Ongisam Tetap Bertahan di Tengah Mati Suri Dunia Bola

Tidak banyak orang yang mau meninggalkan pekerjaan utamanya untuk menekuni usaha sambilannya. Apalagi jika harus memulai dari bawah untuk membesarkan usaha tersebut. Namun hal ini tidak berlaku bagi Teguh Prasetyo (32), yang membuat keputusan besar saat meninggalkan kondisi mapan dan pekerjaannya di Jakarta untuk serius berbisnis berbasis hobinya sendiri, desain.  


Sebelum memiliki store Kickoff,  pria asal Tumpang ini pernah bekerja di Digital Printing dan Media di Surabaya dan Jakarta. Di sela kerja, Teguh iseng mendesain beberapa kaos dan ternyata banyak peminatnya. Prospek dan potensi tersebut dibaca Teguh hingga meneguhkan hatinya untuk resign.
“Saya pilih mendesain kaos sebab ini fashion item yang simpel dan enak dipakai. Sebagian besar orang juga lebih suka memakai kaos. Awalnya saya namai usaha ini dengan Oyisam, namun saya ganti jadi Ongisam,” katanya.   
Awalnya Teguh menjual produknya itu melalui online. Ketika semakin banyak peminat, ia lalu membuka store di Tumpang. Setelah beberapa lama berbisnis, Teguh berinisiatif membuka toko di Soekarno Hatta karena sebagian besar customernya berasal dari Kota Malang. “Supaya mereka lebih gampang melihat produk di toko,” tambahnya.
Tak mudah membangun bisnis. Bahkan Teguh harus merasakan rugi hingga berjuta-juta rupiah di awal perjalanannya. Namun kala itu ia tak peduli, terpenting ia dapat menyalurkan hobi dan merasakan senang karena ada banyak orang yang menjadi peminat hasil karya desainnya.
Serius berbisnis, pemilik Store Kickoff dan brand Ongisam ini pun tak merasa takut dengan pesaing yang bergelut di bisnis yang sama, sebab ia menjadikan mereka sebagai tantangan untuk dapat berkarya lebih baik lagi. “Saat ada tantangan, kita pasti bisa membuat karya lebih bagus, tidak terlena. Kondisi ini juga membuat bisnis lebih maju,” ujarnya.
Saat ini, toko Teguh yang berada di Jl Soekarno Hatta itu menjual t-shirt, polo, jaket, syal dan atribut supporter. Semua yang dijualnya adalah hasil dari desain sendiri dan beberapa ada titipan dari brand lain. Ia mematok dengan harga standar mulai dari Rp 100 ribuan. Dalam sebulan ia bisa membukukan omzet hingga Rp 70 juta.
Meski saat ini kondisi sepak bola di Indonesia sedang mati suri akibat pembekuan dari PSSI, Teguh tidak merasa ada dampak negatif untuk bisnis kaosnya. Dia tetap berkarya dengan membuat desain kaos unik seperti kaos bertuliskan Sepakbola Libur, Mens Po Ra, R.I.P PSSI, SEFVCKBOLA NOTHINK dan lain-lain.
“Saya membuat desain seperti itu sebagai bentuk protes terhadap PSSI, dari pada saya harus demo,” ungkapnya tegas.
Hingga saat ini, pelanggan produk Teguh tidak hanya berasal dari Malang saja, tapi dari seluruh penjuru Indoneisa hingga luar negeri seperti Paris, Eropa, Hongkong dan Taiwan. “Mereka yang di luar negeri tahu produk kita karena melihat di internet,” tandasnya.
Pria yang oleh sahabat karibnya sering disapa Huget ini mengungkapkan, saat ini memang sudah banyak pelanggan dan pecinta kaos yang mengenal produknya, namun ia juga masih mengenang liku perjalanan yang harus dilalui. Mulai dari produksi yang gagal hingga customer yang memesan dalam jumlah banyak namun tidak mengambil orderannya. “Bisnis itu dinikmati saja, Karena proses dalam membangun nama memang berat seperti mencari kepercayaan dari customer,” ungkapnya.
Ke depan, Teguh bermimpi untuk membuka toko Kickoff dengan area lebih luas dan menampung lebih banyak brand. “Untuk konsep, saya tetap teguh pada desain anti mainstream dan tidak pasaran,” pungkasnya.(mg14/han)