Permintaan Dolar AS Masih Tinggi, Rupiah Kembali Tertekan

JAKARTA - Kondisi nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga akhir tahun 2015 diperkirakan tidak akan menembus level Rp 15 ribu per USD. Posisi nilai tukar rupiah ini akan melampaui jauh dari target APBN-P 2015 Rp 12.500 per USD.
Menurut Chief economist PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) Destry Damayanti, pergerakan Rupiah terhadap dolar AS masih akan melemah dan bergerak di kisaran Rp 14.500 hingga Rp 14.800 per USD hingga akhir tahun.
"Kita setuju pertumbuhan ekonomi 4,8 persen tahun ini. Kalau kurs di level Rp14.500-Rp14.800 per USD," kata Destry di Plaza Mandiri, Jakarta, Senin (21/9/2015).
Destry menjelaskan, masih melemahnya nilai tukar Rupiah ini terjadi karena dua sebab. Pertama, China yang masih diperkirakan melemahkan mata uangnya. Selain itu, diperkirakan mendekati akhir tahun permintaan dolar AS semakin tinggi untuk pembayaran utang yang jatuh tempo.
"Kebutuhan tiga, empat bulan untuk bayar utang," jelasnya.
Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), juga belum dapat menguatkan kinerja ekspor, seperti yang diharapkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) beberapa waktu lalu.
Menurut Head of Macroeconomic and Financial Research PT Mandiri Sekuritas Andry Asmoro volatilitas Rupiah terhadap dolar AS mengalami depresiasi secara berkelanjutan, akan tetapi kondisi tersebut tidak akan mampu mendongkrak kinerja ekspor secara optimal.
"Apakah depresiasi Rupiah selama ini bisa mendorong kinerja ekspor? Kami menjawab tidak. Karena, ekspor kita sangat tergantung pada komoditas," kata Asmoro di Plaza Mandiri, Jakarta.
Asmoro menjelaskan, pelemahan Rupiah yang seharusnya mampu mendorong nilai ekspor nasional tidak akan terjadi pada tahun ini. Pasalnya, komoditas yang menjadi andalah ekspor terus mengalami penurunan harga.
Dengan keadaan tersebut, pertumbuhan ekonomi dari komponen perdagangan internasional akan tidak terlalu berkontribusi pada tahun ini. Asmoro menyebutkan, kontributor terbesar masih ada pada komponen konsumsi masyarakat dan investasi.
Tidak hanya itu, kedua komponen pertumbuhan ekonomi tersebut akan lebih besar ditopang oleh sektor pertanian dan konstruksi. "Makanan dan minuman masih menjadi domestic oriented bagi ekonomi Indonesia," paparnya. Di sisi lain, dirinya memperkirakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2015 sebesar 4,8 persen dan sebesar 5 persen pada 2016. "Ekonomi bisa lebih tinggi tergantung dari tingkat permintaan komoditas global," tukasnya. (oke/aim)