Setujui Teh Diperdagangkan di Bursa

MALANG POST - Badan Pengawas Perdangan Berjangka Komoditi (Bappebti) telah menyetujui teh sebagai salah satu komoditi yang diperdagangkan di bursa berjangka komoditi. Bappebti pun merilis peningkatan transaksi di bursa (multilateral) Januari Juli 2014 sebesar Rp 10,39 triliun menjadi Rp 11,55 triliun pada Januari-Juli 2015 atau meningkat 11,17 persen.
"Untuk komoditi teh kita sudah setujui, sekarang tinggal dibuat aturan mainnya, paling tidak 2 bulan nanti itu sudah bisa diperdagangkan,” kata Kepala Badan Pengawas Perdangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementrian Perdagangan Sutriono Edi di Jakarta, Rabu (9/9).
Sutriono juga mengungkapkan, Bappebti telah mendorong bursa meningkatkan transaksi fisik dan berjangka untuk komoditi unggulan ekspor Indonesia seperti Crude Palm Oil (CPO), Olein, Kopi, Kakao, Timah serta mengkaji kontrak baru seperti teh, pala dan rumput laut.
Salah satu bentuk komitmen peningkatan transkasi multilateral adalah peningkatan kontrak kopi robusta berjangka di Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) di bulan Agustus sebanyak 104,97 persen menjadi 23.022 lot dibandingkan dengan Juli sebesar 11.320 lot. Lonjakan transaksi ini didukung pelaku pasar yang melakukan lindung nilai menjelang puncak panen raya kopi.
Adapun untuk komoditi CPO, harga yang terjadi dalam Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI) sudah dipakai menjadi harga referensi oleh dunia usaha, maupun dalam penentuan Harga Patokan Ekspor (HPE) sebagai harga acuan. Penetapan HPE CPO mulai 1 Juli 2013 sudah mengacu bursa dalam negeri dengan komposisi 60 persen bursa Indonesia, 20 persen bursa Kuala Lumpur dan 20 persen bursa Rotterdam.
"Kita juga memiliki komiditi timah yang banyak dihasilkan di Indonesia dimana nantinya harga yang ditetapkan di bursa komiditi kita akan menjadi patokan harga dunia,” imbuhnya.
Triono mengatakan, pihaknya pun berkomitmen  mendorong ekspor-ekspor pertanian yang memiliki potensi dalam memberikan harapan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam situasi yang sulit melalui pembinaan, pengaturan dan pengawasan Sistem Resi Gudang (SRG).
Dijelaskannya, untuk meningkatkan pemanfaatan SRG oleh masyarakat, Bappebti tidak hanya mendorong pelaksanaan SRG untuk komoditias yang mendukung ketahanan pangan seperti komoditas Gabah, Beras dan Jagung, tapi juga untuk komoditas rotan dan rumput laut yang memiliki keterkaitan dengan  jutaan tenaga kerja dan kehidupan petani.
Pemanfaatan SRG untuk komoditas rotan dilakukan dengan pilot project di sentra hulu, yaitu Katingan dan Palu sebagai lokasi produksi utama rotan dan sentra hilir di daerah Cirebon sebagai sentra industri rotan. Sedangkan untuk mendorong pelaksanaan SRG rumput laut, Bappebti telah memberikan persetujuan kepada gudang milik Kospermindo, PT Rika Rayhan Mandiri dan gudang Koperasi Agro Niaga sebagai gudang SRG.
"Diharapkan melalui gudang-gudang ini maka SRG dapat dimanfaatkan secara optimal tidak hanya oleh kalangan industry tetapi juga para petani rumput laut,” terangnya.
Selain itu, untuk meningkatakn kinerja Pasar Lelang Komoditas, Bappebti sedang melakukan pembangunan Aplikasi Pasar Lelang Komoditas Terpadu. Aplikasi ini dapat mengintegrasikan data anggota, menyebarluaskan informasi pasar dari seluruh penyelenggara Pasar Lelang Komoditas dan memungkinkan transaksi secara online.
"Melalui integrasi system tersebut, Pasar Lelang Komoditas diharapkan membantu pemasaran seluruh komoditas yang disimpan di gudang SRG. Dengan dukungan system informasi pasar lelang yang handal dan terintegrasinya system Resi Gudang dan Pasar Komoditas, maka pasar lelang dapat menjadi salah satu sarana efisiensi mata rantai perdagangan dan pengendalian inflasi seperti yang diharapkan Presiden Jokowi,” pungkasnya.(rm/han)