September, Puncak Wisawatan Asing

MALANG - Usaha perjalanan wisata menjadi salah satu sektor yang dianggap kuat menghadapi lemahnya kondisi ekonomi yang terjadi di tanah air saat ini. Hal ini pun masih terbukti dengan tingginya minat wisatawan untuk berlibur, termasuk dari luar negeri. Juli sampai September tahun ini yang menjadi peak season layanan wisata.
Ketua Himpunan Pramuwisata Jawa Timur, Nazarudin Priantono menjelaskan, usaha wisata termasuk paling bisa bertahan di tengah kondisi sulit, seperti pelemahan rupiah saat ini. "Hingga Juli lalu, kondisi wisata masih bagus dengan perbandingan periode yang sama tahun lalu," ujarnya.
Menurut dia, jasa wisata memang sempat tidak begitu bagus di triwulan pertama. Akan tetapi, begitu memasuki Mei-Juni, kondisi sudah membaik, sekalipun banyak sektor bisnis masih lemah. "Liburan sekolah di tanah air tetap menunjukkan antusias tinggi masyarakat, baik untuk perjalanan dalam dan luar negeri," sebut Priantono.
Dia menuturkan, setelah wisatawan lokal yang memenuhi permintaan wisata Juli-Agustus berubah menjadi wisatasan mancanegara. Puncaknya akan terjadi di September, baik wisatawan Eropa maupun Asia. "Dari catatan wisata travel agent, antara Juli-September sebagian besar memang dari luar negeri, dan mereka datang ke Indonesia. Malang termasuk tujuan favorit," beber dia kepada Malang Post.
Dia mengakui, bulan-bulan ini merupakan masa panen bagi travel agent, sebelum akan sepi antara Oktober-November. Di bulan itu, ditambahkannya, orang Indonesia yang berlibur ke luar negeri. Tetapi secara kuantitas tidak sebanyak wisatawan asing yang datang. "Permintaan wisata pun sudah dari bulan ini diajukan customer kepada biro perjalanan," tegasnya.
Secara keseluruhan, semester pertama lalu terjadi peningkatan 15 persen untuk perjalanan wisata ke seluruh wisata Jawa Timur. Destinasi favorit, paling tinggi ke Kota Batu, diikuti Gunung Bromo dan Gunung Ijen.
"Kota Batu kini menjadi tujuan utama wisata karena lengkapnya wahana. Gunung Bromo tetap stabil dari tahun ke tahun. Malang Raya sangat menjadi prioritas untuk berlibur," urai dia panjang lebar.
Untuk wisatawan asing, paling tinggi datang dari Belanda, diikuti Tiongkok, Perancis, Jerman dan Amerika. Terkait kondisi ekonomi di Indonesia, pelemahan rupiah justru menguntungkan. Pasalnya, dana yang dimiliki akan lebih dihargai mahal ketika di Indonesia. Sebab, selain terhadap dolar AS, pelemahan juga terjadi bagi mata uang global seperti Euro.
Terpisah, Owner QA Holiday, Kiky Andhika mengakui puncak liburan antara Juli sampai September. Mulai berkuramg di Oktober, namun masih tetap ada perjalanan tak terkecuali ke luar negeri. "Untuk bulan ini terhitung banyak melayani grup untuk liburan di seputar Malang. Sedangkan untuk wisata luar negeri, September mulai ramai," ujarnya.
Liburan ke luar negeri seperti Singapura, Malayasia hingga Thailand, banyak terjadi Oktober mendatang, baik pribadi maupun grup. (ley/han)