UKM Lebih Positif Hadapi Penguatan Dolar

MALANG – Kurs dolar yang tinggi terhadap rupiah, tidak selalu dipandang negatif oleh sektor bisnis. Sekalipun omzet atau penjualan beberapa pebisnis lebih sepi, masa penguatan dolar di semester kedua tahun ini dianggap positif bagi bisnis Usaha Kecil Menengah (UKM), salah satunya bisnis batik lokal.
Owner Batik Dharma Raharja, Agus Kristiawan mengakui, jika penjualan batik di tahun ini masih terhitung bagus. “Memang daya beli masyarakat lebih turun, tetapi omzet kami tidak terlalu jatuh,” ujarnya.
Menurut dia, selama tiga bulan ini omzet bisnisnya masih normal. Sebab penurunan maksimal di angka 10 persen dibanding momen yang sama di tahun lalu. “Penghitungannya masih antara 4-6 persen saja. Tetapi, jika melihat sektor lain, kami masih beruntung,” sebutnya.
Menurut pria asal Solo ini, customer dan juga perajin batik bisa menyiasati daya beli yang menurun. Yakni dengan memproduksi kain batik yang lebih murah dan terjangkau dengan penghitungan tertentu sehingga tidak sampai mengalami kerugian. “Misalnya dengan memproduksi batik printing tetapi khas dari kota tertentu. Selain itu, bisa memadukan cap dan tulis,” jelas dia.
Dia menyebutkan, harga batik tulis memang terhitung tinggi. Solusinya, membuat motif yang lebih sederhana, dengan sentuhan detil tulis yang minimalis. “Tetapi, masih bisa lah untuk memproduksi batik tulis yang rumit, menyesuaikan permintaan pasar lebih dulu,” urainya.
Menurut Agus, batik printing pun sejatinya tidak kalah. Termasuk di Dharma Raharja, koleksi batik printing bisa dijual dengan harga Rp 50 ribu per dua meter. Harga tersebut, diakuinya kini bisa bersaing dengan koleksi batik impor yang juga masuk ke Indonesia.
“Nah, keuntungan dolar tinggi, batik impor kini kan meningkat harganya. Manfaat bagi perajin lokal untuk membuat batik bagus, tetapi dengan harga bersaing,” tambah dia.
Terpisah, pengamat ekonomi Sugeng Suroto mengakui, sektor UKM memang lebih kuat ketika menghadapi masa yang hampir mendekati krisis. “Terutama sektor yang minim menggunakan barang impor, pasti tidak terkendala,” jelasnya.
Kendala yang dihadapi oleh UMKM hanya cara menjual. Ketika daya beli menurun, menurutnya, tinggal cara sektor bisnis tetap menarik customer untuk membeli produknya. “Misalnya batik. Di Malang, ada beberapa produsen dan masih tetap produksi dan memanfaatkan momen seperti ini. Bisa juga dipadukan dengan wisata membatik, itu kan nilai lebih,” urainya.
Menurut Sugeng, harga tinggi untuk produksi batik tulis, tidak menjadi masalah. Sebab beberapa customer juga masih tidak memperhitungkan harga. “Misalkan wisatawan yang ke Malang, mereka masih tetap berburu batik Malangan. Yang ciri khas dan menjadi buruan buah tangan, sayang jika tidak diproduksi,” imbuh dia.
Dia menuturkan, apabila harga yang menjadi produksi, perajin bisa memanfaatkan bahan baku dari alam. Seperti perajin di Madura yang justru memanfaatkan beberapa dedaunan untuk pewarnaan dan terkesan lebih alami.
Hal itu pun sama dengan sektor UKM lain. Proses produksi yang tidak terlalu tinggi dan tidak bergantung dengan kurs dolar, membuat bisnis ini masih bagus. Di perbankan pun, penyaluran kredit untuk UMKM masih terhitung stabil ketimbang sektor lain. Sugeng yang juga analis bisnis di salah satu bank di Malang itu menyampaikan, pelaku usaha kecil justru tertolong dengan terhambatnya laju barang impor ke tanah air. “Lebih bagus lagi, jika mereka bisa memanfaatkan produk menjadi barang ekspor,” pungkas Sugeng. (ley/han)