Rupiah Mulai Perkasa, IHSG Menguat

MALANG – Pasar saham dan rupiah terus berjalan beriringan dan mengalami penguatan dalam perdagangan di tengah pekan ini. Rabu (7/10/15) kemarin, rupiah menguat ke level Rp 13.740 per dolar AS. Sementara, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) parkir menghijau di level 4.462 poin. Sentimen positif pasar terus berlanjut pasca pengumuman paket kebijakan ekonomi. Sebaliknya, kondisi negatif sedang terjadi di Amerika Serikat, yang disertai dengan aksi window dressing dari pelaku pasar modal.
Analis Batavia Prosperindo M. Oryzanto mengatakan, secara kasat mata, paket kebijakan II untuk perekonomian merupakan penyebab utama. Akan tetapi, ada faktor kuat yang turut menguatkan rupiah terhadap dolar dalam beberapa hari ini. “Paling utama di AS, sentimen dari kinerja data ketenagakerjaan di bawah ekspetasi. Sementara, dari dalam negeri memang kebijakan ekonomi terbaru turut mempengaruhi, termasuk paket kebijakan II terkait investasi,” katanya.
Menurut dia, dari kinerja di AS yang terhitung stagnan, membuat berbagai mata uang yang sebelumnya terdepresiasi, termasuk Indonesia dengan tingkat yang dalam, berangsur membaik. Laju pertumbuhan ekonomi AS kini tertahan dan The Fed pun turut menunda penaikan suku bunga. “Hasilnya, hampir seluruh bursa regional mencatatkan lemahnya dolar AS,” tegas dia.
Pria yang akrab disapa Ory ini menuturkan, berdasarkan analisisnya, penguatan dolar sudah mencapai puncaknya ketika mendekati level Rp 15.000. Ketika kini mulai turun, kondisi cenderung akan bergerak di kisaran Rp 13.500 sampai dengan Rp 14.700.
“Kondisi puncak dolar AS sudah berhasil teratasi. Hingga akhir tahun ini, perkiraan rupiah akan berada turun mencapai Rp 13.500 per dolar AS,” beber dia kepada Malang Post.
Sementara itu, IHSG pun akhirnya kemarin ditutup dengan posisi menghijau, mengimbangi penguatan dolar. Sempat menjadi sasaran aksi profit taking (ambil untung) dari investor serta melemah di penutupan perdagangan sesi pertama, saham gabungan akhirnya ditutup menguat 0,37 persen.
“Tadi (kemarin, red) sempat ada ketakutan aksi profit taking dan terbukti, turun 17 poin ketika siang hari. Tetapi, jelang penutupan kembali menguat,” imbuh Ory.
Menurut dia, setelah beberapa hari menguat, pelaku pasar modal mesti mewaspadai perdagangan di dua hari terakhir. Aksi profit taking diprediksi masih terjadi dan bisa membuat IHSG berada di zona merah. “Selain itu, manuver window dressing dari emiten patut diwaspadai,” tambahnya.
Terpisah, Manager SucorInvest Malang, Agus Prianto mengakui, mesti hati-hati di akhir pekan ini. Jika biasanya terjadi rebound setelah saham turun, pekan ini bisa terjadi hal serupa namun dengan nilai negatif. Dia merekomendasikan saham blue chip atau unggulan di pekan ini. “Tetapi, beberapa saham second line bisa dipilih seperti Surya Semesta dan Kija,” sebut dia. (ley/han)