Aduh, Rupiah dan IHSG Terpuruk

MALANG – Kondisi perekonomian Indonesia terus bergerak ke level yang rendah di bulan ini. Rabu (12/8/15) kemarin, nilai tukar Rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjun bebas mencatatkan angka terendah sepanjang tahun ini. Penurunan rupiah pun merupakan yang terendah sejak 1998.
Nilai tukar Rupiah ditutup menjadi Rp 13.788 per dollar AS, atau melemah sebesar 1,4 persen. “Rupiah terus melemah, hari ini (kemarin, red) prosentase penurunan tertinggi sejak Desember 2014 dan sempat menyentuh Rp 13.831 per dollar AS,” ujar Manager SucorInvest Malang, Agus Prianto.
Menurutnya, dari catatan ekonomi pun menunjukkan bila nilai tukar rupiah kemarin terendah sejak masa krisis 1998. Pelemahan ini dikhawatirkan akan berdampak ke berbagai sektor, tak terkecuali pasar investasi di Indonesia. “Terbukti, beberapa kali pasar saham ikut terimbas sentiment negatif karena rupiah terus melemah,” sebutnya kepada Malang Post, petang kemarin.
Dia menyebutkan, IHSG tidak kalah rendah di pekan ini. Saham gabungan anjlok ke level 4.479 yang merupakan level terendah dalam kurun waktu 18 bulan terakhir. Prosentase penurunan mencapai 3,1 persen, mengikuti perdagangan hari sebelumnya yang mencapai 2 persen.
Berdasarkan data transaksi, 269 emiten harus merelakan nilai sahamnya anjlok dalam perdagangan kemarin. Sebaliknya, emiten yang berhasil naik sebanyak 32 saham dan yang stagnan sebanyak 63 saham. Volume transaksi mencapai 5,27 miliar, namun didominasi dengan aksi nett sale dengan jumlah transaksi mencapai Rp 5,8 triliun. “Banyak yang melakukan aksi jual, tak terkecuali investor asing,” tambah dia.
Agus menyebutkan, pelemahan rupiah menjadi satu faktor kuat yang membuat saham ke zona merah. Selain itu, sejak awal pekan kemarin keputusan Bank Sentra Tiongkok untuk melakukan devaluasi mata uang sangat berpengaruh besar.
Dikonfirmasi terpisah, pengamat ekonomi dan pasar modal, Kartono menuturkan, pasar regional yang tidak bagus mempengaruhi pasar ekonomi Indonesia. “Hal ini bisa dilihat dengan penurunan Indeks Topix Jepang, Bloomberg, Indeks Nikkei dan juga ekonomi Tiongkok yang menjadi satu kekuatan besar yang berpengaruh secara global,” tuturnya.
Pria yang kerap disapa Nando ini pun tidak menampik, kondisi ekonomi di Indonesia juga bergerak negatif. Terbukti dengan pelemahan berbagai sektor bisnis, serta terus merosotnya nilai tukar rupiah.  “Kondisi ekonomi gampang terpengaruh isu, baik regional di kawasan Asia maupun dunia. Kinerja kementerian pun turut berpengaruh besar, terutama bagi calon investor,” tambahnya. (ley/han)