Penukaran Uang Capai Rp 2,9 Triliun

MALANG – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Malang mencatatkan angka penukaran uang baru sambut lebaran tahun ini mencapai Rp 2,9 triliun. Angka ini naik dari tahun sebelumnya, Rp 2,7 triliun.
“Tahun ini ada kenaikan mencapai Rp 200 miliar untuk penukaran uang selama menyambut lebaran. Baik dari perbankan maupun masyarakat umum,” ujar Kepala KPw BI Malang, Dudi Herawadi, di sela-sela Halal Bihalal dengan Perbankan dan Media, di Skyroom Best Western OJ Hotel, Rabu (5/8/15) malam.
Menurut dia, penukaran uang baru dan uang pecahan kecil meningkat setiap tahun. Karena itulah, sebenarnya BI sudah menyiapkan uang baru sebanyak Rp 3,5 triliun. “Kami siapkan jauh lebih besar, karena minat masyarakat kian besar. Angka Rp 3,5 triliun terdiri dari uang baru dan uang pecahan besar,” beber dia.
Dudi menyampaikan, tahun ini penyaluran uang dari KPw BI Malang langsung kepada masyarakat mencapai Rp 66 miliar. Selama sembilan hari penukaran ada sekitar 900-1100 penukar per hari. Dari permohonan korporat atau masyarakat yang menukarkan uang dengan nominal di atas Rp 50 juta, mencapai 342 pemohon.
Sementara itu, bulan ini diprediksi oleh Dudi menjadi masa arus balik dari uang yang telah tersalurkan kepada masyarakat. Nasabah perbankan akan mulai menyimpan dananya kembali. Pertengahan Agustus ini transaksi akan berangsur normal. “Sebelum 17 Agustus, dana dari KPw BI Malang untuk menyambut lebaran pasti sepenuhnya sudah kembali. Posisi neraca terakhir di awal pekan ini saja sudah mencapai Rp 3,7 triliun,” urainya.
Sementara itu, Rabu malam berlangsung Halal Bihalal KPw BI Malang dengan perbankan dan media di Malang di Skyroom BW OJ Hotel Malang. Dalam kesempatan tersebut, Dudi menyampaikan terima kasih untuk kinerja perbankan yang maksimal dalam melayani nasabah ketika menyambut lebaran. Mulai dari layanan penukaran uang baru hingga upaya memberikan bantuan mobile kas keliling.
Selain itu, KPw BI Malang dan pemerintah daerah serta berbagai pihak, sudah berhasil menekan kestabilan harga bahan pokok. “Beberapa kali digelar operasi pasar. Bahan pokok yang potensial naik berhasil terjaga, sehingga Juli lalu angka inflasi tidak terlalu tinggi. Beberapa kota seperti Jember, Sumenep dan Madiun lebih tinggi,” terang dia. (ley/han)