Krepek Dongklek Diminati Turis Mancanegara

MALANG - Akar bambu nyatanya memiliki nilai guna tambahan yang mampu menciptakan karya seni yang diminati turis domestik maupun mancanegara. Di tangan Hari, salah seorang perajin asal Malang, akar bambu atau yang lebih dikenal dengan dongklek disulapnya menjadi aneka kesenian berbentuk serangga, hewan, dan aneka biota laut.
Selain dikenal sebagai kota pariwisata, Malang menyimpan banyak potensi seni yang menakjubkan dari para perajinnya. Salah satunya adalah Hari yang telah mendirikan usaha pembuatan miniatur unik berbahan akar bambu atau dongklek sejak 1985. Selama 30 tahun Hari telah melahirkan banyak kreasi seni mulai dari miniatur hewan hingga yang terbaru kini dia memproduksi topeng-topengan berbahan dasar koran yang kerapkali dibeli oleh beberapa sekolah untuk pementasan seni dan karnaval.
“Alhamdulillah sebagian besar masyarakat masih menyukai karya yang saya ciptakan. Walaupun kini telah banyak miniatur yang memiliki konsep lebih modern dan minimalis, nyatanya kerajinan berbahan dasar akar bambu ini masih sangat diminati,” ujar Hari.
Hari menggunakan bambu ori untuk membuat aneka miniatur yang dirancangnya. Bambu ori dipilih karena memiliki serat batang yang terbilang kuat jika dibandingkan dengan bambu jenis lain. Oleh sebab itu, miniatur karyanya tidak mudah berjamur dan rusak termakan rayap.
Selain itu, Hari tidak menggunakan tahap penghalusan. Menurutnya, rata-rata pelanggannya lebih menyukai tampilan yang lebih natural. Berbeda dengan beberapa pengusaha kerajinan dongklek, Pak Hari sangat menjaga ciri khas karyanya. Setiap miniatur dongklek karyanya diciptakan apa adanya sesuai dengan tekstur dari bambu itu sendiri. Dia hanya membentuk desain sesuai rancangannya namun tidak menghilangkan detai-detail alami dari akar bambu.
“Saya enggan untuk menambahkan proses penghalusan pada setiap karya yang saya ciptakan. Saya ingin pelanggan bisa melihat seni sebenarnya. Kalau menggunakan proses penghalusan atau dibentuk dengan mesin, maka nilai seninya tentu berbeda dengan dongklek yang dipahat secara manual dengan tetap menjaga unsur alami dari bambu itu sendiri,” paparnya.
Kesenian dongklek ciptaannya tidak hanya digemari masyarakat di kawasan Malang saja, beberapa pelanggannya datang pula dari mancanegara yaitu Singapura, Malaysia dan Cina. Walaupun memiliki nilai seni yang cukup tinggi, miniatur dongklek karyanya dibandrol dengan harga yang terbilang terjangkau berkisar Rp 50 ribu- Rp 350 ribu.
Tidak hanya dijadikan sebagai pajangan atau aksesoris pemanis dalam ruangan, miniatur dongklek ciptaannya seringkali dijadikan pula sebagai benda koleksi seni oleh para pembelinya. Hari telah membuktikan bahwa akar bambu atau dongklek sesungguhnya dapat dimanfaatkan sebagai kerajinan yang memiliki nilai seni dan sukses memikat wisatawan mancanegara pula.(mg9/han)