Patut Ditiru Swasta Lain, Demi Meningkatkan Kualitas SDM

Gubernur Jawa Timur Soekarwo menyambut positif implementasi kurikulum pendidikan ritel Alfamart Class di 53 SMK di Jawa Timur. Respons positif tersebut ditandai dengan kesediaannya menyaksikan MoU antara Corporate Affairs Director Alfamart Solihin bersama Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Timur Syaiful Rachman, di Dyandra Convention Center, Senin (3/8/2015).
Soekarwo mengatakan, kualitas SDM adalah problem yang serius untuk ditangani. "Model yang dikembangkan Alfamart melalui Alfamart Class seperti ini adakah model sinergi ABG yaitu Academic-Business-Government. Ini bagus untuk ditiru pihak swasta lain dalam menangani problem SDM," jelas pria yang akrab disapa Pakde Karwo usai acara.
Memasuki Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) tahun ini, kata dia, SDM di Jawa Timur harus memiliki kompetensi. "Kompetensi ini bisa diciptakan dengan membuat standarisasi. Salah satunya seperti yang dilakukan Alfamart," lanjutnya.
Pakde Karwo juga meyakini, semakin banyak sektor swasta yang terlibat memajukan SDM di JawaTimur akan berimplikasi positif terhadap percepatan pertumbuhan ekonomi Jawa Timur. "Gagasan Indonesia Incorporated harus terus didorong," tegasnya.
Indonesia Incorporated ini adalah konsep multisinergi sektor pemerintah dengan sektor korporasi atau swasta dan masyarakat dalam mengelola serta mewujudkan pembangunan ekonomi yang terintegrasi. "Kalau di negara maju, Research and Development (R and D) dibiayai sektor swasta. Kalau di sini belum bisa sepenuhnya swasta terlibat. Problem yang terjadi kadang-kadang, pihak swasta A yang melakukan R and D, tapi diambil oleh pihak swasta lainnya. Ini karena swasta belum melakukannya secara menyeluruh," ujarnya.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Timur Syaiful Rachman mengatakan, peran swasta dalam menggerakkan kualitas SDM di Jawa Timur sangat dibutuhkan. "Tak hanya Alfamart, harapan kami nantinya muncul semakin banyak sektor swasta lain yang ikut berkontribusi," katanya.
Terkait Alfamart Class ini, Syaiful berpendapat program ini memiliki arah positif mengentaskan pengangguran. "Mereka yang sudah tersertifikasi dalam program ini punya pilihan, kalau tidak bergabung dengan perusahaan Alfamart atau membuka toko ritel sendiri dengan standar seperti yang diterapkan Alfamart," lanjutnya.
Corporate Affairs Director Alfamart Solihin dalam kesempatan yang sama mengatakan, program Alfamart Class ini sebetulnya sudah lama diimplementasikan di Jawa Timur. "Tapi baru 3 SMK yang bekerja sama. Kali ini ada 52 SMK yang secara resmi akan menerapkan kurikulum Alfamart Class," jelasnya.
Ke depan, akan lebih banyak SMK yang menerapkan kurikulum Alfamart Class di Jawa Timur. Ini mengingat, jumlah kebutuhan tenaga kerja di sektor ritel cukup besar. Sebelumnya, pada 24 Juli 2015  Alfamart telah mengadakan workshop yang difasilitasi oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur dengan menghadirkan 53 Kepala SMK tersebut.
Workshop tersebut berisi materi pemantapan praktek kerja lapangan SMK Negeri/Swasta se-Jatim. Selain itu, sinkronisasi kurikulum Alfamart Class dengan kurikulum SMK Jurusan Pemasaran /Tata Niaga.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jatim Syaiful Rachman pada kesempatan tersebut mengatakan, model penerapan kurikulum Alfamart Class di Jatim kali ini merupakan terobosan baru.
 Bentuknya berupa percepatan pendidikan SMK dengan model in class 2 tahun pada kelas X dan XI, kemudianmagang atau praktek kerja industri (prakerin) full 1 tahun pada kelas XII. “Kami bekerja sama dengan Alfamart karena perusahaan ritel ini telah siap melaksanakan program percepatan pendidikan SMK. Harapan saya, model semacam ini bisa ditiru oleh provinsi-provinsi lain, karena merupakan program yang bagus,” katanya.
 Selama ini, program prakerin Alfamart Class hanya berlangsung selama 3-4 bulan. Namun melalui kerja sama ini, prakerin dibuat full 1 tahun pada kelas XII. Syaiful Rachman menambahkan, untuk memperkuat sinergi kurikulum tersebut maka seluruh tenaga pengajar yangproduktif di Jurusan Pemasaran akan diberikan Training for Teacher (TFT) oleh tim Alfamart.
 “Mereka juga diberikan kesempatan untuk magang di toko Alfamart agar memiliki pengetahuan dan keterampilan yang up to date mengenai dunia ritel,” lanjutnya.
 Untuk mendukung pembelajaran di kelas, maka beberapa SMK terpilih akan mendapatkan hibah laboratorium pengelolaan ritel atau bussiness center.
 Solihin kembali meyakinkan, bagi siswa-siswi yang telah masuk dalam program Alfamart Class, setelah lulus SMK dijamin 100 persen bisa bekerja di Alfamart sebab mereka adalah calon tenaga kerja yang terdidik dan terlatih.
 Outcome program Alfamart Class ini, kata Solihin, memang menciptakan lulusan-lulusan yang  siap bekerja di sebagai karyawan Alfamart. “Jadi ketika mereka masuk, langsung naik grade 4. Ini berbeda dengan lulusan SMA atau SMK yang non Alfamart Class. Pada saat mereka direkrut menjadi store crew maka mereka masuk grade 3,” jelasnya.
 Saat ini Alfamart Class telah diimplementasikan di 36 SMK yang tersebar di 21 kota, yakni Jakarta, Bandung, Banjarmasin, Makassar, Manado, Medan, Cilegon, Semarang, Madiun, Malang, Denpasar, Plumbon (Kab Cirebon), Pekanbaru, Bogor, Mataram, Cianjur, Sengkang (Sulawesi Selatan), Tondano, Cilacap, Bangli (Bali), dan Jombang.(*/han)