Okupansi Hotel Turun

MALANG – Low season bisnis perhotelan mulai dirasakan sejak medio September lalu. Selain faktor tren tahunan, rendahnya okupansi (tingkat keterisian kamar) juga disebabkan lesunya berbagai sektor bisnis sepanjang 2015 ini.
Marketing Communication Manager Harris Hotel and Convention Center, Nicky Olivia menuturkan, bulan lalu, keterisian kamar turun ketimbang Agustus. “Terjadi penurunan sebesar empat persen dibanding bulan sebelumnya. Dari 69 persen kini menjadi 65 persen saja,” tuturnya.
Menurut dia, jika dibandingkan dengan periode yang sama, malah jauh lebih turun lagi. Pasalnya, September tahun lalu Harris Hotel masih mencatatkan okupansi sebesar 75 persen. Angka yang sama pun sejatinya dipatok di tahun ini.
“September lalu, ketika melihat tren okupansi di semester kedua dan setelah libur lebaran, kami mematok capaian seperti 2014 lalu. Tetapi memang hasilnya lebih sepi,” beber dia kepada Malang Post.
Nicky menerangkan, September hingga November, kerap dirasakan sebagai low season bagi bisnis perhotelan. Angka akan mulai membaik ketika Desember, terutama setelah pertengahan bulan karena beberapa tamu sudah masuk liburan. Selain liburan, tamu corporate sering mengadakan momen gathering.
Menurutnya, tahun ini bisnis perhotelan dan hampir semua sektor bisnis mengalami penurunan. Bahkan dia memprediksi, Oktober ini angka bisa lebih rendah. Dia menambahkan, sepanjang September lalu, terutama di dua pekan pertama, hotel masih was-was akan keterisian hunian. Bisnis ini hanya berharap maksimal menerima tamu ketika akhir pekan tiba, dengan rerata okupansi 80 persen di masa weekend.
“Tetapi di pertengahan bulan, kami tertolong ada liburan di tengah pekan. Beberapa tamu, memanfaatkannya sebagai long weekend dan tingkat hunian bagus. Selain itu, pekan terakhir September ada beberapa acara corporate,” urai dia panjang lebar.
Terpisah, General Manager The Balava Hotel, Rudy Rinanto mengatakan hal yang sama. Jika tahun ini, bisnis hotel pun terhitung menurun, terutama ketika melihat tingkat huniannya. “Jangan dijadikan patokan ketika weekend, sebab pasti isinya bisa di atas 70 persen. Saat weekday, ya rendah,” katanya.
Menurut dia, sebagian besar hotel di Malang dilihat dari city occupancy, keterisian kamarnya di kisaran 40-50 persen. “Masa liburan sudah berakhir, tinggal berharap event perusahaan atau tamu walk in saja. Tetapi, hasilnya ya tidak sebagus sebelum-sebelumnya,” jelasnya.
Rudy mengakui, hal ini akan berlanjut sampai dua bulan, jelang akhir tahun. Okupansi akan sedikit membaik ketika momen Natal dan tahun baru, dan kembali low di dua bulan pertama tahun depan. Masa tersebut, diakuinya, akan dimanfaatkan oleh hotel untuk memaksimalkan pendapatan dari sektor lain, misalnya MICE dan sisi food and beverages (F and B) demi menjaga stabilitas pendapatan.
Sementara itu, Best Western OJ Hotel, di September lalu menutup bulan dengan catatan okupansi 70 persen. Angka ini, lebih rendah dari target sebesar 75 persen. “Ya belum sesuai target, namun kami masih tertolong dengan beberapa event di Malang agar okupansi masih bagus sekalipun low season,” ujar Marcom Manager BW OJ, Ledya Shelfy. (ley/han)