Motif Sinaran Ngehits, Paling Dicari Konsumen

MALANG – Jelang lebaran, produsen batik meluncurkan berbagai motif terbaiknya. Salah satunya Batik Wongso dari Solo yang kini tengah mengikuti pameran batik di Hall MOG Malang. Motif sinaran mendominasi baik untuk kemeja, blouse hingga long dress.
Owner Batik Wongso, Yusana Windi mengatakan, motif sinaran paling laris untuk saat ini, sehingga produksinya pun didominasi motif tersebut. “Untuk batik tradisional dengan corak gelap, motif sinaran yang kini sedang in. Disukai oleh berbagai kalangan,” katanya.
Menurut dia, motif sinaran memiliki perbedaan dengan motif lain. Motif yang tampak lebih berpola, membuat batik ini terlihat menarik. Sebagian besar motif gambarnya, dari ukuran kecil di sisi atas dan terus membesar di bagian bawah.
“Misalnya pada koleksi dress yang bisa menampilkan motif ini dengan sempurna. Terlihat megah di bagian bawah,” beber dia kepada Malang Post.
Yusana mengatakan, batik sinaran yang dimilikinya merupakan jenis batik tulis dan ditawarkan mulai dari Rp 300 ribuan hingga Rp 800 ribuan. Tergantung besar kecilnya dress atau blouse, serta motif pendamping yang menyempurnakan batik sinaran ini. “Misalnya dress yang cocok untuk dipakai ke kantor, harganya Rp 400 ribuan,” ujar dia sembari menunjukkan dress yang dimaksud.
Dia mengatakan, di setiap kali pameran, dalam tiga bulan terakhir bisa menjual batik motif sinaran antara 8-12 pieces per hari. Bisa berupa fashion yang sudah jadi seperti dress maupun yang masih bahan kain. “Bila membeli kain kan bisa memodifikasi modelnya sendiri. Sementara, untuk karyawan biasanya enggan ribet dengan membeli yang langsung jadi,” papar dia.
Sementara itu, motif lain yang dimiliki oleh Batik Wongso adalah parang bagong, pajem dan sogo. Menurut dia, ciri khas dari batik kuno yang lahir di seputar Jogjakrta dan Solo berwarna gelap. “Namun sekarang produsen batik sudah berpikir modern. Memadukan warna gelap dan cerah pun tidak menjadi masalah,” urai dia panjang lebar.
Untuk saat ini, ketika pameran, Batik Wongso juga membawa beberapa koleksi dengan harga yang lebih terjangkau. Batik cap dan printing, dibandrol mulai dari Rp 50 ribu dan diakuinya menjadi koleksi laris ketika pameran. “Seperti kacang goreng, apalagi jelang lebaran, customer yang membeli borongan,” tandasnya. (ley/han)