Minus, Pertumbuhan Kredit di Malang

MALANG – Pertumbuhan kredit perbankan di wilayah kerja Kantor Otoritas Jasa Keaungan (OJK) Malang, melambat. Terbukti sampai Mei 2015, pertumbuhan masih -0,91 persen. Kondisi ini dipengaruhi beberapa faktor, salah satunya melambatnya perekonomian yang juga terjadi dalam skala nasional.
Kepala Kantor OJK Malang Indra Krisna mengatakan perekonomian di wilayah Malang melambat karena proyek-proyek pemerintah terlambat di semester pertama. Alhasil, ekspansi kredit perbankan belum terwujud hingga akhir Mei 2015 lalu.
“Hingga akhir bulan lalu, perbankan terhambat untuk melakukan ekspansi dan penyaluran kredit. Hal ini berdampak pada pertumbuhan ekonomi di sektor lainnya pula,” ujarnya.
Menurut dia, realisasi penyaluran kredit tersebut sampai dengan Mei 2015 masih minus, yakni -16,72 persen. Realisasi kredit konstruksi sampai dengan Mei 2015 mencapai Rp 767,527 miliar, turun bila dibandingkan posisi akhir Desember 2014 yang mencapai Rp 921,622 miliar.
Indra menyampaikan, hampir semua sektor ekonomi yang dibiayai perbankan sampai dengan Mei 2015 mengalami pertumbuhan negatif. Sektor ekonomi pertanian dan kehutanan tercatat -4,23 persen dari Rp 1,078 triliun pada Desember 2014 menjadi Rp 1,033 triliun. Industri pengolahan -10,06 persen dari Rp 6,048 triliun menjadi Rp 5,439 triliun.
Listrik, gas dan air -23,28 persen dari Rp158 miliar menjadi Rp 121 miliar. Sektor penyediaan akomodasi dan penyediaan makan-minum -2,34 persen dari Rp 491 miliar menjadi Rp 479 miliar. Transportasi, pergudangan dan komunikasi -3,76 persen dari Rp 572 miliar menjadi Rp 551 miliar, realestate -0,96 persen dari Rp 797 miliar menjadi Rp 789 miliar.
Lalu adminsitrasi pemerintahan dan pertahanan -72,72 persen dari Rp 1,84 miliar menjadi Rp 514 juta dan jasa pendidikan -1,42 persen dari Rp 182 miliar menjadi Rp 180 miliar.
Dia memprediksi, semester II/2015 realisasi penyaluran kredit perbankan akan lebih baik. Selain karena realisasi proyek pemerintah sudah banyak, juga ada pelonggaran kebijakan dari Bank Indonesia untuk loan to value di sektor properti dan kendaraan bermotor. Sektor lain yang juga dapat mendorong, yakni sektor pertanian.
Meskipun demikian, dia mengakui, target pertumbuhan kredit di kisaran 15 persen-17 persen sepanjang 2015 di wilayah kerja Kantor OJK Malang sulit terpenuhi. Dia memprediksi, ada koreksi realisasi kredit sepanjang 2015 setelah memperhatikan realisasi penyaluran kredit sampai dengan Mei 2015. “Koreksinya sekitar 2 persen. Kalau batas bawahnya, kemungkinan di angka 12 persen, sedangkan jika di batas atas di kisaran 14 persen,” ujarnya. (ley/han)