Rupiah Melemah, Sektor Bisnis Waspada

MALANG – Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS terus melemah dalam beberapa waktu terakhir. Malahan, kurs rupiah telah menembus Rp 14.040 per dolar AS dalam penutupan perdagangan, Senin (24/8/15) kemarin. Rupiah yang terus melemah membuat banyak sektor bisnis waspada. Perbankan pun, dipastikan kian selektif dalam menentukan penyaluran kredit kepada nasabahnya.
Pemimpin Cabang Bank Jatim Syariah Malang, Tanti Widia mengatakan, tren pelemahan rupiah membuat perbankan sangat waspada. “Meskipun sebelumnya kami sudah sangat selektif, namun kini bisa dikatakan berlipat dalam menentukan target bisnis hingga menyalurkan kredit kepada nasabah,” katanya.
Menurut dia, berdasarkan pengamatannya, kondisi ekonomi saat ini memang tidak begitu baik. Sejak triwulan kedua 2015, tren yang menuju ke arah negatif telah terpantau. Hal itu berpengaruh pada pencapaian target dari perbankan. “Pertumbuhan ekonomi nasional di semester pertama sebagai bukti tidak lebih bagus dari tahun sebelumnya. Kondisi itu membuktikan banyak sektor melemah dan bank mulai mereview target tahun ini, ” beber dia kepada Malang Post, kemarin.
Perempuan berkerudung ini menjelaskan, perbankan tak terkecuali Bank Jatim Syariah, kini lebih berhati-hati dalam mengejar target penyaluran kredit. Sesuai dengan pengakuannya, hanya beberapa sektor yang menjadi prioritas. Misalkan pendidikan, kesehatan dan pariwisata. Untuk penyaluran di sektor lain, lebih baik tidak menjadi prioritas.
Dia mengatakan, pelemahan rupiah terhadap dolar AS kemarin, yang sudah menembus level ditakuti, bisa berpengaruh pada kekuatan ekonomi masyarakat. Misalkan daya beli yang berkurang dan sektor bisnis lesu. Beberapa sektor, seperti fashion, otomotif, dan komoditas, paling terimbas pelemahan rupiah saat ini.
 “Sektor yang berhubungan dengan barang impor, sangat terpukul. Penurunan otomotif sangat terlihat, begitu pula bisnis pakaian,” tambahnya.
Tanti mengakui, dari perkembangan terbaru, kekuatan keuangan nasabah juga berkurang. Hal ini terlihat dengan simpanan yang tidak sebanyak sebelumnya dan beberapa pembayaran kredit mengalami penundaan. “Bila terus terjadi, ya bahaya. Non performing loan (NPL) bisa naik,” sebutnya.
Terpisah, Analis Keuangan Kartono mengakui, ekonomi di tanah air bisa lebih turun lagi jika tidak ada perbaikan dari pemerintah. Pergantian menteri termasuk menteri keuangan beberapa waktu lalu terbukti tidak menimbulkan sentimen positif untuk memperbaiki perekonomian.
“Memang masih belum sebulan pergantiannya dan belum terasa kinerjanya. Tetapi, pergantian biasanya menjadi tolok ukur dan banyak yang berharap terjadi perubahan agar ekonomi kembali bergairah,” jelasnya.
Dia menambahkan, ketakutan akan krisis kini kian membesar dari berbagai kalangan. Meskipun pemerintah berupaya meyakinkan, kurs rupiah yang tidaklah perkasa di tahun ini merupakan bukti ekonomi di Indonesia sedang tidak baik.
Menurutnya, sektor mikro yang selama ini diyakini bisa lebih kuat menghadapi krisis, juga tidak bisa lagi diandalkan untuk bertahan. “Terbukti, banyak UKM yang mulai mengurangi kapasitas produksi atau malah tutup. Padahal, MEA sudah sesaat lagi,” jelasnya.
Pelaku Bisnis UKM, Budi mengatakan, tahun ini banyak pelaku UKM yang mengeluh. Semua menjadi mahal, akan tetapi daya beli masyarakat cenderung menurun. “Produk lebih susah terjual, terutama ketika tidak ada event atau momen hari besar,” sebut Budi.
Dia mengakui, ada beberapa temannya yang malah sudah menyerah untuk saat ini. Berhenti produksi menjadi satu solusi menghindari kerugian yang lebih besar. “Saya pun mulai berpikir untuk tidak produksi sementara waktu, sampai pasar kembali bergairah,” beber pria pemilik produksi minuman dari belimbing wuluh ini. (ley/han)