Sudah Lemah, Tak Perlu Devaluasi Rupiah

Bank Indonesia
JAKARTA- Bank Indonesia (BI) menegaskan tidak akan mengikuti kebijakan Pemerintah China dan Vietnam yang sengaja melemahkan mata uang Yuan dan Dong. Mirza Adityaswara, Deputi Gubernur Senior BI, menilai devaluasi tak perlu dilakukan oleh negara berkembang seperti Indonesia mengingat secara alamiah kursnya telah melemah.
"Indonesia tidak perlu ikut, karena negara-negara emerging market seperti Brazil, Thailand, Turki termasuk Indonesia nilai mata uangnya sudah melemah," ujar Mirza di Jakarta, Kamis (20/8).
Menurut catatan Mirza, bahkan negara-negara maju juga tak luput dari pelemahan mata uang seperti Krone Norwegia yang telah melemah 12 persen, dolar Selandia Baru minus 15 persen, dan dolar Australia terdepresiasi 10 persen. "Negara-negara itu tidak perlu ikut Cina yang melemahkan mata uangnya, karena mereka kemarin-kemarin tidak melemah," ujar Mirza.
Mengutip data Reuters, sejak awal tahun sampai hari ini, rupiah sudah jatuh 11 persen terhadap dolar AS. Berdasarkan kurs tengah BI, rupiah pada penutupan perdagangan hari ini, Kamis (20/8) berada pada level Rp 13.838 per dolar AS atau menguat tipis 14 poin atau 0,1 persen dibandingkan posisi kemarin Rp 13.824 per dolar AS. (cn/han)