkan kesempatan mengajukan kredit mikro untuk tujuan produktif,” papar dia.
Menurutnya, pasca masyarakat mengenal program keuangan karena akses keuangan yang lebih luas ini, OJK dan industri keuangan akan mengintensifkan edukasi manfaat produk. Selain itu, juga edukasi perencanaan keuangan yang baik ke masyarakat dengan tujuan peningkatan kesejahteraan. “Setelah itu berlanjut pada petumbuhan ekonomi, sehingga masyarakat desa pun tidak jauh tertinggal dengan masyarakat kota,” jelas dia.
Dalam program Laku Pandai ini, OJK bekerjasama dengan enam bank umum, yakni Bank Mandiri, BRI, BCA, BNI, BTN dan BTPN. Setiap bank, memiliki nama program yang berbeda dengan karakter tabungan basic saving account (BSA), kredit atau pembiayaan nasabah mikro dan asuransi mikro.
 Tabungan BSA ini untuk nasabah mikro dengan ciri tanpa batas minimum, baik untuk saldo dan transaksi pendebetan rekening. Syarat yang ditetapkan sesuai Peraturan OJK, saldo setiap saat maksimal Rp 20 juta dan untuk transaksi debet kumulatif selama sebulan maksimum Rp 5 juta. “Tanpa biaya administrasi dan tidak dikenakan biaya untuk pembukaan dan penutupan rekening,” jelasnya.
Sementara itu, terkait kesiapan ke enam bank umum, saat ini BRI dan Bank Mandiri sudah menjalankan layanan keuangan inklusif tersebut. Misalnya BRI dengan memanfaatkan keberadaan Agen BRIlink yang telah berjalan. Salah satu nasabah BRI yang telah menjadi agen, Abd. Nur Muhammad dari Desa Kedungbanteng, Sumbermanjing Wetan mengakui telah menjadi Agen BRIlink dan membantu tetangga di desanya untuk bertransaksi mudah. Mulai dari tarik tunai, menabung hingga pembayaran token listrik dan pulsa. “Sangat mudah dan bisa memudahkan masyarakat juga. Mereka tidak perlu jauh-jauh ke bank untuk setor atau ke ATM untuk tarik tunai. Bisa di rumah saya, jam berapapun,” ucap pria yang juga Modin ini.
Ia sendiri mengawali menjadi agen BRIlink dengan modal Rp 30 juta dan perputaran uangnya saat ini mencapai RP 760 juta. “Semua masyaraat sangat terbantu dengan keberadaan program ini. Setelah saya menjadi agen, hampir 70 persen masyarakat di desa saya akhirnya punya rekening bank,” tambah pria ramah tersebut dalam testimoninya.
Sedangkan BTN telah menggandeng Kantor Pos dengan membuka agen di pedesaan seperti di Desa Sukodono. “Kami sudah menyiapkan ini sejak lama, dan untuk layanan Laku Pandai ini ada pemilihan agen yang bekerjasama dengan PT Pos. Beberapa persyaratan berlaku untuk jadi agen kami,” ujar Vice President Dep. Regional Manager Bussines BTN, Reinhard Harianja.
Sementara, BTPN juga sudah memiliki produk BTPN Wow untuk mendukung program Laku Pandai. Menyusul, BNI yang segera melaunching produk sebagai bukti keseriusan terlibat aktif dalam layanan keuangan inklusif ini. Dalam launching yang berlangsung di Kantor Desa Sukodono, kemarin, hadir pula perwakilan setiap bank umum yang mengenalkan produk Laku Pandai kepada masyarakat sekitar. Selain itu, Anggota Komisi IX DPR RI, Andreas Eddy Susetyo juga turut serta dalam launching yang mengundang 400 penduduk desa serta 60 pelajar di desa tersebut. (ley/han)