Bupati Resmikan Bedah Warung Alfamart

MALANG - PT Sumber Alfaria Trijaya (SAT) Tbk melakukan Bedah Warung sebagai bentuk Corporate Social Responsibility (CSR), pada lima warung kelontong di Kecamatan Dau. Jumlah itu akan terus dikembangkan di kecamatan-kecamatan lainnya di Kabupaten Malang.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Alfamart yang membantu merenovasi warung milik warga. Mudah-mudahan sinergi minimarket dengan warung kelontong ini bisa menggerakkan perekonomian masyarakat,” ujar Bupati Malang H. Rendra Kresna, usai meresmikan Bedah Warung Alfamart di Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.
Selain di Dau, Alfamart juga melakukan Bedah Warung pula di beberapa kecamatan lain di Kabupaten Malang. Branch Manager PT SAT Malang, Dwesti Suhascaryo menyebutkan, Bedah Warung tersebut untuk mendukung Program Ayo Kerja Mbangun Desa yang digagas Badan Pelayanan Perizinan Terpadu Pemkab Malang, Jawa Timur (Jatim).
''Sejauh ini, setidaknya kami telah melakukan kegiatan bedah warung di 25 toko kelontong, yang sebagian besar tersebar di wilayah Kabupaten Malang,'' ungkapnya.
Dari total 25 warung tersebut lima diantaranya berada di wilayah Kecamatan Dau. “Sedangkan sisanya diantaranya tersebar di kecamatan Sumbermanjing Wetan, Pagelaran, Tumpang dan Kepanjen," kata Dwesti, Senin (21/9) kemarin.
Bedah Warung di Kecamatan Dau, lanjut dia, telah dilakukan sejak pekan lalu dan diresmikan oleh Bupati Malang Rendra Kresna. Lima warung yang dibedah itu milik Piah, Sripah dan Lasirun ketiganya warga Desa Sabar, serta Nuriani dan Dati keduanya warga Desa Gading Kulon Kecamatan Dau.
Menurut Dwesti kegiatan Bedah Warung dilakukan kepada pemilik warung, khususnya menjadi anggota Store Sales Point (SSP). Saat ini di wilayah Malang Raya terdapat 4.900 anggota SSP.
Ditambahkannya, selain Bedah Warung, Alfamart juga menggelar program sosial untuk masyarakat berupa pelatihan manajemen ritel modern. Pelatihan digelar untuk meningkatkan pengetahuan para pedagang warung mengenai manajemen ritel modern. Salah satu materinya adalah tentang standarisasi produk di pasar ritel.
"Karena selama ini antusias pelaku UMKM untuk memasarkan produk di jaringan ritel modern sangat tinggi, namun banyak produk yang belum memenuhi standar," tambah dia. (ley/aim)