Kenali Prosesor Individu

MALANG – Dalam sebuah perkembangan bisnis maupun perusahaan, terdapat individu yang memiliki beragam karakter. Karakter dari individu yang berbeda itu, menurut motivator I Ketut Miratama, turut mempengaruhi perkembangan bisnis.
Karena itu pemimpin ataupun mereka yang ingin berkolaborasi mendirikan sebuah usaha, wajib memahami karakter partnernya. Supaya lebih maksimal dalam membesarkan sebuah bisnis. Hal itu disampaikan I Ketut Miratama, dalam kunjungannya ke Malang, pekan lalu. “Pada dasarnya manusia diciptakan dengan membawa karakter masing-masing, sehingga harus memahami, sebelum memulai atau menerima partner kerja,” ujarnya.
Menurut penulis The Secret of Human Emotional Driver ini, dalam sebuah usaha maupun perusahaan, dipastikan sering terjadi konflik. Entah itu sesama partner bisnis, maupun antara pemimpin dan anak buah. Faktor utamanya, terjadi miss komunikasi, karena tidak memahami karakter yang berbeda itu.

“Terkadang seseorang memaksakan karakter yang dimilikinya untuk teman atau anak buahnya. Padahal, penyampaian komunikasi dengan masing-masing orang itu berbeda,” jelas dia.

Menurutnya, seperti dalam buku yang dia tulis, manusia memiliki prosesor bawaan, yang tidak bisa berubah dari dia lahir sampai mati. Prosesor yang dicetuskannya, diistilahkan sebagai colored brain, yang terdiri dari empat warna. Green brain bagi mereka yang spontanitas dan berapi-api, blue brain bagi yang cenderung sensitif, purple bagi yang suka dengan hal rinci, dan red brain bagi yang suka menganalisa.

“Ketika memahami hal ini, pasti bisa lebih berhati-hati dalam berkomunikasi. Mengetahui karakter diri sendiri dan orang lain secara tepat, akan memahami kesalahpahaman dengan sesama rekan kerja,” jelasnya.

Dia menyebutkan, pengetahuan tentang prosesor manusia juga sangat mendukung bagi seseorang yang ingin sukses dalam pekerjaan. Lebih tepatnya, ketika mengetahui karakternya, maka lebih bisa maksimal dalam memanfaatkan potensi diri. “Sebagai jawaban pula, mengapa banyak orang masih gagal sukses ketika bekerja atau target tidak segera tercapai. Padahal, sudah sering memberi motivasi atau mendapat motivasi,” tambah dia.

Menurut dia, sebagian besar, individu akan berapi-api begitu mendapatkan motivasi. Berjalannya waktu, maka mulai kendor lagi. Semangat dalam hitungan hari ini, sesuai pula dengan karakter awal manusia. (ley/han)