OJK: Bank Syariah Berkembang Pesat, Tapi Belum Optimal

MALANG POST - Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D. Hadad mengatakan, selama dua dekade, sejak tahun 1993, industri keuangan Syariah berkembang pesat. Meski demikian dia menilai, perkembangannya belum optimal.
Muliaman menyampaikan hal itu di hadapan Presiden Joko Widodo (Jokowi), saat Pembukaan Peresmian Acara "Aku Cinta Keuangan Syariah" di Parkir Selatan Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu, 14 Juni 2015.
Ia menjelaskan, saat ini, industri keuangan Syariah tak hanya bank Syariah, tapi juga ada industri keuangan nonbank, saham syariah, reksadana syariah, dan obligasi atau Sukuk Syariah. "Namun, industri keuangan Syariah belum (tumbuh) optimal. Penetrasi pasarnya masih jauh dari potensi pertumbuhan," kata Muliaman menambahkan.
Muliaman mengungkapkan, per Maret 2015, industri perbankan Syariah terdiri atas 12 bank umum, 22 unit usaha Syariah, yang dimiliki bank konvensional, dan 163 Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) dengan total aset Rp264,81 triliun. Meski demikian, total aset yang dimiliki perbankan syariah masih kecil, yaitu 4,88 persen dari aset perbankan konvensional. "Baru lima persen dari aset perbankan konvensional," ujarnya.
Menurut dia, pihaknya terus meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap keuangan syariah. "Kami meningkatkannya lewat edukasi dan sosialisasi," tambahnya.
Sementara itu, Presiden Joko Widodo optimistis Indonesia akan menjadi pusat keuangan Syariah di dunia. Alasannya dengan jumlah penduduk muslim terbesar, namun saat ini pangsa pasar keuangan Syariah masih minim.
Kemarin, dilakukan pencanangan kampanye nasional 'Aku Cinta Keuangan Syariah'. Selain itu, Jokowi beralasan Indonesia satu-satunya negara yang menerbitkan sukuk ritel, dan Indonesia penyalur sukuk terbesar di dunia. "Bila semua potensi terus dikembangkan, maka kita optimistis Indonesia akan jadi pusat keuangan syariah, Insya Allah," kata Jokowi saat mencanangkan kampanye nasional Aku Cinta Keuangan Syariah di kegiatan Pasar Rakyat Syariah di Senayan, Jakarta, kemarin.
Ia mengatakan pangsa pasar keuangan Syariah di Indonesia baru 4,7% atau Rp 263 triliun padahal peluang bisnis berbasis keuangan yariah masih sangat terbuka lebar karena sebagian besar masyarakat belum terakses layanan keuangan. Menurut Bank Dunia, hanya ada 3,61% penduduk Indonesia yang sudah membuka account bank. "Kelas menengah dengan kemampuan menabung membutuhkan jasa keuangan, dengan peluang tumbuh yang masih terbuka lebar memiliki peran strategi 18 juta rekening saat ini yang punya rekening. Kita juga mikro syariah," kata Jokowi.
Jokowi menegaskan kampanye nasional 'Aku Cinta Keuangan Syariah' harus didukung untuk memperluas pengembangan masyarakat. "Saya sangat menghargai apa yang telah dilakukan OJK (otoritas jasa keuangan) program Simpel IB atau Simpanan Pelajar Perbankan Syariah: simpanan pelajar, ini saya kira kalau digerakkan dan dibangunkan kembali selain edukasi juga akan meperkuat tabungan kita," tambahnya. (jpnn/dtd/udi)