Pendidikan, Penyebab Utama Inflasi September

Biaya pendidikan tahun ajaran baru menyumbangkan inflasi tertinggi di Kota Malang.

MALANG – Biaya pendidikan tahun ajaran baru untuk Akademi dan Perguruan Tinggi menjadi penunjang terbesar terjadinya inflasi 0,21 persen di Kota Malang pada September lalu. Biaya pendidikan ini mengalahkan harga beras dan mobil yang mengalami kenaikan sejak bulan lalu seiring tingginya nilai tukar dolar terhadap rupiah.
Kepala Divisi Statistik Distribusi BPS Kota Malang, Erni Fatma Setyaharini mengatakan, dimulainya tahun ajaran baru bagi mahasiswa, baik kategori mahasiswa baru maupun lama, menjadi penyebab utama terjadinya inflasi. “Kelompok pendidikan ini, tergabung dengan rekreasi dan olahraga yang mengalami inflasi sebesar 3,66 persen. Kenaikan angka indeks menjadi 117,71 persen dari bulan sebelumnya hanya 113,55 persen membuat sumbangan inflasi sebesar 0,34 persen,” katanya.
Menurut dia, dari delapan kota di Jawa Timur, semuanya dipastikan mengalami inflasi. Tercatat, paling tinggi terjadi di Jember sebesar 0,29 persen, diikuti Surabaya dan Kediri sebesar 0,26 persen. Kota berikutnya merupakan Probolinggo dengan angka inflasi 0,23 persen dan kemudian Kota Malang. Inflasi terendah, terjadi di Sumenep sebesar 0,13 persen, di bawah Banyuwangi dan Madiun.
Erni menuturkan, jika melihat catatan inflasi ini, sepanjang September lalu masih terhitung terkontrol ketika melihat kondisi perekonomian yang tengah melambat. Sebab bulan lalu, komoditas seperti beras mengalami kenaikan harga, rokok kretek dan bawang putih mengalami kenaikan harga. Sementara, komoditas emas perhiasan, mobil dan telepon seluler pun mulai mengalami hal serupa.
Barang yang didatangkan impor, baik bahan baku maupun barang jadi, banyak yang mengalami kenaikan harga ketika rupiah melemah. Selain itu, pasokan beras di pasar berkurang membuat harga beras sedikit melonjak terjadi karena beberapa lumbung panen beras mengalami gagal panen. Misalnya di Kabupaten Gresik, Bojonegoro, Lamongan, Pasuruan dan Kabupaten Malang.
Sebaliknya, inflasi sedikit tertahan dengan penurunan harga pada beberapa komoditas terbesar seperti angkutan udara, daging ayam ras, cabai merah, minyak goreng, tarif kereta api, telur ayam ras, tomat sayur, bawang merah, kentang hingga penurunan harga Pertamax.
Secara keseluruhan, tingkat inflasi tahun kalender September 2015 sebesar 2,21 persen. Sedangkan tingkat inflasi tahun ke tahun (September 2015 terhadap September 2014) sebesar 6,99 persen.
Erni menyebutkan, sepanjang September lalu, sebenarnya harga emas dunia beberapa kali mengalami penurunan. Akan tetapi, emas masih dianggap menjadi barang aman untuk investasi ketika ekonomi lesu. “Makanya, emas termasuk 10 komoditas teratas yang mengalami kenaikan harga dan menyumbang inflasi,” urainya.(ley/han)