Souvenir Topeng Malangan Lebih Disukai

MALANG - Titik Andayati, pemilik galeri seni Kria Sigit Margono mengembangkan topeng Malangan menjadi komoditas bisnis agar tidak makin terlupakan. Menurut Titik, topeng Malangan kian hari kian dilupakan oleh warganya sendiri. Anak-anak muda makin sedikit yang tertarik mempelajari topeng Malangan apalagi menekuni kerajinannya.
“Dari situlah, saya bersama suami yang memang pencinta seni memulai usaha penyedia topeng Malangan sebagai souvenir, oleh-oleh maupun cinderamata,” ungkap Titik, Selasa (25/8/15).
Ia menambahkan, galeri seni tersebut memang dikhususkan dengan koleksi topeng Malangan asli dari kayu yang dibuat perajin Jabung dan Kedung Monggo sampai topeng Malangan yang dijadikan souvenir dengan bahan fiber.
Wanita yang mendirikan galeri seni sejak 2000 ini mengungkapkan, pada tahun-tahun belakangan minat pembeli terbanyak adalah souvenir topeng Malangan yang dibuat lebih kecil dari ukuran aslinya. Berbahan fiber atau kayu kemudian diberi hiasan bingkai seperi kaca atau pigura.
“Yang seperti ini sering dijadikan cinderamata untuk tamu undangan atau orang-orang penting sebagai oleh-oleh mahal,” bebernya.
Ia menambahkan, topeng Malangan dalam bentuk souvenir rata-rata dibandrol Rp 200 ribu sampai Rp 450 ribu. Tergantung model dan bahan serta budget pemesan. Dia mengungkapkan, order terbanyak rata-rata datang dari instansi sekolah, perguruan tinggi maupun instansi pemerintahan.
Selain topeng Malangan, Galeri Seni Kria Sigit Margono menyediakan koleksi barang tradisional khas Malang lain, di antaranya perangko zaman dahulu, uang lama, keris dan senjata tradisional. “Memang banyak warga lokal yang datang berkunjung ke sini, tetapi warga asing malah lebih antusias. Saya berharap suatu kelak nanti, kerajinan topeng Malang tidak hanya jago kandang. Tetapi dapat juga mendunia,” pungkas Titik. (mg9/han)