Properti Lesu, Pengembang Mulai Lepas Target

MALANG – Pebisnis properti mulai menyerah dengan keadaan penjualan yang lesu sepanjang tahun ini. Pasalnya, semester kedua yang biasa digadang sebagai masa panen bagi bisnis tersebut, hingga memasuki triwulan terakhir, masih tak kunjung membaik.
Sekjen DPP Realestate Indonesia (REI) Tri Wediyanto menuturkan, tahun ini properti bisa dikatakan jatuh. Penurunan terjadi sejak awal tahun dan terus berlanjut hingga menjelang berakhirnya tahun ini. “Properti menjadi satu bisnis yang paling lesu di tahun ini. Penurunan terhitung besar, banyak hantaman yang terjadi termasuk dolar yang masih perkasa dua bulan ini,” tuturnya.
Menurut dia, hingga akhir September, proyek properti dan sales dari pengembang, turun mencapai 20 persen dan menunjukkan lesunya bisnis ini, seiring dengan lesunya ekonomi. Semester pertama lalu, pengembang masih memaklumi ketika terjadi penurunan mencapai 30 persen. “Biasanya, memang antusias user akan naik pasca tahun ajaran baru dan lebaran atau di semester kedua,” beber dia kepada Malang Post.
Akan tetapi, di tahun ini, ketika semester kedua sudah berjalan setengah perjalanan, permasalahan baru di bidang ekonomi terjadi. Rupiah melemah terhadap dolar, dan berdampak besar pada bisnis perumahan dan apartemen. Pembangunan yang dilakukan pengembang terpaksa ditahan karena tingginya harga bahan baku.
“Beberapa bahan bangunan mengalami kenaikan sejak September lalu. Makanya, bisa dipastikan tahun ini sulit untuk menggapai pertumbuhan di sektor properti. Terutama untuk rumah komersial, yang dibeli oleh user sebagai sarana investasi,” urai Tri panjang lebar.
Dia menjelaskan, pengembang pun mulai melakukan wait and see. Mereka baru membangun, misalnya bagi yang bergerak di sektor perumahan, ketika ada permintaan pembelian rumah. Infrastruktur, bagi bisnis yang baru pun, tidak lagi diprioritaskan karena pasti menambah biaya. “Intinya di tahun ini, pasti turun. Malahan, wajar jika developer cenderung melepas target di tahun ini, termasuk di tempat kami,” tutur bos PT Kharisma Karangploso itu.
Tri menambahkan, hal tersebut pun berpengaruh pada bisnis perumahan murah. Meskipun tidak terlalu besar layaknya rumah komersial, terjadi penurunan. Terpisah, Ketua Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Malang, Mahrus Sholeh pun tidak menampik jika tahun ini bisnis properti lebih sulit ketimbang tahun lalu. “Rumah murah juga terdampak penyalurannya kepada user. Tahun ini lebih sepi, namun masih lebih baik lah daripada rumah komersial,” beber dia.
Menurut dia, untuk saat ini, penjualan turun sekitar 10 persen. Hasil itu masih lebih baik daripada semester satu lalu. Adanya stimulus pemerintah kepada pengembang, dengan menaikkan harga jual dan pengembang menjaga mutu bangunan, turut mempengaruhi. “Harga yang naik, jadi salah satu faktor peningkatan yang terjadi di semester kedua ini. Meskipun tidak besar, menjadi Rp 115 juta sebagai batas atasnya, hal itu membuat pengembang mau lagi berbisnis rumah murah karena masih bisa mendapatkan keuntungan,” urainya.
Selain itu, untuk rumah murah, diakui Mahrus, bisa lebih baik penjualannya karena rumah ini diburu user untuk kebutuhan. Pembeli merupakan user yang membutuhkan rumah pertama dengan bandrol yang tidak terlalu tinggi. (ley/han)