Maskapai Reschedule Tiket Penumpang

MALANG - Penutupan Bandara Abd Saleh imbas debu vulkanis Gunung Raung yang terjadi ketika H-1 dan hari H Lebaran lalu, membuat maskapai kelimpungan melayani reschedule (penjadwalan ulang) dan refund (pengembalian dana) penumpang yang gagal terbang. Sebab, kejadian tersebut berlangsung ketika high season penerbangan dan masa libur bagi beberapa admin maskapai.
District Manager Sriwijaya Air Malang, M. Yusri Hansyah mengatakan, saat ini memang masih terjadi beberapa kendala, terutama untuk proses refund. "Kejadiannya pas akhir pekan dan awal pekan ini juga masih libur untuk kantor. Sehingga penumpang yang memilih refund pun harus menunggu," katanya.
Menurut dia, untuk penumpang yang memilih refund, proses akan berlangsung sekitar dua pekan, sejak hari pertama pengajuan. Dana yang telah dikeluarkan untuk membayar tiket yang sebagian besar penumpang arus mudik ini akan dikembalikan. "Tetapi memang harus ada proses dan syaratnya. Yang jelas, pembatalan ini karena masalah alam yang tidak bisa dihindari dan bukan kesalahan maskapai," beber dia kepada Malang Post.
Sementara itu, untuk penumpang yang memilih reschedule, Sriwijaya memberikan kesempatan penumpang yang ingin menggunakan jadwal di hari berikutnya. Misalnya di pekan ini, namun ada pembatasan penumpang untuk masa arus balik tersebut. "Untuk penumpang dari Jakarta ke Malang, mungkin lebih mudah proses reschedulenya. Sedangkan untuk Malang-Jakarta, kami harus benar-benar mengaturnya," tambah Yusri.
Pria berkepala plontos ini membeberkan, sebelum kejadian penutupan penerbangan, load factor (keterisian penumpang) Sriwijaya ketika arus balik sudah mencapai 85 persen. Alhasil, kuota atau seat yang tersisa hanya sekitar 15-20 penumpang jatah reschedule.
"Sekali penerbangan, ada 140 seat. Sisa seat untuk melayani penumpang reschedule," bebernya.
Dia menyebutkan, selama penutupan, Sriwijaya gagal mengoperasikan enam flight. Terdiri dari dua flight yang gagal 16 Juli, dan empat flight 17 Juli 2015. Sementara, 18 Juli lalu, maskapai telah berhasil terbang meskipun terkendala penundaan jam (delay). "Mulai Sabtu (18/7/15) lalu, sudah bisa terbang full. Sedangkan hari ini (kemarin, red) jadwal sudah normal," tambah Yusri.
Sementara itu, Branch Manager Citilink, Indra Fajar mengatakan, bila maskapainya gagal mengoperasikan tiga flight ketika penutupan bandara, Kamis-Jumat lalu. Rinciannya, satu extra flight dan satu jadwal reguler. "Ada tiga flight dengan total penumpang sekitar 250 orang," ujarnya.
Menurut dia, ketika penutupan bandara, untuk penerbangan ke Jakarta masih tergolong rendah. Sebaliknya, dari Jakarta masuk peak season dengan keterisian 100 persen. Dia menyebutkan, penumpang bisa memilih reschedule atau refund dana akibat kejadian itu. Namun penumpang harus segera melakukan jadwal ulang bila ingin menggunakannya di pekan ini. Sebab, pekan ini merupakan masa arus balik dan permintaan perjalanan ke Jakarta terhitung tinggi.
Menurut dia, salah satu cara untuk mengatasi keribetan ketika proses reschedule, Citilink menutup reservasi tiket. "Antara 16-18 Juli, tidak ada reservasi tiket baru. Yang ada, cover pack bagi yang gagal terbang," sebutnya.
Menurut dia, kerugian akibat gagal terbang ketika high season selain keuntungan finansial, pada keribetan penjadwalan ulang bagi penumpang.(ley/han)