UMKM Goyah Perlambat Pertumbuhan Ekonomi

JAKARTA - Rendahnya daya beli masyarakat membuat penurunan produktivitas para pengusaha kecil dan menengah yang berpengaruh terhadap perekonomian nasional di paruh pertama 2015. Direktur Eksekutif Institute for Economic Development and Finance (Indef) Enny Sri Hartati pun menilai,
goyahnya sektor Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) menyebabkan pertumbuhan ekonomi yang lesu pada kuartal II 2015.
Merujuk data Badan Pusat Statistik, pertumbuhan ekonomi pada kuartal kedua berada pada angka 4,67 persen. Angka tersebut melemah sebanyak 0,03 persen dari kuartal pertama. Jauh dari capaian yang ditargetkan Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro sebanyak 5,2 persen sampai akhir tahun.
"Ekonomi kita berbasis sumber daya (resource based). Ketika kita mampu mengurus sektor ini dan punya daya saing dengan komoditas negara lain, kemudian meningkatkan lapangan kerja justru akan menjadi penyelamat yang pasti," kata Enny usai diskusi bertajuk ‘Menakar UKM di Tengah Krisis Indonesia’, di kawasan Kebon Sirih, Jakarta, Minggu (23/8) seperti dilansir cnnindonesia.com.
Enny menilai apabila pemerintah fokus menyelamatkan para pengusaha UMKM, pertumbuhan ekonomi Indonesia menurutnya tidak akan terganggu dengan depresiasi nilai tukar rupiah maupun perang nilai kurs yang makin terlihat sejak Cina mendevaluasi mata uangnya beberapa waktu lalu.
Namun, yang menjadi persoalan adalah, pemerintah selalu mengedepankan upaya mencapai target pertumbuhan ekonomi melalui kebijakan-kebijakan moneter. Padahal, kebijakan pemerintah mengurangi subsidi bahan bakar minyak (BBM) telah berakibat melambungnya sejumlah harga bahan pokok dan bahan produksi lain yang menjadi penyebab goyangnya fondasi bisnis UMKM.
Sekretaris Menteri Koperasi dan UKM Agus Muharam menambahkan, dalam kunjungan kerjanya ke sejumlah pusat perbelanjaan di Jakarta, ia menemukan penurunan jumlah pendapatan dari para pedagang.
"Menurun sampai 40 persen. Misalnya, jika biasanya menjual 100 item sekarang jadi 60 item saja," ujar Agus saat diskusi.
Lebih jauh, fenomena lain yang juga ia temukan terkait melemahnya bisnis pelaku UMKM adalah turunnya jumlah pinjaman di beberapa Bank Perkreditan Rakyat (BPR). "Ada penurunan pinjaman, biasanya jumlah pinjaman 20 persen sama seperti simpan, tapi sekarang menurun," ucapnya.

Pinjaman berkurang mengindikasikan menurunnya tingkat konsumsi kredit di pasar. Biasanya para pelaku UMKM meminjam uang dari BPR untuk memproduksi kembali barang dagangannya. Namun, tak lakunya barang yang telah diproduksi sebelumnya menjadikan roda putaran modal tersendat.
"Ada perlambatan, karena konsumsi berkurang maka produksi berkurang," ujarnya.
Untuk mengatasi hal tersebut, Agus mengklaim pemerintah telah menerapkan kebijakan dengan menurunkan suku bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari 22 persen menjadi 12 persen pada tahun ini. Tiga bank yang telah diajak bekerjasama dengan pemerintah yakni PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI), PT Bank Mandiri Tbk, dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI).
Target penyaluran dana KUR untuk ketiga bank hingga akhir tahun ini adalah Rp 30 triliun di seluruh Indonesia.  Selain itu untuk menyegarkan UMKM, pemerintah juga mengklaim telah membentuk Pusat Layanan Usaha Terpadu.
"Itu seperti rumah sakitnya UMKM. Kalau UMKM punya 'penyakit', bisa datang ke situ untuk konsultasi," ujarnya.
Solusi lain yang ditawarkan pemerintah adalah mendorong para pelaku UMKM untum bergabung dengan koperasi. Alasannya, koperasi sebagai saka guru perekonomian Indonesia mampu melindungi UMKM di tengah ganasnya pasar. Sementara itu, Enny mengaku pesimistis akan efektivitas dari kebijakan pemerintah. Ia justru menilai perlu adanya penguatan dari sektor Sumber Daya Manusia (SDM) pada para pelaku UMKM.

"Untuk meningkatkan daya saing di sektor UMKM adalah SDM. Misal kalau di SMK dipersiapkan praktikum dan lainnya sehingga jadi tenaga kerja terampil," ucapnya.
Enny juga menekankan pentingnya pendampingan efektif pada pengusaha kecil untuk berjuang di pasar. "Bagaimana mendidik mereka dengan labeling dan kemasan bagus, nilai tambah bisa dua kali lipat," katanya.
Meski kondisi UMKM di Indonesia tengah goyah, Enny menepis sektor ekonomi ini akan ambruk. Berkaca pada tahun 1998, UMKM mampu bertahan dan justru menjadi penyelemat krisis ekonomi kala itu. Ia pun berharap UMKM dapat menjadi penyelamat kembali sepanjang pemerintah mendukungnya.(cn/han)