Permintaan Wisata ke Luar Negeri Masih Sepi

MALANG – Memasuki triwulan terakhir 2015, jasa perjalanan wisata masih was-was melihat perkembangan bisnisnya. Pasalnya, hampir sepekan berjalan, permintaan wisata ke luar negeri terhitung lesu, berbeda dengan periode yang sama tahun lalu.
Owner QA Holiday Tour and Travel, Kiky Andika menuturkan, medio Oktober biasanya sudah ramai akan permintaan perjalanan wisata, terutama ke luar negeri. Akan tetapi, kondisi berbeda terjadi di tahun ini. Tujuan wisata favorit pun, masih minim permintaan. “Sepertinya tahun ini lebih lambat. Hampir seminggu, masih 1-2 permintaan saja untuk liburan ke luar negeri, untuk periode November- Desember nanti,” tuturnya.
Dia menjelaskan, bisnis perjalanan wisata, setiap tahunnya seolah sudah memiliki pakem dalam layanan kepada customer. Ketika momen liburan pertengahan tahun, maka liburan dalam negeri terhitung mendominasi. Medio Juni-Agustus, permintaan liburan domestik juga tinggi dari wisatawan asing.
“Setelah itu sedikit berkurang di September dan mulai meningkat ketika akhir Oktober. Tetapi, awal bulan ini masih minim reservasi atau permintaan,” beber dia kepada Malang Post.
Menurut dia, destinasi favorit seperti Korea, Thailand dan Singapura, masih kompak sepi permintaan. Bilapun ada, perjalanan masih di pertengahan November mendatang dan lebih sedikit ketimbang tahun lalu. “Biasanya, ke Thailand misalnya, akhir Oktober itu menjadi masa favorit. Sementara, ke Korea akan terjadi mulai akhir November, ketika musim dingin tiba,” urainya.
Dia memprediksi, kurs dolar yang masih tinggi mempengaruhi minat customer. Pasalnya, patokan harga yang ditawarkan pun masih terhitung tinggi, sehingga masih banyak yang menunggu ada penurunan harga. “Beberapa customer loyal, ketika mendapati informasi harga terbaru, masih banyak yang tunggu perkembangan terbaru,” jelasnya.
Terpisah, Marketing Manager K.I.A Tours and Travel, Tri Agus Subekti, mengakui hal yang hampir sama.  Oktober yang biasa menjadi momen peningkatan sales, masih belum dialami oleh jasa wisata di Jalan Letjen Sutoyo itu. “Masih terlalu awal untuk menyampaikan sepi atau tidak. Tetapi, hingga sekarang turun ketimbang tahun lalu,” ujarnya.
Menurutnya, dolar menjadi faktor kuat yang membuat minat customer menurun. Sebab, momen liburan akhir tahun ini, patokan harga yang digunakan Rp 14.200 per dolar. Sementara, ketika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, kurs yang digunakan sebesar Rp 12.000 per dolar.
Dia mengakui, untuk saat ini, Korea Selatan menjadi salah satu destinasi favorit. Negara tersebut sementara mengungguli permintaan ke Thailand. “Sejak dua tahun terakhir, K.I.A memang menjadi pilihan bagi calon wisatawan yang ingin berlibur ke Korea,” jelas dia.
Menurut dia, Korea Selatan menawarkan liburan yang terhitung beragam dengan empat musim yang dimiliki. Namun musim dingin, musim gugur dan musim semi merupakan saat favorit untuk berlibur. “Desember-Januari merupakan musim dingin. Itu yang paling ramai. Setelah itu musim gugur antara Oktober November dan musim semi di pertengahan tahun,” urainya panjang lebar.
Dia menuturkan, Oktober ini sudah ada enam jadwal grup yang terbang ke Korea. Sementara untuk November, dia mengakui sudah dua kali lipatnya. Untuk momen winter di akhir tahun, diakuinya K.I.A memiliki beberapa macam paket. Misalkan Shocking Offer Korea Crazy Deal, Winter Mono Korea hingga Amazing Winter Korea Jeju.
“Jadwal paling banyak memang Desember sudah ada 12 jadwal. Mulai dari awal bulan hingga akhir bulan dan terus berlanjut hingga Januari,” tambahnya.
Namun dari jadwal tersebut, masih belum terisi penuh. Pasalnya, setiap kali keberangkatan K.I.A minimal dengan 15 peserta. Jika kurang, maka akan digabungkan dengan kota lain seperti Jakarta dan Surabaya. Hingga kini, kuota masih terisi di bawah 20 persen. “Padahal, biasanya sudah terisi sekitar 30 persen dari keseluruhan jadwal sebelum akhir tahun,” pungkas dia. (ley/han)